Peran PER Tidak Signifikan Pengaruhi Harga Saham Sektor Basic Materials di BEI

Ilustrasi by AI

Malang – Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Widanarni Pudjiastuti dari Malangkucecwara College of Economics dan dipublikasikan pada 2026 mengungkap dinamika penting dalam pasar saham Indonesia, khususnya sektor basic materials di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021–2024. Studi ini menyoroti bagaimana aset perusahaan dan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) berhubungan dengan harga saham melalui Price to Earnings Ratio (PER), sekaligus menunjukkan bahwa PER tidak selalu menjadi faktor penentu utama dalam pembentukan harga saham.

Temuan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya minat investor terhadap sektor bahan baku yang menjadi tulang punggung industri nasional. Pergerakan harga saham di sektor ini sering kali dipengaruhi oleh berbagai indikator keuangan, namun hubungan antarvariabel tersebut tidak selalu sederhana. Penelitian ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai bagaimana mekanisme tersebut bekerja.

Dalam beberapa tahun terakhir, investor cenderung menggunakan rasio keuangan seperti PER sebagai indikator utama dalam menilai kelayakan investasi. PER sering dianggap mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara indikator keuangan tidak selalu linier atau langsung berdampak pada harga saham.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data seluruh perusahaan sektor basic materials yang terdaftar di papan utama BEI selama periode 2021 hingga 2024. Data dianalisis menggunakan metode statistik berbasis Partial Least Squares (PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel secara lebih komprehensif.

Hasil analisis menunjukkan bahwa aset perusahaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PER. Artinya, semakin besar aset yang dimiliki perusahaan, semakin tinggi pula nilai PER yang terbentuk di pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa investor cenderung menilai perusahaan dengan aset besar sebagai entitas yang memiliki potensi keuntungan yang lebih baik.

Selain itu, DER juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PER. Temuan ini menunjukkan bahwa struktur pendanaan perusahaan, khususnya penggunaan utang, turut memengaruhi persepsi pasar terhadap nilai perusahaan. Dalam konteks ini, penggunaan utang yang optimal dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Namun, hasil yang paling mencolok dari penelitian ini adalah bahwa PER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Dengan kata lain, meskipun PER sering digunakan sebagai indikator utama oleh investor, dalam kasus sektor basic materials di Indonesia, rasio ini tidak secara langsung menentukan pergerakan harga saham.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menguji apakah PER dapat menjadi variabel perantara (intervening) antara aset dan DER terhadap harga saham. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung tersebut tidak signifikan. Ini berarti bahwa meskipun aset dan DER memengaruhi PER, dampaknya tidak berlanjut secara signifikan ke harga saham melalui PER.

Widanarni Pudjiastuti dari Malangkucecwara College of Economics menjelaskan bahwa temuan ini memberikan perspektif baru bagi pelaku pasar. Ia menekankan bahwa investor tidak seharusnya hanya bergantung pada satu indikator seperti PER dalam mengambil keputusan investasi. “Hubungan antara kinerja keuangan dan harga saham lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor lain di luar rasio keuangan tradisional,” ungkapnya.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Bagi investor, hasil ini menjadi pengingat untuk menggunakan pendekatan analisis yang lebih komprehensif, tidak hanya mengandalkan PER sebagai dasar keputusan. Faktor lain seperti kondisi makroekonomi, sentimen pasar, serta kinerja operasional perusahaan juga perlu diperhatikan.

Bagi manajemen perusahaan, temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan aset dan pengelolaan struktur modal memang penting untuk meningkatkan persepsi pasar, tetapi tidak otomatis berdampak pada harga saham. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengelola strategi komunikasi dan transparansi informasi kepada investor secara lebih efektif.

Sementara itu, bagi regulator dan pembuat kebijakan, penelitian ini memberikan wawasan mengenai pentingnya menyediakan informasi pasar yang lebih lengkap dan akurat. Hal ini bertujuan untuk membantu investor dalam memahami kondisi perusahaan secara menyeluruh dan mengurangi ketergantungan pada satu indikator tertentu.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya literatur keuangan dengan mengungkap bahwa mekanisme transmisi antara aset, DER, dan harga saham melalui PER tidak selalu berjalan sesuai asumsi umum. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa pasar saham memiliki dinamika yang kompleks dan memerlukan pendekatan analisis yang lebih holistik.

Profil Penulis
Widanarni Pudjiastuti – Malangkucecwara College of Economics

Sumber
“The Role of PER as an Intervening Variable in the Relationship between Assets, Debt to Equity Ratio, and Stock Prices in Main Board Basic Material Companies on the IDX (2021–2024)”
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), 2026

Posting Komentar

0 Komentar