Mengidentifikasi Daya Tarik Wisata Alam dan Budaya Pantai Karanghawu sebagai Destinasi Unggulan di Sukabumi

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS- Sukabumi

Karanghawu Sukabumi: Perpaduan Tebing Samudra Hindia dan Tradisi Nyi Roro Kidul Jadi Daya Tarik Wisata Unik

Pantai Karanghawu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan kombinasi daya tarik alam dan budaya yang unik. Penelitian yang dilakukan oleh Shafira Bilqis Annida dari Program Studi Vokasi Universitas Padjadjaran dan Faqih Baihaqi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran mengungkap bahwa pantai ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan berbasis alam dan budaya. Studi tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN).

Penelitian ini penting karena kawasan Sukabumi, khususnya wilayah pesisir selatan yang termasuk dalam kawasan Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, sedang mengalami peningkatan kunjungan wisata. Namun, pengembangan destinasi sering kali hanya menonjolkan keindahan lanskap pantai tanpa menggali secara mendalam nilai geologi dan narasi budaya lokal yang sebenarnya menjadi identitas utama kawasan tersebut.

Annida dan Baihaqi menilai bahwa pemetaan daya tarik wisata yang lebih komprehensif diperlukan agar pengembangan pariwisata tidak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga menjaga nilai lingkungan dan budaya setempat.

Pantai Karanghawu dan Potensi Wisata Pesisir Selatan

Pantai Karanghawu terletak di Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Pantai ini dikenal dengan formasi batu karang besar yang menjorok ke laut dan menghadap langsung ke Samudra Hindia. Nama “Karanghawu” sendiri berasal dari bentuk batu karang yang menyerupai tungku atau “hawu” dalam bahasa Sunda.

Menurut penelitian tersebut, daya tarik alam Karanghawu tidak hanya berasal dari panorama pantai, tetapi juga dari karakter geomorfologi pesisir yang unik. Tebing-tebing batu vulkanik yang tinggi menciptakan lanskap dramatis, terutama ketika dipadukan dengan panorama laut lepas dan ombak besar khas pantai selatan Jawa.

Pemandangan matahari terbenam dari atas tebing juga menjadi salah satu magnet bagi wisatawan domestik. Banyak pengunjung memanfaatkan area tebing sebagai lokasi fotografi karena memberikan sudut pandang langsung ke Samudra Hindia.

Peneliti juga mencatat bahwa lingkungan pantai masih relatif alami, meskipun terdapat beberapa tekanan akibat aktivitas wisata seperti sampah dan penataan ruang yang belum optimal.

Narasi Budaya dan Mitos Nyi Roro Kidul

Selain potensi alam, Pantai Karanghawu juga memiliki dimensi budaya yang kuat. Masyarakat setempat meyakini bahwa kawasan pantai selatan berkaitan dengan mitologi Nyi Roro Kidul, sosok yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan.

Kepercayaan ini tercermin dalam berbagai praktik sosial di sekitar pantai. Salah satunya adalah larangan tidak tertulis bagi pengunjung untuk mengenakan pakaian berwarna hijau, yang dianggap sebagai warna keramat bagi Nyi Roro Kidul.

Di bagian atas tebing yang dikenal sebagai Puncak Winarum, terdapat sebuah petilasan yang dipercaya sebagai tempat spiritual yang berkaitan dengan tokoh tersebut. Lokasi ini sering dikunjungi peziarah yang datang untuk berdoa atau melakukan ritual tertentu.

Ruang petilasan biasanya dipenuhi kain putih, lukisan Nyi Roro Kidul, serta aroma dupa atau bunga tujuh rupa yang dibawa oleh pengunjung. Akses menuju lokasi ini telah dilengkapi tangga sehingga lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

Menurut Annida dan Baihaqi, keberadaan situs spiritual tersebut memperkuat identitas simbolik pantai. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga pengalaman emosional dan spiritual yang khas.

Tradisi Nyalawean di Pesisir Sukabumi

Penelitian ini juga menyoroti tradisi budaya masyarakat pesisir yang dikenal sebagai Nyalawean. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 25 dalam kalender Hijriah oleh nelayan dan masyarakat pesisir.

Nyalawean merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut serta doa keselamatan bagi nelayan yang melaut. Kegiatan ini meliputi doa bersama, pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, serta pertemuan masyarakat pesisir.

Selain memiliki nilai spiritual, tradisi ini juga memperkuat hubungan sosial antarwarga dan menjaga keberlanjutan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bagi sektor pariwisata, tradisi seperti ini dapat menjadi daya tarik tambahan karena memberikan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan.

Analisis Daya Tarik Wisata: Konsep 4A

Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis Pantai Karanghawu menggunakan kerangka 4A pariwisata, yaitu:

  1. Attraction (Daya Tarik): Pantai ini memiliki kombinasi lanskap geologi unik, panorama laut terbuka, ombak khas pantai selatan, serta narasi budaya yang kuat.
  2. Accessibility (Aksesibilitas): Pantai Karanghawu relatif mudah dijangkau melalui jalan utama Palabuhanratu yang kondisinya cukup baik. Namun, transportasi umum menuju lokasi masih terbatas sehingga wisatawan sering menggunakan kendaraan pribadi.
  3. Amenity (Fasilitas): Beberapa fasilitas dasar sudah tersedia seperti area parkir, warung makan, dan toilet umum. Meski demikian, kualitas fasilitas masih perlu ditingkatkan agar lebih nyaman bagi pengunjung.
  4. Ancillary (Kelembagaan): Pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat lokal. Namun, koordinasi dalam promosi dan pengemasan produk wisata berbasis alam dan budaya masih perlu diperkuat.

Pariwisata Berkelanjutan Jadi Kunci Pengembangan

Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan Pantai Karanghawu sangat bergantung pada pengelolaan wisata yang berkelanjutan.

Annida dan Baihaqi menekankan bahwa pengembangan destinasi harus mempertimbangkan tiga aspek utama:

  • konservasi lingkungan pesisir,
  • pelestarian nilai budaya lokal,
  • keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan wisata.

Pendekatan tersebut penting agar pariwisata tidak merusak ekosistem pantai maupun menghilangkan identitas budaya masyarakat setempat.

Jika dikelola secara tepat, integrasi antara lanskap geologi, tradisi lokal, dan partisipasi masyarakat dapat menjadikan Karanghawu sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna secara budaya dan berkelanjutan secara ekonomi.

Profil Penulis Penelitian

  1. Shafira Bilqis Annida, S.Pi., M.Sc.: Dosen dan peneliti pada Program Studi Vokasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Bidang keahlian utamanya meliputi perikanan, ekologi pesisir, serta pengembangan wisata bahari berkelanjutan.
  2. Faqih Baihaqi, S.Pi., M.Sc.: Dosen pada Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Penelitiannya berfokus pada ekosistem pesisir, perikanan tangkap, dan interaksi sosial budaya masyarakat pesisir.

Sumber Penelitian

Annida, Shafira Bilqis & Baihaqi, Faqih. 2026.
“Identifying the Attractions of Karanghawu Beach's Natural and Cultural Tourism as a Leading Destination in Sukabumi.”
Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN), Vol. 5 No. 2, hlm. 407–420.

Posting Komentar

0 Komentar