Gambar Ilustration AI
Penelitian yang dilakukan oleh Shella Sabrina Adeline, Amelia Gunawan, Reva Theresia, Pipit Pirdiah, dan Sherli Indah Astuti dari Universitas Swadaya Gunung Jati menyoroti bahwa tingkat sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa ketika nilai Pancasila diterapkan secara konsisten dalam kebijakan dan budaya sekolah, hasilnya dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Krisis karakter dan tantangan generasi muda
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya digital, sekolah menghadapi tantangan serius dalam membentuk karakter generasi muda. Fenomena seperti menurunnya disiplin, meningkatnya individualisme, hingga melemahnya rasa nasionalisme menjadi perhatian banyak pihak. Dalam konteks inilah Pancasila kembali dipandang relevan sebagai sumber nilai moral dan sosial yang mampu menjadi fondasi pendidikan karakter.
SMP Negeri 1 Suranenggala dipilih sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini dikenal aktif mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran, budaya sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Lingkungan sekolah yang multikultural juga menjadikan penerapan nilai toleransi, persatuan, dan keadilan sosial semakin kontekstual.
Cara penelitian dilakukan
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara sederhana namun mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dan observasi di sekolah, melibatkan kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta para siswa. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat langsung bagaimana kebijakan pendidikan karakter dijalankan dalam keseharian, bukan hanya tertulis di dokumen resmi.
Tiga jalur utama pendidikan karakter
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila di SMP Negeri 1 Suranenggala berjalan melalui tiga jalur utama:
Budaya sekolah yang konsisten, Sekolah membangun kebiasaan rutin seperti berdoa sebelum belajar, menyanyikan lagu Indonesia Raya, upacara bendera, kegiatan Jumat Bersih, serta kebiasaan saling menyapa dengan salam Pancasila. Praktik sederhana ini terbukti efektif menanamkan disiplin, rasa hormat, dan kebersamaan di kalangan siswa.
Ekstrakurikuler dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Kegiatan seperti Pramuka, Paskibra, dan organisasi siswa menjadi ruang latihan kepemimpinan dan gotong royong. Melalui P5, siswa dilibatkan dalam proyek tematik seperti cinta lingkungan, anti-perundungan, dan kepedulian sosial, sehingga nilai Pancasila dipraktikkan dalam aksi nyata.
Implikasi bagi dunia pendidikan
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa
pendidikan karakter berbasis Pancasila dapat dijalankan secara efektif jika
diintegrasikan dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. Model yang diterapkan di
SMP Negeri 1 Suranenggala dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain, terutama
dalam membangun budaya sekolah yang konsisten dan melibatkan seluruh warga
sekolah.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini
menegaskan pentingnya memberi ruang yang cukup bagi pendidikan karakter, tidak
hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk kepribadian siswa secara
utuh.
Profil Penulis
Shella Sabrina Adeline, S.Pd. – Universitas Swadaya Gunung Jati, bidang pendidikan dan kebijakan pendidikan
Amelia Gunawan, S.Pd. – Universitas Swadaya Gunung Jati, bidang pendidikan karakter
Reva Theresia, S.Pd. – Universitas Swadaya Gunung Jati, bidang pendidikan kewarganegaraan
Pipit Pirdiah, S.Pd. – Universitas Swadaya Gunung Jati, bidang pendidikan sosial
Sherli Indah Astuti, S.Pd. – Universitas Swadaya Gunung Jati, bidang pendidikan karakter
Sumber Penelitian
Shella Sabrina Adeline, Amelia Gunawan, Pipit
Pirdiah, Sherli Indah Astuti. Analysis of the
Influence of Pancasila Ideology on the Implementation of Character Education
Policy at State Junior High School 1 Suranenggala Cirebon Regency. Formosa
Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol.
5 No. 1, hlm 255–266. 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.559
URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas

0 Komentar