Remaja dalam Fase Rentan
Remaja berada pada fase perkembangan yang
dinamis, ditandai perubahan biologis, emosional, dan sosial yang signifikan.
Pada tahap ini, pengaruh teman sebaya dan lingkungan sekitar sangat kuat. Tanpa
pendampingan dan edukasi yang memadai, remaja berisiko lebih mudah terpapar
perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan narkoba.
SMP Negeri 1 Singosari, Kabupaten Malang,
berada di kawasan semi-perkotaan dengan akses terbuka terhadap berbagai
pengaruh eksternal. Meski dikenal sebagai sekolah berprestasi, sebelumnya belum
ada program khusus pembentukan kader anti-narkoba. Kondisi ini mendorong tim
Universitas Muhammadiyah Malang untuk menghadirkan program pencegahan berbasis
sekolah yang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga memberdayakan siswa
sebagai agen perubahan.
Edukasi Interaktif, Bukan Sekadar Ceramah
Program ini dirancang dengan pendekatan
edukatif dan partisipatif. Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak
sekolah untuk memastikan program selaras dengan kalender akademik. Materi
disusun menggunakan bahasa sederhana, visual menarik, dan metode interaktif
agar mudah dipahami siswa tingkat SMP.
Sebanyak 35 siswa terpilih dari berbagai kelas
mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari penyuluhan interaktif tentang jenis
dan dampak narkoba, diskusi kelompok kecil, kuis edukatif, hingga simulasi
sederhana tentang cara menolak ajakan menggunakan narkoba. Siswa juga dibekali
pemahaman mengenai konsekuensi hukum dan dampak sosial dari penyalahgunaan zat
adiktif.
Kreativitas sebagai Alat Edukasi
Salah satu sesi yang paling menarik adalah
visualisasi dampak narkoba melalui gambar ilustratif. Para siswa dibagi ke
dalam kelompok kecil dan diminta menuangkan pemahaman mereka dalam bentuk
gambar di atas karton. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan makna dari
ilustrasi yang dibuat.
Hasilnya menunjukkan tingkat pemahaman yang
kuat. Para kader mampu menjelaskan dampak narkoba terhadap kesehatan fisik,
kondisi psikologis, hubungan sosial, hingga prestasi akademik dengan bahasa
mereka sendiri. Bahkan, salah satu kelompok menggunakan gaya ilustrasi anime
untuk menyampaikan pesan anti-narkoba, menandakan kreativitas sekaligus
kedalaman pemahaman.
Menurut tim peengabdian, kemampuan siswa
menjelaskan kembali materi secara lisan dan visual menjadi indikator penting
keberhasilan program. Para kader tidak hanya memahami materi, tetapi juga siap
menyampaikannya kembali kepada teman sebaya.
Dampak bagi Sekolah dan Masyarakat
Tim peneliti menilai pembentukan kader
anti-narkoba berbasis sekolah sebagai strategi pencegahan yang efektif dan
berkelanjutan. Dengan melibatkan siswa secara aktif, pesan pencegahan menyebar
lebih luas melalui jejaring pertemanan dan lingkungan tempat tinggal mereka.
Model ini juga relevan bagi pembuat kebijakan
pendidikan dan kesehatan masyarakat. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi
pencegahan narkoba jika didukung kolaborasi dengan keluarga, masyarakat, serta
lembaga terkait. Program serupa dinilai dapat direplikasi di sekolah lain
dengan penyesuaian konteks lokal.
Profil Singkat Penulis
Bidang Keahlian: keperawatan dan promosi kesehatan remaja.
Engrid Juni Astuti, S.Kep., Ns., M.Kep. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian: keperawatan komunitas.
M. Artabah Muchlisin, S.Kep., Ns., M.Kep. Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian: pendidikan kesehatan.
Camelia Churil Aini, S.Kep., Ns., M.Kep. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian: keperawatan anak dan remaja.
Almas Syamma Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian: aktif dalam kegiatan edukasi dan pengabdian masyarakat.
Sumber Penelitian
Nailis Syifa, Engrid Juni Astuti, Artabah Muchlisin, Camelia Churil Aini, Almas Syamma. Initiating and Mentoring Cadres of “Drug Abuse Prevention in Teenagers” Among School Students. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 1, hlm. 35-44. 2026

0 Komentar