Beban Kerja Jadi Pemicu Utama Karyawan Ingin Resign, Studi di Perusahaan Transportasi Surabaya

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Surabaya - Beban kerja yang berlebihan terbukti menjadi faktor terkuat yang mendorong karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Kristanto, Asnawi, dan Arfani yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES). Penelitian yang melibatkan seluruh karyawan PT X, sebuah perusahaan transportasi di Surabaya, menunjukkan bahwa komunikasi internal yang baik dapat meningkatkan kepuasan kerja dan menekan niat karyawan untuk resign, sementara beban kerja yang tinggi justru secara langsung meningkatkan keinginan untuk keluar dari perusahaan. Temuan ini menjadi penting di tengah tingginya tingkat mobilitas tenaga kerja dan meningkatnya tantangan retensi karyawan di sektor logistik dan transportasi.

Industri transportasi dan logistik saat ini menghadapi perubahan besar akibat pertumbuhan perdagangan digital, meningkatnya permintaan layanan distribusi, serta persaingan bisnis yang semakin ketat. Perusahaan dituntut menjaga produktivitas tinggi, namun di saat yang sama harus mampu mempertahankan tenaga kerja yang kompeten. Tingginya tingkat pergantian karyawan atau turnover dapat meningkatkan biaya rekrutmen, mengganggu operasional, dan menurunkan kualitas layanan perusahaan.

Dalam konteks tersebut, faktor-faktor seperti lingkungan kerja fisik, komunikasi internal, beban kerja, dan kepuasan kerja menjadi aspek strategis yang perlu dikelola secara serius. Penelitian Kristanto, Asnawi, dan Arfani mencoba menjelaskan bagaimana ketiga faktor tersebut memengaruhi turnover intention atau niat karyawan untuk meninggalkan perusahaan.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 60 karyawan PT X yang berasal dari divisi operator, pengiriman, dan pengemudi. Karena jumlah karyawan relatif kecil, seluruh populasi dijadikan responden sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan kondisi perusahaan secara menyeluruh. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan pemodelan statistik untuk mengidentifikasi hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.

Profil responden menunjukkan bahwa mayoritas tenaga kerja di PT X masih berusia muda. Sebanyak 50 persen responden berusia 20–25 tahun, sementara 38,3 persen lainnya berusia 26–30 tahun. Sebagian besar karyawan juga memiliki masa kerja antara satu hingga tiga tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan didominasi oleh generasi muda yang secara umum memiliki mobilitas kerja lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih senior.

Hasil penelitian menemukan sejumlah fakta penting.

Pertama, komunikasi internal terbukti menjadi faktor paling kuat dalam meningkatkan kepuasan kerja. Komunikasi yang terbuka, transparan, dan memungkinkan karyawan menyampaikan pendapat secara aktif mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap organisasi. Menurut hasil analisis, komunikasi internal memiliki pengaruh positif paling besar terhadap kepuasan kerja dengan nilai statistik t sebesar 9,082.
Namun menariknya, komunikasi internal tidak berpengaruh langsung terhadap keinginan karyawan untuk resign. Pengaruh komunikasi baru terasa ketika berhasil meningkatkan kepuasan kerja. Dengan kata lain, komunikasi yang baik akan menurunkan niat resign apabila karyawan benar-benar merasa puas terhadap pekerjaannya.
Kedua, beban kerja menjadi faktor yang paling berbahaya bagi retensi karyawan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi beban kerja, semakin besar pula kemungkinan karyawan ingin meninggalkan perusahaan. Beban kerja bahkan menjadi variabel dengan pengaruh langsung paling kuat terhadap turnover intention. Karyawan yang menghadapi tekanan pekerjaan tinggi, terutama saat periode operasional sibuk, cenderung mengalami kelelahan dan mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain.
Ketiga, lingkungan kerja fisik juga memengaruhi kepuasan kerja dan niat resign, meskipun pengaruhnya tidak sebesar komunikasi internal maupun beban kerja. Penelitian menemukan bahwa kondisi lingkungan seperti kebisingan lalu lintas dan keamanan area parkir dapat memengaruhi kenyamanan bekerja. Menariknya, meskipun perusahaan telah menyediakan fasilitas kerja yang cukup baik, beberapa faktor lingkungan eksternal masih memicu ketidakpuasan karyawan.
Penelitian juga membuktikan bahwa kepuasan kerja memiliki peran penting dalam menurunkan niat resign. Karyawan yang merasa puas terhadap pekerjaannya cenderung memiliki keinginan lebih rendah untuk meninggalkan organisasi. Kepuasan kerja berfungsi sebagai "jalur psikologis" yang menghubungkan komunikasi internal dan lingkungan kerja dengan keputusan karyawan untuk bertahan atau keluar dari perusahaan.
Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan 64,1 persen variasi kepuasan kerja dan 21,2 persen variasi turnover intention karyawan. Hasil ini menunjukkan bahwa faktor-faktor organisasi memiliki kontribusi besar terhadap keputusan karyawan untuk tetap bekerja atau meninggalkan perusahaan.

Kristanto, Asnawi, dan Arfani menegaskan bahwa strategi retensi karyawan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan tunggal. Menurut para peneliti, komunikasi internal perlu diperkuat melalui koordinasi lintas divisi yang lebih rutin dan penyampaian informasi operasional yang lebih jelas. Pada saat yang sama, perusahaan juga perlu mengelola beban kerja secara sistematis, terutama selama periode operasional puncak, agar tekanan kerja tidak mendorong karyawan untuk keluar dari perusahaan.

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia usaha, khususnya sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan jasa. Perusahaan disarankan untuk secara rutin mengukur kepuasan kerja karyawan sebagai sistem deteksi dini terhadap potensi turnover. Selain itu, investasi pada sistem komunikasi internal, pengelolaan beban kerja, dan perbaikan lingkungan kerja dapat menjadi strategi efektif untuk mempertahankan tenaga kerja berkualitas di tengah persaingan pasar tenaga kerja yang semakin dinamis.

Profil Penulis

Kristanto merupakan akademisi dan peneliti di bidang manajemen sumber daya manusia dengan fokus kajian pada perilaku organisasi, kepuasan kerja, dan retensi karyawan.

Asnawi adalah peneliti yang menaruh perhatian pada manajemen organisasi, komunikasi internal, serta pengembangan sumber daya manusia.

Arfani merupakan akademisi yang memiliki kepakaran pada bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku kerja, dan strategi organisasi.

Sumber Penelitian

Kristanto, Asnawi, & Arfani. (2026). Pengaruh Physical Work Environment, Internal Communication, dan Workload terhadap Turnover Intention dengan Job Satisfaction sebagai Variabel Mediasi pada PT X Surabaya. Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES), Vol. 2 No. 3, 2026, hlm. 297–320.

Posting Komentar

0 Komentar