Studi IPOSS Jakarta: Kepercayaan, Tanggung Jawab, dan Mutu Jadi Kunci Sukses Sistem Kesehatan Digital
Transformasi kesehatan digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih. Dr. Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta menegaskan bahwa kepercayaan, tanggung jawab, dan mutu sistem menjadi fondasi utama agar sistem informasi kesehatan benar-benar efektif dan dipercaya publik. Temuan ini dipublikasikan dalam Multitech Journal of Science and Technology (MJST) Vol. 3 No. 1 tahun 2026, berdasarkan telaah kualitatif atas 80 artikel ilmiah internasional yang membahas sistem kesehatan digital dalam satu dekade terakhir.
Riset ini penting karena penggunaan rekam medis elektronik, telemedicine, aplikasi kesehatan, dan kecerdasan buatan (AI) terus meningkat di berbagai negara. Namun, di balik percepatan digitalisasi tersebut, masih muncul kekhawatiran soal keamanan data, kejelasan tanggung jawab ketika terjadi kesalahan sistem, hingga kualitas data yang digunakan untuk pengambilan keputusan klinis.
Mengapa Kepercayaan Menjadi Penentu?
Analisis literatur menunjukkan bahwa sekitar 72 persen pasien mengkhawatirkan privasi dan keamanan data kesehatan mereka. Hampir setengah responden dalam sejumlah studi menyatakan akan berhenti menggunakan aplikasi kesehatan jika merasa datanya disalahgunakan.
Kepercayaan tidak hanya terkait antarmuka aplikasi, tetapi juga:
- Perlindungan data dan privasi pasien
- Transparansi kebijakan dan penggunaan data
- Kejelasan regulasi dan pengawasan pemerintah
- Keandalan sistem dalam mendukung keputusan medis
Dr. Loso Judijanto menekankan bahwa kepercayaan merupakan “output sistemik” yang mencerminkan kualitas tata kelola dan integritas institusi. Negara atau institusi dengan regulasi perlindungan data yang kuat terbukti memiliki tingkat kepercayaan pengguna lebih tinggi.
Di sisi tenaga kesehatan, tingkat kepercayaan terhadap sistem AI dan rekam medis elektronik juga bervariasi. Sebagian dokter masih ragu sepenuhnya mengandalkan sistem berbasis algoritma tanpa validasi tambahan. Artinya, peningkatan transparansi dan akuntabilitas algoritma menjadi krusial.
Tanggung Jawab yang Masih Abu-Abu
Dimensi kedua yang menjadi sorotan adalah tanggung jawab dalam ekosistem kesehatan digital. Sistem informasi kesehatan kini melibatkan banyak pihak: rumah sakit, dokter, pengembang perangkat lunak, penyedia cloud, hingga perusahaan AI.
Lebih dari 65 persen literatur yang ditinjau menyoroti ketidakjelasan tanggung jawab ketika terjadi kesalahan sistem berbasis AI. Jika rekomendasi algoritma menyebabkan kesalahan diagnosis, siapa yang bertanggung jawab? Dokter, pengembang sistem, atau institusi?
Beberapa temuan penting meliputi:
- Sekitar 42 persen institusi belum memiliki kebijakan formal terkait tanggung jawab atas kesalahan sistem digital.
- Dalam lebih dari separuh laporan insiden teknologi kesehatan, atribusi kesalahan antara vendor dan penyedia layanan kesehatan tidak jelas.
- Mayoritas artikel mendorong penerapan prinsip “ethical-by-design” sejak tahap awal pengembangan sistem.
Riset ini juga menyoroti potensi teknologi seperti blockchain untuk meningkatkan transparansi dan pelacakan transaksi data kesehatan. Dalam beberapa implementasi uji coba, penggunaan sistem berbasis blockchain dilaporkan menurunkan risiko manipulasi data.
Menurut Dr. Loso Judijanto, penguatan tanggung jawab tidak cukup berbasis pendekatan hukum reaktif. Sistem perlu dirancang dengan mekanisme pencegahan, audit internal, dan kejelasan distribusi peran sejak awal.
Mutu Sistem: Lebih dari Sekadar Teknologi
Mutu sistem informasi kesehatan tidak hanya diukur dari kecepatan server atau tampilan aplikasi. Literatur menunjukkan bahwa mutu mencakup:
- Akurasi dan integritas data
- Interoperabilitas antar sistem
- Keandalan dan waktu operasional (uptime)
- Kemudahan penggunaan (usability)
- Aksesibilitas bagi kelompok rentan
Meta-analisis yang dirujuk dalam penelitian ini menemukan rata-rata tingkat kesalahan data rekam medis elektronik sebesar 8,5 persen. Angka tersebut berdampak langsung pada kualitas pengambilan keputusan klinis.
Selain itu, sistem dengan downtime lebih dari 2 persen per tahun berkorelasi dengan penurunan kepuasan tenaga kesehatan dan gangguan alur kerja. Hanya sekitar 38 persen platform yang sepenuhnya mendukung standar interoperabilitas untuk pertukaran data lintas institusi.
Masalah usability juga signifikan. Sekitar 60 persen tenaga kesehatan mengalami kesulitan navigasi sistem, yang meningkatkan beban kognitif dan potensi kesalahan. Dari sisi pasien, 68 persen aplikasi kesehatan belum memenuhi standar aksesibilitas bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Tiga Pilar yang Saling Menguatkan
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah keterkaitan erat antara kepercayaan, tanggung jawab, dan mutu. Ketika mutu sistem rendah dan kesalahan berulang terjadi, tingkat keterlibatan pasien dapat turun hingga 40 persen. Sebaliknya, sistem dengan mekanisme akuntabilitas yang jelas cenderung meningkatkan kepercayaan pengguna.
Model integratif yang diidentifikasi dalam literatur mendorong pendekatan kolaboratif atau co-production, di mana pengembang, tenaga kesehatan, regulator, dan pasien bersama-sama terlibat dalam perancangan dan evaluasi sistem.
“Peningkatan mutu tanpa kejelasan tanggung jawab tidak akan cukup membangun kepercayaan. Ketiganya harus berjalan secara terpadu,” tulis Dr. Loso Judijanto dalam artikelnya.
Implikasi bagi Kebijakan dan Praktik
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi:
Pembuat kebijakan:
Perlu memperkuat regulasi perlindungan data, standar interoperabilitas, serta kerangka akuntabilitas untuk AI kesehatan.
Rumah sakit dan institusi layanan kesehatan:
Harus mengembangkan kebijakan tanggung jawab digital yang jelas, termasuk prosedur audit dan pelaporan insiden.
Pengembang teknologi kesehatan:
Perlu mengintegrasikan prinsip ethical-by-design dan user-centered design sejak tahap awal.
Peneliti:
Masih diperlukan studi empiris longitudinal untuk mengukur dampak intervensi peningkatan kepercayaan dan kualitas sistem.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya memperhatikan kelompok rentan dan negara berpendapatan rendah agar digitalisasi tidak justru memperlebar kesenjangan layanan kesehatan.
Profil Penulis
Dr. Loso Judijanto adalah akademisi dan peneliti dari IPOSS Jakarta. Ia memiliki keahlian di bidang sistem informasi, tata kelola teknologi, dan transformasi digital. Fokus risetnya mencakup integrasi etika, kualitas sistem, dan kebijakan dalam pengembangan teknologi kesehatan.
Sumber Penelitian
Judijanto, L. (2026). Trust, Responsibility, and Quality in Digital Health: Qualitative Insights Into the Enhancement of Health Information Systems. Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3 No. 1, 1–20.
DOI : https://doi.org/10.59890/mjst.v3i1.133
URL :https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index
0 Komentar