Temuan ini penting karena pendidikan sains di seluruh dunia mengalami perubahan besar selama pandemi COVID-19. Guru dipaksa menggabungkan pembelajaran digital dengan praktik laboratorium, sehingga memunculkan pola baru dalam desain pembelajaran. Analisis bibliometrik yang dilakukan tim peneliti membantu memetakan arah perubahan tersebut dan mengidentifikasi area yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Pergeseran Pembelajaran Sains ke Model Hybrid
Project-Based Learning dikenal sebagai pendekatan yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui proyek nyata, eksperimen, dan pemecahan masalah. Pendekatan ini mendorong siswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung.
Dalam penelitian ini, para penulis menelusuri artikel ilmiah dari basis data Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, serta pencarian tambahan untuk menemukan publikasi terbaru yang relevan. Artikel-artikel tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan tiga aspek utama:
- Mode pembelajaran (tatap muka, daring, atau blended)
- Orientasi pengajaran (instruksional, strategis, atau pedagogis)
- Bidang sains yang diteliti
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat bagaimana praktik PBL berubah seiring waktu dan bagaimana pandemi mempercepat transformasi metode pembelajaran.
Blended Learning Jadi Standar Baru
Hasil analisis menunjukkan bahwa 83,3% studi yang diteliti menyoroti blended project-based learning, yaitu kombinasi pembelajaran digital dan tatap muka. Tidak ada penelitian yang sepenuhnya mengandalkan pembelajaran daring atau tatap muka saja. Temuan ini menegaskan bahwa model hybrid kini menjadi standar dalam pendidikan sains modern.
Dalam konteks disiplin ilmu, penelitian PBL paling banyak ditemukan pada:
- Fisika (41,7%)
- Biologi (33,3%)
- Kimia (16,7%)
- Ilmu kebumian (8,3%)
Dominasi fisika dan biologi mencerminkan kesesuaian kedua bidang tersebut dengan eksperimen dan proyek berbasis masalah nyata. Sebaliknya, ilmu kebumian masih relatif jarang diteliti, sehingga menjadi peluang bagi studi selanjutnya.
PBL Lebih dari Sekadar Metode Mengajar
Penelitian ini juga mengungkap bahwa PBL tidak hanya berfungsi sebagai teknik pembelajaran, tetapi juga sebagai kerangka strategi pendidikan yang lebih luas. Studi yang dianalisis menunjukkan distribusi orientasi sebagai berikut:
- Pedagogis: 40% – menekankan pembelajaran berpusat pada siswa dan keterampilan abad ke-21
- Instruksional: 35% – fokus pada desain pembelajaran dan manajemen kelas
- Strategis: 25% – melihat PBL sebagai alat pengembangan kurikulum dan kebijakan pendidikan
Menurut Angeles dan timnya, distribusi ini menunjukkan bahwa PBL telah berevolusi dari sekadar metode kelas menjadi pendekatan sistemik dalam pendidikan sains.
Landasan Teori Didominasi Konstruktivisme
Dari sisi filosofi pendidikan, penelitian ini menemukan bahwa PBL paling sering dikaitkan dengan teori konstruktivisme (45%) dan experiential learning (30%). Kedua pendekatan ini menekankan pembelajaran melalui pengalaman langsung, refleksi, dan kolaborasi.
“PBL menempatkan siswa sebagai pembangun pengetahuan, bukan penerima informasi pasif,” tulis Angeles dari Technological University of the Philippines – Manila, menegaskan bahwa pendekatan ini mendukung pengembangan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Kata Kunci dan Tren Global
Analisis kata kunci dalam publikasi menunjukkan dominasi istilah seperti “project-based learning,” “science education,” “students,” dan “collaboration.” Hal ini menunjukkan bahwa fokus penelitian PBL tetap pada pembelajaran aktif dan kerja tim.
Dari sisi geografis, penelitian PBL paling banyak berasal dari Amerika Serikat dan China, sementara negara lain termasuk Filipina turut berkontribusi meskipun dalam jumlah lebih kecil. Penyebaran ini menunjukkan bahwa PBL semakin diakui secara global sebagai strategi pendidikan sains yang efektif.
Implikasi bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting:
- Sekolah dan universitas perlu mempertahankan model hybrid karena terbukti efektif dalam pembelajaran sains.
- Kurikulum sains sebaiknya memberi ruang lebih besar bagi proyek kolaboratif dan eksperimen nyata.
- Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat memanfaatkan PBL sebagai strategi untuk meningkatkan kompetensi abad ke-21 seperti kreativitas, kerja tim, dan pemecahan masalah.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti perlunya studi jangka panjang untuk melihat dampak PBL terhadap hasil belajar siswa dan praktik mengajar guru.

0 Komentar