Audit Kinerja Bank Sumut Dinilai Belum Maksimal Dorong Reformasi Kebijakan

Ilustrasi by AI

Medan — Transformasi audit kinerja di Bank Sumut masih menghadapi tantangan besar. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah yang ditulis Annisa Rahim Edwar, Mukmin, Nia Syahfitri, Aghy Zwingly Dharma Ginting, dan M. Irsan Nasution dari Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Pascasarjana Universitas Pembangunan Panca Budi, dan dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Studi ini menyoroti bahwa audit kinerja di Bank Sumut belum sepenuhnya menjadi alat strategis untuk memperkuat tata kelola dan memperbaiki kebijakan perusahaan.

Dalam konteks BUMD, audit kinerja seharusnya tidak hanya memeriksa kepatuhan administrasi, tetapi juga memastikan efisiensi, efektivitas, dan dampak nyata terhadap organisasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik audit di Bank Sumut masih lebih banyak berfokus pada kepatuhan prosedural dibandingkan pembenahan strategis jangka panjang. Hal ini penting karena Bank Sumut merupakan salah satu BUMD strategis yang mengelola sumber daya publik dan berperan besar dalam pembangunan ekonomi Sumatera Utara.

Latar belakang penelitian ini muncul dari meningkatnya tuntutan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik di sektor publik. Audit kinerja kini dipandang sebagai alat penting untuk mengidentifikasi kelemahan organisasi, memperkuat sistem pengendalian internal, serta mendorong perbaikan kebijakan berbasis data. Namun dalam praktiknya, banyak audit justru berhenti pada perbaikan administratif tanpa menyentuh akar persoalan. Kondisi ini juga tercermin di Bank Sumut.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Tim peneliti menganalisis berbagai dokumen internal Bank Sumut, laporan tahunan, laporan tata kelola, laporan audit BPK, serta laporan manajemen risiko. Selain itu, peneliti juga menggabungkan kajian literatur sistematis dari berbagai jurnal nasional dan internasional untuk memperkuat analisis. Metode ini memungkinkan peneliti membandingkan kondisi nyata di Bank Sumut dengan perkembangan teori audit kinerja modern.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola audit yang masih bersifat administratif. Audit memang berjalan sesuai aturan, tetapi hasil audit belum banyak dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Salah satu contoh paling mencolok adalah temuan kredit bermasalah bernilai miliaran rupiah yang terus berulang. Dalam laporan audit BPK, ditemukan kredit macet di Kantor Cabang Tebing Tinggi senilai Rp15,34 miliar, serta kasus pinjaman modal kerja dengan potensi kerugian mencapai Rp23 miliar yang belum terselesaikan selama puluhan tahun.

Temuan ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan internal belum bekerja optimal. Audit sering kali hanya mendeteksi masalah setelah terjadi, bukan mencegahnya sejak awal. Peneliti menilai, kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara fungsi ideal audit kinerja dan implementasi nyata di lapangan.

Selain itu, penelitian juga menemukan lemahnya integrasi antara unit audit internal, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan bisnis. Dalam beberapa kasus, rekomendasi manajemen risiko tidak selalu menjadi dasar utama dalam persetujuan kredit. Ini menunjukkan budaya organisasi yang masih lebih menekankan formalitas dibandingkan pembelajaran strategis.

Menurut Annisa Rahim Edwar dan tim dari Universitas Pembangunan Panca Budi, transformasi audit kinerja harus mengarah pada pendekatan berbasis hasil (outcome-based audit). Dengan pendekatan ini, audit tidak lagi sekadar menjawab apakah organisasi sudah patuh aturan, tetapi apakah kebijakan yang diambil benar-benar efektif dan menghasilkan manfaat nyata.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam proses audit. Sistem monitoring berbasis data dan analitik dinilai dapat mempercepat identifikasi risiko dan membantu organisasi mengambil tindakan korektif sebelum masalah berkembang lebih besar. Penguatan kapasitas auditor melalui sertifikasi dan pelatihan juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi audit.

Dampak penelitian ini cukup luas. Bagi Bank Sumut, hasil studi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan efektivitas pengawasan. Bagi BUMD lain di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa audit kinerja harus diposisikan sebagai alat reformasi, bukan sekadar formalitas administratif. Dalam jangka panjang, transformasi audit yang lebih strategis dapat meningkatkan kepercayaan publik, menjaga keberlanjutan bisnis, dan memperkuat kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Profil Penulis
Annisa Rahim Edwar — Universitas Pembangunan Panca Budi
Mukmin — Universitas Pembangunan Panca Budi
Nia Syahfitri — Universitas Pembangunan Panca Budi
Aghy Zwingly Dharma Ginting — Universitas Pembangunan Panca Budi
M. Irsan Nasution — Universitas Pembangunan Panca Budi

Sumber Penelitian:
Performance Audit Transformation in Supporting Organizational Performance and Corporate Policy Improvement at Bank Sumut
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), 2026


Posting Komentar

0 Komentar