Surabaya—
Kematangan Emosi dan Kontrol Diri Terbukti Menekan Perilaku Agresif Anggota
Brimob. Penelitian yang dilakukan oleh Muh. Fauzan Nofriansyah Putra dan Dyan
Evita Santi, dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipublikasikan di Journal
of Educational Analytics (JEDA).
Penelitian
yang dilakukan oleh Muh. Fauzan Nofriansyah Putra dan Dyan Evita Santi
mengungkap bahwa kematangan emosi dan kemampuan mengendalikan diri berperan
penting dalam menekan perilaku agresif anggota Brigade Mobil (Brimob). Studi
yang dilakukan pada 2025 dan dipublikasikan pada 2026 ini menegaskan bahwa
penguatan aspek psikologis menjadi kunci profesionalisme aparat di lapangan.
Tekanan
Lapangan dan Risiko Agresivitas
Tugas
Brimob menuntut kesiapsiagaan fisik dan mental dalam waktu singkat. Anggota
sering berhadapan langsung dengan ancaman, provokasi massa, serta tekanan
publik. Dalam kondisi seperti ini, reaksi emosional yang tidak terkendali
berpotensi memicu perilaku agresif, baik secara verbal maupun fisik.
Peneliti
mencatat bahwa agresivitas tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan terbuka.
Sikap defensif berlebihan, emosi meledak-ledak, hingga respons impulsif juga
termasuk bentuk agresi yang dapat merugikan individu dan institusi. Jika tidak
dikelola, kondisi ini bisa menurunkan kualitas pelayanan, merusak citra
kepolisian, dan menggerus kepercayaan masyarakat.
Karena
itu, memahami faktor psikologis yang mampu menekan agresivitas menjadi
kebutuhan mendesak dalam pengelolaan sumber daya manusia kepolisian.
Temuan
Utama Penelitian
Hasil
penelitian menunjukkan pola hubungan yang sangat jelas dan konsisten. Secara
ringkas, temuan utamanya adalah sebagai berikut:
- Kematangan
emosi menurunkan agresivitas
Anggota yang mampu mengenali dan mengelola emosinya cenderung lebih jarang menunjukkan perilaku agresif. - Kematangan
emosi meningkatkan kontrol diri
Semakin matang secara emosional, semakin kuat kemampuan seseorang menahan impuls dan menimbang tindakan. - Kontrol
diri menekan agresivitas secara signifikan
Personel dengan kontrol diri tinggi lebih mampu menahan amarah dan tidak mudah bereaksi berlebihan. - Kontrol
diri menjadi “jembatan” utama
Pengaruh kematangan emosi terhadap agresivitas sebagian besar terjadi melalui peningkatan kontrol diri.
Secara
statistik, hubungan antarvariabel ini sangat kuat dan signifikan. Artinya,
temuan tersebut bukan kebetulan, tetapi mencerminkan pola psikologis yang nyata
di lapangan.
Mengapa
Kontrol Diri Sangat Penting?
Menurut
Fauzan dan Santi, kontrol diri berfungsi sebagai “rem psikologis” saat
seseorang berada dalam tekanan tinggi. Ketika emosi mulai meningkat, individu
yang memiliki kontrol diri baik mampu berhenti sejenak, mempertimbangkan
konsekuensi, lalu memilih respons yang lebih tepat.
Dalam
konteks Brimob, kemampuan ini sangat krusial. Keputusan yang diambil dalam
hitungan detik bisa berdampak besar terhadap keselamatan, hukum, dan reputasi
institusi. Tanpa kontrol diri, risiko penggunaan kekuatan secara berlebihan
menjadi lebih tinggi.
“Kematangan
emosi membantu personel mengenali perasaan sejak awal, sementara kontrol diri
memastikan reaksi tetap berada dalam batas profesional,” tulis peneliti dalam
pembahasannya.
Dampak
bagi Institusi dan Masyarakat
Temuan
ini memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi Brimob, tetapi juga bagi
institusi penegak hukum secara umum.
Bagi
institusi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan fisik dan teknis
saja tidak cukup. Penguatan aspek mental dan emosional perlu menjadi bagian
inti dalam sistem pembinaan personel. Program yang berfokus pada regulasi
emosi, manajemen stres, dan penguatan kontrol diri dinilai lebih efektif dalam
jangka panjang.
Bagi
masyarakat, penelitian ini memberikan harapan akan layanan keamanan yang lebih
profesional dan humanis. Personel yang stabil secara emosional cenderung lebih
adil, sabar, dan proporsional dalam bertindak.
Dalam
konteks kebijakan publik, hasil ini juga dapat menjadi dasar bagi perumusan
standar pelatihan psikologis di lingkungan kepolisian, khususnya satuan khusus.
Rekomendasi
Praktis dari Peneliti
Berdasarkan
hasil penelitian, Fauzan dan Santi merekomendasikan beberapa langkah strategis:
- Mengintegrasikan
pelatihan regulasi emosi dalam pendidikan Brimob
- Mengadakan
program penguatan kontrol diri secara berkala
- Menyediakan
pendampingan psikologis bagi personel berisiko tinggi
- Mengembangkan
evaluasi psikologis sebagai bagian dari penilaian kinerja
Menurut mereka, pendekatan preventif berbasis psikologi lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah muncul.
Profil
Singkat Penulis
- Muh.
Fauzan Nofriansyah Putra, M.Psi._Universitas
17 Agustus 1945 Surabaya
- Dyan
Evita Santi, M.Psi._Universitas
17 Agustus 1945 Surabaya
Sumber
Penelitian
Muh.
Fauzan Nofriansyah Putra, Dyan Evita Santi. Emotional Maturity and
Aggressive Behavior: The Role of Self-Control as a Mediator
Journal of Educational Analytics (JEDA) Volume: 5, Nomor 1, 2026, halaman
1–12
DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i1.607
URL: https://nblformosapublisher.org/index.php/jeda
.png)
0 Komentar