Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Hafis, Muhammad Junaidi, Abel Muhammad Zahrian, Alfatihah Rizqullaah, dan Dicky Pratama dari Universitas Multi Data Palembang menyoroti bahwa transformasi digital tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi canggih, tetapi sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur TI, tata kelola yang kuat, dan keamanan siber yang terintegrasi.
Transformasi digital dan masalah infrastruktur di lapangan
Penelitian
dari Universitas Multi Data Palembang menyoroti bahwa masalah utama sering kali
terletak pada infrastruktur TI yang lemah, baik dari sisi jaringan,
kapasitas sistem, maupun keamanan. Infrastruktur yang tidak adaptif membuat
organisasi kesulitan merespons lonjakan data, perubahan kebutuhan pengguna, dan
ancaman siber yang semakin kompleks.
Selain
itu, kesenjangan kompetensi sumber daya manusia dan lemahnya tata kelola TI
memperbesar risiko kegagalan transformasi digital. Tanpa arah strategis yang
jelas, investasi teknologi berpotensi menjadi beban biaya, bukan pengungkit
kinerja.
Metodologi:
membaca ulang peta besar transformasi digital
Berbeda
dengan studi lapangan atau survei, penelitian ini menggunakan studi
literatur sistematis sederhana. Tim peneliti menelaah berbagai jurnal
ilmiah, buku akademik, dan publikasi resmi yang membahas infrastruktur TI dan
transformasi digital.
Temuan
dari berbagai sumber tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dan
dikelompokkan ke dalam tiga dimensi utama: teknologi, manajerial,
dan keamanan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat transformasi
digital secara utuh, tidak terpisah-pisah antara aspek teknis dan nonteknis.
Dengan
metode ini, artikel memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana
infrastruktur TI berfungsi sebagai fondasi strategis, bukan sekadar alat
pendukung operasional.
Temuan
utama: cloud, jaringan adaptif, dan keamanan siber
Hasil
analisis menunjukkan bahwa ada tiga komponen infrastruktur TI yang paling
menentukan keberhasilan transformasi digital.
Pertama, cloud
computing. Teknologi cloud memberikan fleksibilitas dan skalabilitas
tinggi, memungkinkan organisasi menyesuaikan kapasitas sistem sesuai kebutuhan.
Peralihan dari infrastruktur fisik ke model berbasis layanan juga dinilai lebih
efisien secara biaya dan operasional.
Kedua, jaringan
adaptif. Infrastruktur jaringan yang andal dan fleksibel menjadi tulang
punggung layanan digital. Tanpa jaringan yang stabil, layanan daring rentan
mengalami gangguan yang berdampak langsung pada kepuasan dan kepercayaan
pengguna.
Ketiga, cybersecurity.
Keamanan siber muncul sebagai faktor krusial yang tidak bisa dipisahkan dari
desain infrastruktur. Penelitian ini menegaskan pentingnya prinsip security
by design, yaitu keamanan yang sudah terintegrasi sejak tahap perancangan
sistem, bukan ditambahkan belakangan.
Namun, penelitian juga menemukan bahwa kemajuan teknologi ini sering tidak diimbangi oleh kesiapan tata kelola dan kualitas sumber daya manusia. Banyak organisasi memiliki teknologi memadai, tetapi belum mampu mengelolanya secara strategis.
Dampak dan implikasi bagi sektor publik dan swasta
Temuan ini
memiliki implikasi luas. Bagi pemerintah, studi ini memperkuat pesan bahwa
digitalisasi layanan publik harus dimulai dari penguatan infrastruktur TI dan
tata kelola yang matang. Layanan digital yang aman dan andal berkontribusi
langsung pada kepercayaan publik.
Bagi dunia
usaha, infrastruktur TI yang adaptif dan aman menjadi kunci daya saing di era
ekonomi digital. Perusahaan yang mengabaikan aspek ini berisiko tertinggal,
terutama ketika menghadapi perubahan pasar yang cepat dan ancaman siber yang
terus berkembang.
Dalam
konteks pendidikan dan pengembangan SDM, penelitian ini menekankan pentingnya
peningkatan kompetensi di bidang manajemen TI dan keamanan digital, bukan hanya
keterampilan teknis semata.
Profil penulis
Muhammad Hafis, mahasiswa dan peneliti bidang sistem informasi dan transformasi digital, Universitas Multi Data Palembang.
Muhammad Junaidi, akademisi di bidang teknologi informasi dan manajemen TI, Universitas Multi Data Palembang.
Abel Muhammad Zahrian, peneliti bidang infrastruktur TI dan layanan digital, Universitas Multi Data Palembang.
Alfatihah Rizqullaah, peneliti bidang transformasi digital dan tata kelola TI, Universitas Multi Data Palembang.
Dicky Pratama, peneliti bidang sistem informasi dan keamanan siber, Universitas Multi Data Palembang.
Sumber
Penelitian
Muhammad
Hafis, Muhammad Junaidi, Abel Muhammad Zahrian, Alfatihah Rizqullaah, Dicky
Pratama “Analysis of Information Technology Infrastructure as a Strategic
Foundation for Digital Transformation”. Formosa Journal of Applied
Sciences (FJAS) Vol. 5, No. 1 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.556
URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas

0 Komentar