Studi ini penting karena selama pandemi COVID-19, sekolah-sekolah di bawah Department of Education (DepEd) Filipina mengandalkan Self-Learning Modules (SLMs) sebagai sarana utama pembelajaran jarak jauh. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan pada kompetensi tertentu. Pecson melihat peluang untuk mengintegrasikan pendekatan Strategic Intervention Materials (SIMs) ke dalam format SLM yang sudah digunakan secara nasional, sehingga lahirlah MSIMs sebagai bahan ajar remedial dan pendukung pembelajaran mandiri.
Mengapa MSIMs Dibutuhkan?
SIM selama ini dikenal sebagai bahan intervensi untuk membantu siswa menguasai kompetensi yang belum tuntas. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan SIM efektif meningkatkan performa akademik, motivasi belajar, hingga retensi pengetahuan di berbagai jenjang dan mata pelajaran.
Namun, studi tentang SIM yang dimodifikasi khusus untuk tingkat SHS, terutama pada rumpun Humaniora dan Ilmu Sosial, masih terbatas. Padahal, mata pelajaran DISS menuntut kemampuan analitis tinggi, termasuk memahami pemikiran tokoh Filipina, ideologi gender, hingga konsep Sikolohiyang Pilipino.
“Pengembangan bahan ajar harus berbasis pada kompetensi yang paling lemah dikuasai siswa,” tulis Ryan R. Pecson dari Bataan Peninsula State University dalam artikelnya.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Penelitian ini menggunakan desain descriptive-developmental research. Sebanyak 75 siswa SHS mengikuti pre-test berisi 30 soal untuk mengidentifikasi kompetensi yang paling kurang dikuasai. Hasil pre-test menunjukkan tiga kompetensi dengan tingkat kesalahan tertinggi:
- Mengevaluasi kepribadian berdasarkan nilai inti Sikolohiyang Pilipino – 98,67% siswa salah.
- Menganalisis gagasan sosial pemikir Filipina seperti Isabelo de los Reyes dan Jose Rizal – 96% siswa salah.
- Menentukan hubungan antara ideologi gender dan ketimpangan gender – 94,67% siswa salah.
Berdasarkan temuan ini, Pecson mengembangkan tiga MSIMs yang secara khusus menargetkan kompetensi tersebut.
Selanjutnya, 15 guru ahli (master teachers) mengevaluasi kualitas MSIMs menggunakan kuesioner tervalidasi dengan reliabilitas sangat tinggi (Cronbach’s Alpha = 0,9923). Penilaian mencakup empat aspek utama:
- Tujuan dan instruksi
- Konten dan organisasi
- Format dan struktur
- Asesmen dan evaluasi
Apa yang Membuat MSIMs Berbeda?
MSIMs yang dikembangkan tidak hanya meniru SIM konvensional. Pecson memodifikasinya agar selaras dengan struktur resmi SLM DepEd, sehingga lebih familiar bagi guru dan siswa.
Setiap MSIM mencakup komponen berikut:
- Guide Card: pengantar, tujuan pembelajaran, dan pre-test.
- Activity Card: aktivitas inti dan diskusi konsep.
- Enrichment Card: latihan tambahan terarah dan mandiri.
- Reflection Card: refleksi dan penerapan dalam kehidupan nyata.
- Assessment Card: evaluasi akhir.
- Reference dan Answer Card: referensi serta kunci jawaban.
MSIMs juga dirancang interaktif, dilengkapi ilustrasi, grafik, game-based activities, aktivitas kolaboratif, serta kode QR untuk akses materi tambahan dan umpan balik instan.
Pendekatan ini memungkinkan siswa belajar secara mandiri sekaligus tetap mendapatkan scaffolding yang terstruktur.
Hasil Validasi Guru Ahli
Secara keseluruhan, MSIMs memperoleh nilai rata-rata 3,06 (kategori “Acceptable/Valid”) dari skala 4. Semua domain dinilai valid:
- Konten dan organisasi: 3,16
- Format dan struktur: 3,12
- Asesmen dan evaluasi: 3,01
- Tujuan dan instruksi: 2,96
Beberapa indikator bahkan dinilai “Highly Acceptable”, termasuk:
- Alur konsep yang runtut dan sesuai tingkat pemahaman siswa (Mean 3,93)
- Keterbacaan font dan tampilan visual (Mean 3,40)
- Ketersediaan asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif (Mean 3,33)
Guru ahli menilai MSIMs layak digunakan sebagai bahan remedial dan pendukung pembelajaran DISS.
Dampak bagi Pendidikan
Temuan ini memberikan beberapa implikasi penting:
- Mendukung pembelajaran mandiri di era normal baru dan sistem modular.
- Membantu guru mengatasi kompetensi paling lemah siswa secara terarah.
- Mendorong produksi bahan ajar lokal sesuai mandat Republic Act No. 10533 Filipina.
- Mendukung pencapaian SDG 4 (Quality Education) melalui inovasi berbasis kebutuhan siswa.
Pecson juga mendorong penelitian lanjutan berupa action research untuk menguji efektivitas MSIMs dalam praktik kelas secara langsung. Ia bahkan merekomendasikan pengembangan SIM berbasis teknologi seperti VR, AI, e-comics, dan gamifikasi untuk memperkuat keterampilan abad ke-21.
Profil Penulis
Ryan Ramolete Pecson, MAEd adalah dosen di College of Education, Bataan Peninsula State University, Filipina. Ia memiliki keahlian dalam pengembangan bahan ajar, design-based thinking, inovasi pembelajaran, dan penelitian tindakan kelas. Karyanya banyak berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui intervensi strategis dan penguatan kemandirian belajar siswa.
0 Komentar