Kekerasan verbal terhadap anak perempuan di Parigi, Lombok, menjadi sorotan dalam riset terbaru yang dilakukan oleh Sely Rohmayuni dan Ellys Lestari Pambayun dari Universitas PTIQ Jakarta pada awal 2026. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) ini mengungkap bahwa pola komunikasi keluarga berbasis budaya patriarkal dan minimnya pemahaman komunikasi gender dalam perspektif Islam berperan besar dalam memicu kekerasan verbal oleh ayah kepada anak perempuan. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga hadir melalui kata-kata yang berdampak serius pada kesehatan mental anak.
Latar Belakang: Kekerasan Dimulai dari Rumah
Anak perempuan menempati posisi rentan dalam struktur keluarga dan sosial. Data nasional menunjukkan puluhan ribu kasus kekerasan terhadap anak setiap tahun, dengan mayoritas korban adalah perempuan. Di Lombok Timur, misalnya, tercatat ratusan kasus kekerasan terhadap anak dalam satu tahun terakhir.
Penelitian ini menegaskan bahwa kekerasan verbal sering kali berakar dari lingkungan keluarga sendiri. Faktor seperti stres pengasuhan, pola komunikasi yang keras, serta norma budaya yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama menjadi pemicu utama. Dalam banyak kasus, kekerasan verbal dianggap sebagai bagian dari “pendidikan” atau disiplin, sehingga tidak disadari sebagai bentuk kekerasan.
Metode: Studi Kasus pada Keluarga Muslim
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan terhadap lima kepala keluarga Muslim di Parigi, Lombok, selama Januari hingga Maret 2026. Informasi juga diverifikasi melalui triangulasi dengan tokoh adat dan pemuka agama setempat.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman nyata dalam keluarga, khususnya bagaimana ayah berkomunikasi dengan anak perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan Utama: Komunikasi Keras Dianggap Normal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan verbal muncul karena kombinasi budaya patriarkal dan pola komunikasi yang tidak empatik. Beberapa temuan utama meliputi:
- Gaya komunikasi ayah cenderung keras dan otoritatif, seperti membentak, memberi perintah dengan nada tinggi, atau mengancam.
- Interaksi ayah-anak perempuan minim kedekatan emosional, sehingga komunikasi lebih bersifat instruktif daripada dialogis.
- Budaya lokal menganggap suara keras sebagai hal wajar, bahkan sebagai simbol kewibawaan laki-laki.
- Anak perempuan sering tidak diberi ruang bertanya atau berpendapat, terutama terkait pendidikan dan masa depan.
- Kekerasan verbal sering tidak disadari sebagai masalah, melainkan dianggap bagian dari tradisi atau disiplin keluarga.
Salah satu informan mengaku lebih sering memberi perintah ketimbang berdialog dengan anaknya. Sementara itu, tokoh agama lokal menekankan bahwa penggunaan kata-kata kasar justru merusak hubungan orang tua dan anak serta berpotensi ditiru oleh anak.
Perspektif Teori: Genderlect dan Komunikasi Islam
Penelitian ini menggunakan teori genderlect dari Deborah Tannen yang menjelaskan perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung menggunakan komunikasi untuk menunjukkan status dan kontrol (report talk), sedangkan perempuan lebih menekankan hubungan dan kedekatan (rapport talk).
Dalam konteks Lombok, perbedaan ini diperkuat oleh budaya patriarkal. Ayah menggunakan komunikasi sebagai alat kontrol, sementara anak perempuan didorong untuk patuh dan menghindari konflik.
Namun, dari perspektif Islam, komunikasi seharusnya mencerminkan nilai keadilan, kasih sayang, dan penghormatan. Penelitian ini menyoroti konsep komunikasi Qur’ani seperti:
- Qaulan sadida (perkataan benar)
- Qaulan ma’rufa (perkataan baik)
- Qaulan karima (perkataan mulia)
- Qaulan layyina (perkataan lembut)
- Qaulan maysura (perkataan pantas)
Nilai-nilai ini dinilai belum banyak diterapkan dalam praktik komunikasi keluarga di lokasi penelitian.
Dampak: Luka Psikologis dan Relasi yang Rusak
Kekerasan verbal terbukti berdampak serius pada perkembangan anak perempuan. Anak yang sering menerima kata-kata kasar cenderung:
- mengalami rendah diri dan kecemasan,
- menjadi lebih agresif atau memberontak,
- kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.
Penelitian ini menegaskan bahwa kata-kata dapat membentuk cara berpikir dan perilaku anak dalam jangka panjang.
Implikasi: Perlu Perubahan Pola Asuh
Peneliti menekankan pentingnya transformasi pola komunikasi dalam keluarga. Orang tua, khususnya ayah, perlu beralih dari pendekatan otoriter ke komunikasi yang dialogis dan empatik.
Ellys Lestari Pambayun dari Universitas PTIQ Jakarta menegaskan bahwa komunikasi dalam Islam seharusnya “memuliakan, bukan menundukkan.” Ia mendorong keluarga untuk menerapkan musyawarah dalam pengambilan keputusan serta memberi ruang bagi anak perempuan untuk menyampaikan pendapat.
Selain itu, penelitian ini merekomendasikan:
- edukasi pranikah berbasis kesetaraan gender,
- peningkatan literasi hukum tentang perlindungan anak,
- peran aktif tokoh agama dan masyarakat dalam mengubah norma budaya yang merugikan anak perempuan.

0 Komentar