Nilai perusahaan emiten konstruksi di Bursa Efek Indonesia dipengaruhi langsung oleh profitabilitas, kepemilikan institusional, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Temuan ini disampaikan oleh Waluyo Jati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang dalam riset yang terbit di International Journal of Finance and Business Management (IJFBM) Vol. 4 No. 1 tahun 2026. Studi ini menganalisis perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2007–2024 dan menegaskan bahwa struktur modal menjadi penghubung utama antara kinerja internal, tekanan makroekonomi, dan nilai pasar perusahaan.
Penelitian ini penting karena sektor konstruksi memegang peran strategis dalam pembangunan infrastruktur nasional, terutama sejak ekspansi proyek besar-besaran pasca-2014. Di tengah dorongan pembangunan tersebut, investor tetap menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar dan perubahan struktur pendanaan perusahaan. Riset ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana faktor internal dan eksternal berinteraksi membentuk persepsi pasar.
Latar Belakang: Nilai Perusahaan di Tengah Ekspansi Infrastruktur
Nilai perusahaan—yang diukur melalui Price to Book Value (PBV)—mencerminkan persepsi investor atas prospek, risiko, dan kinerja manajemen. Dalam industri konstruksi yang padat modal, keputusan pendanaan melalui utang atau ekuitas sangat menentukan.
Di satu sisi, proyek infrastruktur membuka peluang pertumbuhan dan peningkatan laba. Di sisi lain, ketergantungan pada pembiayaan utang serta paparan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS meningkatkan risiko keuangan. Ketidakpastian ini menjadikan struktur modal sebagai faktor krusial dalam menjaga kepercayaan pasar.
Metodologi: Gabungan Data Kuantitatif dan Validasi Ahli
Waluyo Jati menganalisis 9 perusahaan konstruksi dengan total 162 observasi selama 18 tahun. Data keuangan diperoleh dari laporan tahunan perusahaan dan publikasi resmi Bursa Efek Indonesia, sementara data nilai tukar rupiah bersumber dari Bank Indonesia.
Penelitian menggunakan tiga pendekatan utama:
- Regresi data panel untuk menguji hubungan langsung antarvariabel
- Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji model struktural dan mediasi
- Interpretive Structural Modeling (ISM) melalui diskusi pakar guna memvalidasi hasil kuantitatif
Variabel yang diuji meliputi:
- Profitabilitas (ROE)
- Kepemilikan institusional (%)
- Nilai tukar rupiah/USD
- Struktur modal (Debt to Equity Ratio/DER)
- Nilai perusahaan (PBV)
Pendekatan multi-metode ini memastikan hasil yang konsisten dan kuat secara statistik maupun konseptual.
Temuan Utama: Leverage Tinggi Tekan Nilai Perusahaan
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:
- Profitabilitas meningkatkan struktur modal dan nilai perusahaan.Perusahaan dengan ROE tinggi cenderung menambah leverage, dan laba yang kuat memberi sinyal positif kepada investor sehingga meningkatkan valuasi pasar
- Kepemilikan institusional menekan leverage tetapi menaikkan nilai perusahaan.
Semakin besar porsi saham yang dimiliki institusi, semakin konservatif kebijakan utang perusahaan. Pengawasan yang kuat memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kepercayaan investor. - Depresiasi rupiah menurunkan leverage dan nilai perusahaan.
Ketika rupiah melemah, perusahaan konstruksi cenderung mengurangi utang untuk menghindari risiko nilai tukar. Namun pelemahan kurs tetap berdampak negatif pada valuasi pasar. - Struktur modal berdampak negatif terhadap nilai perusahaan.
Leverage yang tinggi terbukti menekan PBV. Investor memandang rasio utang berlebih sebagai sinyal peningkatan risiko finansial. - Struktur modal berperan sebagai variabel mediasi signifikan.
Profitabilitas, kepemilikan institusional, dan nilai tukar tidak hanya memengaruhi nilai perusahaan secara langsung, tetapi juga melalui kebijakan pendanaan.
Seluruh hipotesis penelitian didukung secara statistik, baik melalui regresi panel maupun SEM-PLS.
Makna Strategis bagi Dunia Usaha dan Investor
Temuan ini memberikan pesan tegas: perusahaan konstruksi tidak bisa hanya mengandalkan laba tinggi untuk meningkatkan nilai pasar. Struktur pendanaan harus dikelola secara hati-hati.
Menurut Waluyo Jati, perusahaan yang profitabel memang memiliki kapasitas lebih besar untuk berutang, tetapi pasar tetap sensitif terhadap tingkat leverage. “Utang yang berlebihan justru menjadi sinyal risiko bagi investor,” jelasnya.
Kepemilikan institusional muncul sebagai faktor stabilitas. Investor institusi tidak hanya membawa modal, tetapi juga fungsi pengawasan yang memperbaiki disiplin manajemen. Bagi perusahaan, menjaga hubungan dengan investor institusional jangka panjang menjadi strategi penting untuk mempertahankan valuasi.
Sementara itu, risiko nilai tukar tetap menjadi ancaman nyata. Perusahaan yang memiliki eksposur dolar perlu menerapkan strategi lindung nilai (hedging) atau menyesuaikan komposisi utang agar tidak terlalu rentan terhadap depresiasi rupiah.
Kontribusi Teoretis
Riset ini mengintegrasikan beberapa teori keuangan sekaligus, termasuk Signaling Theory, Agency Theory, Trade-Off Theory, Pecking Order Theory, dan Hedging Theory. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku perusahaan konstruksi Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti satu teori tunggal, melainkan kombinasi adaptif terhadap kondisi pasar dan kebijakan makro.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia merespons informasi secara bertahap, terutama dalam periode perubahan kebijakan dan dinamika makroekonomi.
Profil Penulis
Waluyo Jati adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang dengan fokus keahlian pada manajemen keuangan, struktur modal, dan pasar modal di negara berkembang. Ia aktif meneliti topik tata kelola perusahaan, kebijakan pendanaan, serta dinamika makroekonomi terhadap nilai perusahaan.
Sumber Penelitian
Waluyo Jati. 2026. “Institutional Ownership, Profitability, and Exchange Rate as Determinants of Firm Value with Capital Structure as an Intervening Variable (Empirical Study of Construction Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange, 2007–2024).” International Journal of Finance and Business Management (IJFBM), Vol. 4 No. 1, hlm. 839–856.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijfbm.v4i1.182
E-ISSN: 3032-2936

0 Komentar