Strategi Penggunaan Pupuk Organik dalam Budidaya Jagung di Ulu Ere, Bantaeng

Ilustrasi by AI

Makassar Strategi Pupuk Organik Dongkrak Produktivitas Jagung Ulu Ere Bantaeng. Penelitian yang dilakukan oleh Sahlan bersama Ratnawati Tahir, Zulkifli, dan Syafiuddin Saleh dari Universitas Muhammadiyah Makassar dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2025.

Penelitian yang dilakukan oleh Sahlan bersama Ratnawati Tahir, Zulkifli, dan Syafiuddin Saleh menyampaikan bahwa penggunaan pupuk organik dalam budidaya jagung di Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ketergantungan Pupuk Kimia Jadi Tantangan

Ulu Ere dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di Bantaeng. Namun, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun menimbulkan risiko degradasi tanah, mulai dari penurunan bahan organik, meningkatnya keasaman tanah, hingga berkurangnya organisme tanah yang berperan menjaga kesuburan.

Dalam konteks global, peningkatan produksi pertanian memang sering diiringi penggunaan pupuk kimia secara intensif. Tetapi, berbagai literatur menunjukkan bahwa praktik tersebut dapat memicu pencemaran tanah dan berdampak pada kesehatan manusia. Kondisi inilah yang mendorong para peneliti dari Universitas Muhammadiyah Makassar untuk memetakan strategi transisi menuju penggunaan pupuk organik yang lebih berkelanjutan.

Libatkan Petani, Penyuluh, dan Konsumen

Penelitian ini melibatkan delapan petani jagung, dua penyuluh dari Dinas Pertanian, serta dua konsumen produk pertanian yang menggunakan pupuk organik. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta analisis dokumen.

Untuk merumuskan strategi, tim peneliti menggunakan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Analisis ini membandingkan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penggunaan pupuk organik di Ulu Ere.

Hasilnya menunjukkan:

  • Skor faktor internal (kekuatan dan kelemahan): 2,92
  • Skor faktor eksternal (peluang dan ancaman): 2,76

Nilai ini menempatkan strategi penggunaan pupuk organik pada Posisi 5 dalam Matriks Eksternal–Internal, yang berarti berada dalam kondisi tumbuh (growth) dengan stabilitas yang cukup kuat.

Kekuatan: Murah, Ramah Lingkungan, dan Tersedia Lokal

Beberapa kekuatan utama yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain:

  • Pupuk organik meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
  • Bahan baku relatif murah dan mudah diperoleh dari limbah pertanian maupun peternakan.
  • Ketersediaan tenaga kerja pertanian cukup besar.
  • Mengurangi pencemaran lingkungan dan risiko erosi tanah.

Sahlan dan timnya mencatat bahwa kandungan bahan organik yang cukup akan memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, serta mendukung aktivitas mikroorganisme tanah. Semua faktor ini berdampak langsung pada produktivitas jagung.

Kelemahan: Pengetahuan Petani Masih Terbatas

Meski memiliki banyak keunggulan, penggunaan pupuk organik belum optimal karena beberapa hambatan, seperti:

  • Pengetahuan dan keterampilan petani masih rendah.
  • Kebiasaan lama menggunakan pupuk kimia sulit diubah.
  • Sosialisasi dari penyuluh masih terbatas.
  • Persepsi bahwa pupuk kimia memberi hasil lebih cepat.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada ketersediaan bahan, melainkan pada aspek edukasi dan perubahan pola pikir.

Peluang Pasar dan Ekspor Terbuka Lebar

Dari sisi eksternal, peluang penggunaan pupuk organik cukup besar:

  • Permintaan konsumen terhadap produk sehat dan bebas bahan kimia meningkat.
  • Tren gaya hidup sehat mendorong konsumsi produk pertanian organik.
  • Pasar ekspor cenderung mengutamakan produk bersertifikat organik.
  • Ada dukungan pemerintah dalam bentuk program penyuluhan.

Namun, ancaman juga tetap ada, seperti distribusi pupuk kimia yang masih aktif, kebiasaan petani mengubur sisa panen tanpa pengolahan, serta penggunaan pupuk organik yang belum matang.

Strategi Utama: Sosialisasi dan Penguatan Keterampilan

Berdasarkan analisis SWOT, tim peneliti merekomendasikan strategi pertumbuhan yang berfokus pada:

  1. Peningkatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan pupuk organik.
  2. Pengurangan ketergantungan pada pupuk kimia.
  3. Pemberdayaan petani dalam produksi kompos dan pupuk kandang.
  4. Kolaborasi antara pemerintah dan kelompok tani untuk pemasaran produk organik.
  5. Target pasar ekspor untuk produk jagung berbasis pertanian berkelanjutan.

Sahlan menegaskan bahwa pupuk organik bukan hanya soal mengganti jenis pupuk, tetapi tentang memperbaiki sistem pengelolaan lahan secara menyeluruh agar lebih berkelanjutan.

Dampak bagi Pertanian Berkelanjutan

Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, dampaknya dapat dirasakan dalam beberapa aspek:

  • Lingkungan: Tanah lebih subur dan tahan erosi.
  • Ekonomi: Biaya produksi jangka panjang menurun karena tidak tergantung pupuk kimia.
  • Kesehatan: Produk lebih aman bagi konsumen.
  • Daya saing: Peluang ekspor meningkat melalui sertifikasi organik.

Bagi Kabupaten Bantaeng, transformasi ini berpotensi memperkuat citra daerah sebagai sentra pertanian ramah lingkungan.

Profil Penulis

  • Dr. Sahlan_Universitas Muhammadiyah Makassar
  • Ratnawati Tahir_ Universitas Muhammadiyah Makassar
  • Zulkifli_ Universitas Muhammadiyah Makassar
  • Syafiuddin Saleh_ Universitas Muhammadiyah Makassar

Sumber Penelitian

Sahlan, Ratnawati Tahir, Zulkifli, & Syafiuddin Saleh. 2025. Organic Fertilizer Use Strategy in Corn Farming in Ulu Ere, Bantaeng. Proceedings of the National Seminar on Management, Economics, Finance and Business Sciences, Vol. 4 No. 3 (December 2025): 223–244.

DOI: https://doi.org/10.55927/snimekb.v4i3.16176

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/snimekb

 


Posting Komentar

0 Komentar