Pendampingan RPPH Berbasis Bermain dan Literasi Tingkatkan Kualitas Pembelajaran PAUD

Ilustrasi By AI

Pendampingan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) berbasis bermain dan literasi yang dilakukan oleh Anggi Angriani Malapis dan Nurjania S. Latuli dari Universitas Muhammadiyah Luwuk pada 2026 terbukti meningkatkan kualitas pembelajaran di TK PGRI Mutiara Tatakalai. Hasil ini penting karena perencanaan pembelajaran yang tepat menjadi kunci dalam membangun keterampilan dasar anak sejak usia dini.

Di lapangan, banyak guru PAUD masih menghadapi tantangan dalam menyusun RPPH yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dasar anak. Sebelum pendampingan, sebagian RPPH lebih berfokus pada aktivitas hiburan tanpa mengoptimalkan aspek literasi dan keterampilan berpikir. Hal ini berdampak pada kurang maksimalnya pengalaman belajar anak.

Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung di kelas, wawancara mendalam, serta analisis dokumen RPPH. Program pendampingan dilakukan secara bertahap melalui coaching, praktik langsung, serta evaluasi dan refleksi bersama guru.

Guru dibimbing untuk mengintegrasikan aktivitas bermain dengan literasi, seperti pengenalan huruf melalui permainan, bercerita interaktif, membaca gambar, dan menulis sederhana sesuai kemampuan anak.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan signifikan pada guru dan siswa:

  • Guru mampu menyusun RPPH yang lebih terstruktur, fleksibel, dan kreatif
  • Pembelajaran menjadi lebih interaktif dan sesuai perkembangan anak
  • Anak lebih aktif, antusias, dan terlibat dalam kegiatan belajar
  • Kemampuan literasi dasar seperti membaca dan menulis mulai berkembang

Data pada tabel di halaman 10 juga menunjukkan peningkatan nyata, seperti kehadiran anak yang lebih konsisten, keaktifan membaca yang meningkat, serta kepercayaan diri dan konsentrasi yang lebih baik setelah pendampingan.

Selain itu, observasi pada halaman 7 menunjukkan bahwa anak mulai berinisiatif membaca, bercerita, dan berpartisipasi tanpa harus diarahkan, menandakan tumbuhnya motivasi belajar intrinsik.

Anggi Angriani Malapis dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menegaskan bahwa integrasi bermain dan literasi membuat pembelajaran lebih bermakna dan sesuai dengan karakteristik anak. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kreativitas, komunikasi, dan rasa percaya diri anak sejak dini.

Dampak penelitian ini meluas hingga ke lingkungan keluarga. Anak mulai menerapkan kebiasaan literasi di rumah, seperti membaca atau bercerita bersama keluarga. Hal ini menunjukkan terbentuknya budaya belajar yang berkelanjutan di luar sekolah.

Bagi guru, pendampingan ini meningkatkan profesionalisme dan kemampuan reflektif dalam merancang pembelajaran. Guru menjadi lebih percaya diri, kreatif, dan mampu menyesuaikan metode dengan kebutuhan setiap anak.

Dalam jangka panjang, model pendampingan ini dapat diterapkan di berbagai lembaga PAUD sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Integrasi bermain dan literasi terbukti mampu menciptakan proses belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan berorientasi pada perkembangan holistik anak.

Profil Penulis

  • Anggi Angriani Malapis - Universitas Muhammadiyah Luwuk
  •  Nurjania S. Latuli - Universitas Muhammadiyah Luwuk

Sumber Penelitian

Malapis, A. A., & Latuli, N. S. (2026). Assistance of Early Childhood Education Teachers in Preparing Play-Based and Literacy-Based RPPH at Mutiara Tatakalai Kindergarten. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 3, 257–268.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i3.11

URL : https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb


Posting Komentar

0 Komentar