Penguatan Kelembagaan Tingkatkan Kinerja Kelompok Tani Maju Mandiri di Bantaeng

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bantaeng - Kelompok Tani Maju Mandiri di Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, menunjukkan peningkatan kapasitas dan pendapatan setelah memperkuat kelembagaan berbasis teknologi dan pemasaran. Temuan ini dipublikasikan oleh Sahlan dan Maryam, mahasiswa Program Doktor Agribisnis, serta Dr. Jumiati dari Program Pascasarjana Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar, dalam Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA) Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Studi ini penting karena memberikan model konkret pemberdayaan petani desa di tengah tantangan globalisasi dan persaingan pasar bebas.

Penelitian dilakukan di Desa Bonto Tallasa, wilayah dengan potensi pertanian yang besar namun kelembagaan petaninya masih berkembang. Selama ini, kelompok tani di berbagai daerah kerap terbentuk hanya untuk distribusi bantuan atau kepentingan administratif program pemerintah. Akibatnya, fungsi utama sebagai wadah penguatan kapasitas dan daya tawar petani belum berjalan optimal.

Sahlan dan tim menyoroti bahwa kelembagaan yang kuat bukan sekadar struktur organisasi, melainkan sistem yang mampu menghubungkan petani dengan teknologi, informasi, pasar, dan sumber daya pendukung lainnya. Di Bonto Tallasa, Kelompok Tani Maju Mandiri dijadikan studi kasus untuk melihat bagaimana penguatan kelembagaan berdampak langsung pada partisipasi dan pemberdayaan anggota.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui:

  • Observasi partisipatif dalam kegiatan kelompok tani
  • Wawancara terbuka dengan 22 anggota Kelompok Tani Maju Mandiri
  • Dokumentasi administrasi kelompok dan aktivitas pertanian

Seluruh anggota kelompok dijadikan responden melalui metode sensus. Analisis difokuskan pada tiga jalur utama penguatan kelembagaan: alur informasi dan komunikasi, alur pemasaran, serta alur teknologi.

Tiga Pilar Penguatan Kelembagaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan berjalan efektif melalui tiga strategi utama:

1. Penguatan Informasi dan Komunikasi

Kelompok Tani Maju Mandiri bertransformasi dari sistem komunikasi tradisional—seperti surat dan komunikasi lisan—menuju pemanfaatan email, internet, dan perangkat digital. Pemerintah daerah mendukung melalui fasilitas seperti mobil internet.

Menurut Sahlan dari Universitas Muhammadiyah Makassar, akses terhadap teknologi informasi memungkinkan petani memperoleh informasi harga, teknik budidaya terbaru, dan peluang pasar secara lebih cepat. Komunikasi internal juga menjadi lebih terstruktur melalui rapat rutin dan diskusi kelompok.

Penguatan komunikasi ini mempercepat adopsi inovasi dan memperkuat modal sosial antaranggota, termasuk rasa saling percaya dan kerja sama.

2. Penguatan Saluran Pemasaran

Penelitian ini juga mengidentifikasi pentingnya peran kelompok tani sebagai saluran distribusi. Tanpa kelembagaan yang kuat, petani cenderung bergantung pada rantai distribusi panjang yang mengurangi margin keuntungan.

Dengan memperpendek jalur pemasaran dan mengelola distribusi secara kolektif, Kelompok Tani Maju Mandiri mampu:

  • Mengurangi ketergantungan pada perantara
  • Menekan biaya distribusi
  • Mendapatkan harga jual yang lebih stabil dan adil

Dr. Jumiati menjelaskan bahwa kelompok tani berfungsi sebagai penghubung strategis antara produsen dan pasar. Ketika dikelola secara profesional, kelompok tani dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam sistem agribisnis.

3. Penguatan Teknologi Pertanian

Aspek teknologi menjadi komponen paling nyata dalam peningkatan kinerja kelompok. Penguatan dilakukan melalui:

a. Pelatihan Teknologi

  • Penyuluhan budidaya modern
  • Pelatihan penggunaan traktor dan alat panen

b. Infrastruktur Teknologi

  • Pengadaan traktor dan mesin panen
  • Penyediaan fasilitas irigasi

c. Implementasi dan Evaluasi

  • Penggunaan mesin pertanian dalam pengolahan lahan
  • Teknik irigasi yang lebih efisien
  • Monitoring dan evaluasi hasil produksi

Penerapan teknologi ini berdampak langsung pada efisiensi kerja dan peningkatan produktivitas. Proses yang sebelumnya membutuhkan tenaga manual dalam jumlah besar kini dapat diselesaikan lebih cepat dan hemat biaya.

Dampak terhadap Kesejahteraan Petani

Penelitian mencatat sejumlah dampak konkret:

  • Peningkatan pendapatan anggota kelompok
  • Efisiensi waktu dan biaya produksi
  • Kualitas dan kuantitas hasil panen lebih baik
  • Akses informasi pasar lebih luas
  • Partisipasi anggota dalam kegiatan kelompok meningkat

Secara keseluruhan, petani di Desa Bonto Tallasa kini lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan dinamika pasar. Mereka tidak lagi sekadar produsen, tetapi mulai berperan sebagai pelaku agribisnis yang lebih profesional.

Implikasi bagi Kebijakan dan Pembangunan Desa

Studi ini memberikan rekomendasi penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pertanian:

  1. Memperkuat program pendidikan dan penyuluhan berbasis teknologi
  2. Mendorong pengembangan infrastruktur pertanian modern
  3. Memfasilitasi akses pasar yang lebih efisien
  4. Meningkatkan kolaborasi antar kelompok tani
  5. Memberikan dukungan kebijakan yang berorientasi pada pemberdayaan, bukan sekadar bantuan

Model penguatan kelembagaan seperti di Bonto Tallasa dapat direplikasi di desa lain dengan karakteristik serupa. Kunci keberhasilan terletak pada integrasi teknologi, komunikasi, dan pemasaran dalam satu sistem kelembagaan yang aktif dan partisipatif.

Di tengah tantangan globalisasi, petani yang terorganisasi dan melek teknologi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang. Penguatan kelembagaan menjadi fondasi utama menuju pertanian berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan desa.

Profil Penulis

Sahlan – Mahasiswa Program Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar. Fokus penelitian pada penguatan kelembagaan dan pengembangan agribisnis pedesaan.
MaryamMahasiswa Program Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadi Makassar, dengan minat riset pada pemberdayaan petani dan manajemen agribisnis.
JumiatiDosen Program Pascasarjana Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar. Keahlian dalam kelembagaan pertanian dan sistem integrasi agribisnis.

Sumber Penelitian

Sahlan, Maryam, & Jumiati. 2026. Institutional Strengthening of the Maju Mandiri Farmers Group in Bonto Tallasa Village, Ulu Ere District, Bantaeng Regency: Analysis of Farmer Participation and Empowerment. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, 183–196.

Posting Komentar

0 Komentar