Dampak Praktik Greenwashing terhadap Kinerja Keuangan Korporasi: Peran Moderasi Kinerja ESG

Ilustrasi by AI

Malang ESG Kuat Bisa “Meredam” Dampak Greenwashing pada Kinerja Keuangan Perusahaan Tambang di BEI. Penelitian yang dilakukan oleh Dinda Rahmahani Aisyah, Diana Tien Irafahmi, dan Sri Pujiningsih dari Universitas Negeri Malang yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of Management Analytics (IJMA).

Penelitian yang dilakukan oleh Dinda Rahmahani Aisyah, Diana Tien Irafahmi, dan Sri Pujiningsih penting karena sektor tambang, energi, dan bahan baku adalah salah satu sektor dengan dampak ekologis tertinggi, namun juga paling aktif membangun narasi “hijau” untuk menjaga citra publik.

Penelitian ini secara spesifik menguji hubungan antara greenwashing, kinerja keuangan perusahaan, serta peran ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai faktor yang dapat memperkuat atau melemahkan dampaknya.

Greenwashing Meningkat di Tengah Tekanan Global dan Kebijakan Hilirisasi

Dalam dua dekade terakhir, dunia bisnis menghadapi tekanan besar untuk lebih ramah lingkungan. Komitmen global seperti Paris Agreement dan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) membuat perusahaan semakin gencar menampilkan citra hijau.

Namun, tekanan ini juga memunculkan sisi gelap: greenwashing, yaitu strategi komunikasi yang menonjolkan klaim lingkungan secara berlebihan atau menyesatkan demi mendapatkan legitimasi publik. Menurut para penulis, fenomena ini sangat terlihat di Indonesia, terutama pada sektor tambang, energi, dan bahan baku yang sering disebut sebagai sektor “berdampak ekologis tinggi”.

Mereka menyoroti bahwa kebijakan hilirisasi tambang sejak 2020 meningkatkan tekanan reputasi pada perusahaan ekstraktif. Sayangnya, tekanan reputasi tersebut tidak selalu dibarengi praktik lingkungan yang benar-benar kuat. Kondisi ini membuka peluang greenwashing semakin besar.

Apa yang Diteliti?

Penelitian ini memeriksa tiga hal utama:

  1. Apakah greenwashing memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
  2. Apakah ESG dapat menjadi “tameng” yang mengubah hubungan tersebut.
  3. Apakah ukuran perusahaan (melalui kapitalisasi pasar) ikut berpengaruh.

Untuk menjelaskan fenomena ini, penulis menggunakan Legitimacy Theory, yaitu teori yang menekankan bahwa perusahaan membutuhkan penerimaan publik agar bisa bertahan. Saat legitimasi publik terancam, perusahaan bisa menggunakan strategi simbolik—termasuk greenwashing—untuk menjaga citra.

Data: 40 Perusahaan Tambang, Energi, dan Bahan Baku di BEI

Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari:

  • laporan tahunan (annual report),
  • laporan keberlanjutan (sustainability report),
  • data pasar saham.

Sampel penelitian terdiri dari 40 perusahaan sektor pertambangan, energi, dan basic materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2021–2024. Total observasi mencapai 160 data (40 perusahaan × 4 tahun).

Cara Mengukur Greenwashing, ESG, dan Kinerja Keuangan

Agar hasilnya terukur, peneliti memakai indikator yang cukup jelas:

  • Greenwashing diukur memakai Greenwashing Index (GWI), yaitu selisih antara komunikasi hijau dan praktik hijau perusahaan (berdasarkan analisis isi laporan).
  • Kinerja keuangan diukur menggunakan ROA (Return on Assets).
  • ESG performance diproksikan menggunakan peringkat PROPER, yaitu sistem penilaian kepatuhan lingkungan yang dikenal luas di Indonesia.
  • Kapitalisasi pasar digunakan sebagai variabel kontrol untuk mewakili ukuran perusahaan.

Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda dan Moderated Regression Analysis (MRA) untuk menguji peran moderasi ESG.

Temuan Utama: Greenwashing Banyak Terjadi, Tapi Tidak Langsung “Menghukum” Perusahaan

Dari analisis deskriptif, peneliti menemukan bahwa praktik greenwashing sangat dominan.

Berdasarkan klasifikasi yang mereka rujuk, mayoritas perusahaan berada pada kategori:

  • Greenwashing: 109 perusahaan
  • Silent green: 45 perusahaan
  • Vocal green: 5 perusahaan
  • Silent brown: 1 perusahaan

Ini menunjukkan pola yang cukup konsisten: perusahaan cenderung lebih aktif “bercerita hijau” dibanding benar-benar melakukan praktik hijau yang kuat.

Dari sisi angka:

·         rata-rata greenwashing: 0,09174

·         ROA rata-rata: 9,02639

·         PROPER rata-rata: 3,47 (skala 2–5)

·         kapitalisasi pasar rata-rata: 19,9 triliun rupiah

Hasil Regresi: Greenwashing Negatif, Tapi Tidak Signifikan

Ketika diuji dengan regresi linier biasa, greenwashing menunjukkan arah negatif terhadap ROA, tetapi tidak signifikan secara statistik.Nilai signifikansi greenwashing tercatat 0,180, yang berarti lebih besar dari ambang 0,05. Dengan kata lain, data tidak cukup kuat untuk menyatakan greenwashing langsung memengaruhi ROA dalam model dasar. Dalam model ini, ESG juga tidak signifikan terhadap ROA.Namun, ada satu variabel yang sangat jelas pengaruhnya: kapitalisasi pasar.Kapitalisasi pasar terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan (nilai signifikansi 0,003).

ESG Terbukti Berperan Saat Diuji sebagai Moderator

Cerita berubah saat peneliti memasukkan interaksi Greenwashing × ESG dalam Moderated Regression Analysis.

Dalam model MRA:

  • greenwashing menjadi signifikan negatif (sig 0,021)
  • kapitalisasi pasar tetap signifikan positif (sig 0,001)
  • interaksi greenwashing × ESG signifikan (sig 0,046)

Artinya, ESG benar-benar memoderasi hubungan antara greenwashing dan kinerja keuangan.

Kesimpulan utama peneliti menyatakan:

  • Greenwashing berdampak negatif terhadap kinerja keuangan, tetapi efeknya tidak selalu terlihat jelas pada model biasa.
  • ESG yang kuat dapat melemahkan dampak negatif tersebut.

Dengan bahasa sederhana:
Perusahaan yang punya ESG kuat cenderung lebih “tahan banting” secara finansial, bahkan ketika komunikasi hijaunya tidak sepenuhnya selaras dengan praktik nyata.

Mengapa Greenwashing Tidak Langsung Menghancurkan ROA?

Penulis memberikan penjelasan yang relevan dengan konteks Indonesia.Mereka menyebut bahwa dampak greenwashing bisa tidak langsung terasa karena:

  1. stakeholder mungkin belum mampu mendeteksi greenwashing dengan baik,
  2. pengawasan dan penegakan regulasi masih lemah,
  3. perusahaan bisa memperoleh keuntungan persepsi jangka pendek.

Namun, arah hubungan yang negatif tetap sejalan dengan Legitimacy Theory: tindakan simbolik yang menyesatkan pada akhirnya bisa memicu risiko reputasi.

Dampak Praktis: Peringatan untuk Perusahaan, Investor, dan Regulator

Penelitian ini memberi pesan penting untuk banyak pihak.

1. Untuk perusahaan

Perusahaan disarankan tidak hanya fokus pada “narasi hijau”, tetapi memperkuat tindakan nyata. Dalam jangka panjang, legitimasi tidak bisa bertahan hanya dengan komunikasi.

2. Untuk regulator

Regulator didorong memperkuat pedoman, monitoring, dan sistem verifikasi klaim hijau agar greenwashing lebih sulit dilakukan.

3. Untuk investor

Investor disarankan tidak hanya melihat “label hijau”, tetapi menilai kualitas ESG yang benar-benar substansial, karena ESG terbukti punya peran penting dalam menjaga stabilitas kinerja perusahaan.

Catatan Penting: Ukuran Perusahaan Masih Jadi Faktor Terkuat

Salah satu temuan yang paling konsisten adalah peran kapitalisasi pasar.

Perusahaan besar cenderung punya kinerja keuangan lebih baik karena:

  • skala operasional lebih luas,
  • akses modal lebih kuat,
  • visibilitas investor lebih tinggi,
  • kapasitas manajemen risiko lebih besar.

Dalam konteks ini, perusahaan besar juga mungkin lebih mampu “mengelola dampak reputasi” ketika komunikasi hijau mereka dipertanyakan.

Profil Singkat Penulis

  • Dinda Rahmahani Aisyah - Universitas Negeri Malang
  • Diana Tien Irafahmi - Universitas Negeri Malang
  • Sri Pujiningsih - Universitas Negeri Malang

Sumber Penelitian

Dinda, Diana, Sri “The Effect of Greenwashing Practices on Corporate Financial Performance: The Moderating Role of ESG Performance”International Journal of Management Analytics (IJMA) Vol. 4 No. 1 (Januari 2026), halaman 35–44

DOI:https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.222                                                                                     

URL resmi: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma

Posting Komentar

0 Komentar