Rumah Ibadah di Cirebon Belum Siap Hadapi Banjir, Studi Ungkap Kesenjangan Kritis

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Cirebon - Kota Cirebon mencatat 54 kejadian bencana sepanjang 2022, dan Kecamatan Harjamukti menjadi salah satu wilayah paling rentan. Di tengah tingginya risiko banjir dan cuaca ekstrem, penelitian terbaru dari Zaki Muhammad Taqiuddin bersama Aria Mariany dan Mohd. Abi Rafdi dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, menemukan fakta penting: sebagian besar rumah ibadah di Harjamukti belum memiliki sistem kesiapsiagaan bencana yang memadai. Studi ini dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR).

Temuan ini relevan karena dalam situasi darurat, masyarakat Indonesia secara refleks menjadikan rumah ibadah sebagai tempat berlindung. Namun, riset menunjukkan bahwa fungsi sosial tersebut belum didukung kesiapan teknis dan kelembagaan yang memadai.

Harjamukti: Wilayah Padat, Risiko Tinggi

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon menunjukkan bahwa sepanjang 2022 terjadi:

  • 32 kejadian cuaca ekstrem (angin kencang dan hujan lebat)
  • 15 kejadian banjir dan rob
  • 5 longsor
  • 2 kebakaran

Sebagian besar permukiman, termasuk lokasi rumah ibadah, berada di zona rawan banjir. Harjamukti juga memiliki kepadatan bangunan dan aktivitas sosial yang tinggi, sehingga potensi dampak bencana semakin besar.

“Rumah ibadah bukan sekadar bangunan ritual, tetapi jangkar psikologis masyarakat saat krisis,” tulis Aria Mariany dan tim peneliti dari UGJ dalam artikelnya.

Menilai Kesiapan 16 Rumah Ibadah

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif terhadap 16 rumah ibadah yang memenuhi kriteria sebagai ruang publik aktif, terdiri dari:

  • 13 masjid
  • 2 gereja
  • 1 pura

Vihara dan musala kecil tidak dimasukkan karena tidak berfungsi sebagai pusat evakuasi publik atau kapasitasnya sangat terbatas.

Peneliti mengukur kesiapsiagaan berdasarkan enam variabel utama:

  1. Pengetahuan risiko
  2. Perencanaan darurat (SOP dan jalur evakuasi)
  3. Sistem peringatan dini
  4. Kapasitas sumber daya manusia
  5. Infrastruktur fisik
  6. Kemitraan kelembagaan

Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert kepada para pengurus rumah ibadah (takmir dan pengelola).

Hasil Utama: Relawan Siap, Sistem Tidak

Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan antara kesiapan individu dan kesiapan sistem.

Variabel dengan skor memadai:

  • Kapasitas SDM: Mean 4,67 (kategori siap)
  • Infrastruktur fisik: Mean 3,69 (cukup siap)

Variabel dengan skor rendah:

  • Pengetahuan risiko: Mean 2,38
  • Perencanaan darurat: Mean 1,88
  • Kemitraan kelembagaan: Mean 2,26
  • Sistem peringatan dini: Mean 1,58 (terendah)

Skor sistem peringatan dini yang sangat rendah menunjukkan sebagian besar rumah ibadah belum terhubung secara langsung dengan informasi real-time dari pemerintah.

Artinya, para pengurus memiliki komitmen moral dan kesiapan pribadi yang tinggi, tetapi tidak didukung prosedur resmi, pelatihan terstruktur, atau integrasi dengan sistem kebencanaan kota.

Peneliti menyebut kondisi ini sebagai “silo effect”: individu siap, tetapi institusi belum memiliki SOP yang jelas untuk menyalurkan kesiapan tersebut secara sistematis.

Pengetahuan Risiko Dorong Kemitraan

Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan kuat antara:

  • Pengetahuan risiko dan kemitraan kelembagaan (ρ = 0,776)
  • Pengetahuan risiko dan sistem peringatan dini (ρ = 0,686)
  • Perencanaan darurat dan kemitraan kelembagaan (ρ = 0,778)

Temuan ini penting. Rumah ibadah yang memahami pola banjir lokal lebih cenderung menjalin kerja sama dengan BPBD atau lembaga terkait.

“Begitu pengurus memahami risiko spesifik di wilayahnya, mereka lebih terbuka untuk berkolaborasi,” tulis Zaki Muhammad Taqiuddin dan tim dari UGJ.

Namun tanpa hubungan formal dengan jaringan logistik dan komunikasi pemerintah, rumah ibadah sulit berfungsi optimal sebagai lokasi evakuasi resmi.

Tantangan: Ruang Sakral vs Kesiapan Teknis

Penelitian ini juga mengungkap dilema sosiologis. Banyak pengelola rumah ibadah memandang keselamatan sebagai bagian dari takdir, bukan sesuatu yang perlu direncanakan secara teknis.

Padahal, menurut kerangka UNDRR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction), kesiapsiagaan mencakup:

  • Pengetahuan risiko
  • Perencanaan sebelum bencana
  • Sistem peringatan
  • Mobilisasi sumber daya

Tanpa SOP tertulis, simulasi, dan jalur komunikasi resmi, spontanitas dapat berubah menjadi kepanikan saat bencana terjadi.

Rekomendasi untuk Pemerintah Kota Cirebon

Penelitian ini merekomendasikan integrasi formal rumah ibadah dalam sistem ketahanan kota melalui program:

“Rumah Ibadah Tangguh Bencana.”

Langkah konkret yang diusulkan antara lain:

  • Penyusunan SOP standar untuk evakuasi
  • Pelatihan mitigasi bagi pengurus lintas agama
  • Penyediaan paket darurat dan alat keselamatan
  • Integrasi rumah ibadah dalam jaringan peringatan dini BPBD
  • Penetapan rumah ibadah sebagai simpul resmi evakuasi tingkat kelurahan

Dengan pendekatan ini, rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat perlindungan spontan, tetapi menjadi simpul ketahanan kota yang terstruktur.

Profil Singkat Penulis

Zaki Muhammad Taqiuddin adalah peneliti bidang perencanaan wilayah dan kota di Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, dengan fokus pada ketahanan perkotaan dan mitigasi bencana berbasis komunitas.

Aria Mariany, S.T., M.T. merupakan dosen dan peneliti di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UGJ. Keahliannya mencakup perencanaan tata ruang, kebijakan pembangunan daerah, dan manajemen risiko bencana.

Mohd. Abi Rafdi, S.T., M.T. adalah akademisi di bidang perencanaan wilayah dan kota yang meneliti integrasi kelembagaan dan ketahanan infrastruktur dalam sistem perkotaan.

Sumber Penelitian

Taqiuddin, Z. M., Mariany, A., & Rafdi, M. A. (2026). Disaster Preparedness of Multi-Religious Houses of Worship: A Quantitative Reality Check in Harjamukti, Cirebon. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 2, 187–202.

Posting Komentar

0 Komentar