Akuntansi Air Dinilai Mampu Tekan Biaya Irigasi dan Naikkan Pendapatan Petani Gorontalo Utara

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Gorontalo - Keterbatasan akses air irigasi masih menjadi masalah serius bagi petani di Kota Gorontalo Utara, Sulawesi. Sebuah studi terbaru yang ditulis Zulkifli Bokiu bersama Eduart Wolok, Hasyim, dan Sahmin Noholo dari Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa penerapan akuntansi air (water accounting) berpotensi menjadi solusi penting untuk meningkatkan efisiensi irigasi sekaligus menjaga pendapatan petani. Penelitian ini dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA) dan menyoroti dampak ekonomi langsung dari krisis air di sektor pertanian.

Riset tersebut menjadi penting karena air adalah faktor penentu utama keberhasilan produksi pangan, khususnya padi. Di Gorontalo Utara, banyak petani tidak lagi bisa mengandalkan saluran irigasi sebagai sumber air utama. Infrastruktur yang rusak dan distribusi air yang tidak stabil memaksa petani beralih ke air tanah dengan pompa, sebuah pilihan mahal yang secara langsung memangkas keuntungan usaha tani.

Ketika Irigasi Tak Lagi Andal

Dalam beberapa tahun terakhir, petani di Gorontalo Utara menghadapi kondisi irigasi yang jauh dari ideal. Saluran air yang seharusnya mengalirkan air secara kontinu justru sering kering atau bocor. Akibatnya, jadwal tanam terganggu dan produktivitas menurun.

“Air irigasi seharusnya menjadi sumber air termurah dan paling mudah diakses oleh petani,” tulis Zulkifli Bokiu dan timnya. Namun di lapangan, kondisi yang terjadi justru sebaliknya. Ketika irigasi tidak berfungsi, petani tidak punya pilihan selain memompa air tanah.

Masalahnya, penggunaan pompa air membutuhkan biaya bahan bakar atau listrik, perawatan mesin, hingga ongkos operator. Semua itu menambah biaya produksi yang tidak kecil, terutama bagi petani skala kecil.

Metode Lapangan, Cerita Nyata Petani

Berbeda dari riset berbasis angka semata, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Tim peneliti turun langsung ke lapangan, mengamati kondisi saluran irigasi, pola distribusi air, serta indikasi kebocoran dan pencemaran.

Wawancara mendalam dilakukan dengan petani, pengelola irigasi, pejabat pemerintah daerah, hingga pihak terkait kebijakan pangan. Dokumen kebijakan dan peta jaringan irigasi juga dianalisis untuk memverifikasi temuan lapangan.

Pendekatan ini memberi gambaran utuh tentang bagaimana persoalan air dirasakan langsung oleh petani, bukan sekadar tercatat dalam laporan administratif.

Biaya Tinggi, Pendapatan Tertekan

Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten: semakin besar ketergantungan pada air tanah, semakin tinggi biaya produksi. Pengeluaran untuk pompa air menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha tani.

Petani mengaku keuntungan mereka terus tergerus. Dalam kondisi normal, air irigasi seharusnya menekan biaya dan menjaga stabilitas hasil panen. Namun ketika air harus “dibeli” melalui pompa, margin keuntungan menyempit drastis.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah kualitas air. Air tanah maupun air irigasi di beberapa lokasi tercemar limbah rumah tangga akibat perkembangan permukiman di sekitar lahan pertanian. Limbah ini tidak hanya menurunkan kualitas air, tetapi juga berdampak pada kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Minimnya Respons Pemerintah

Penelitian ini juga menyoroti lemahnya respons institusi terkait. Petani merasa kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, terutama dalam hal perbaikan saluran irigasi. Upaya pemerintah dinilai masih terbatas pada distribusi pupuk dan penarikan pajak lahan, tanpa dialog langsung untuk mencari solusi atas krisis air.

Tidak adanya forum komunikasi yang melibatkan petani membuat persoalan irigasi seolah berlarut-larut tanpa kejelasan penyelesaian. Padahal, tanpa perbaikan infrastruktur air, program ketahanan pangan sulit berjalan optimal.

Akuntansi Air sebagai Jalan Keluar

Di tengah situasi ini, konsep akuntansi air muncul sebagai rekomendasi utama. Akuntansi air adalah pendekatan untuk mencatat, menghitung, dan menganalisis penggunaan air secara sistematis, sehingga petani dan pembuat kebijakan dapat memahami ke mana air mengalir, berapa yang terbuang, dan berapa biaya sebenarnya yang dikeluarkan.

Menurut para peneliti, penerapan akuntansi air dapat membantu:

  • Mengidentifikasi pemborosan air di tingkat irigasi dan lahan,
  • Menghitung biaya riil penggunaan air, termasuk air tanah,
  • Menjadi dasar perencanaan perbaikan irigasi yang lebih tepat sasaran.

“Akuntansi air dapat menjadi fondasi perencanaan pengelolaan air yang efisien dan berkelanjutan,” tulis Zulkifli Bokiu, seraya menekankan pentingnya kolaborasi aktif antara pemerintah dan petani.

Dampak Lebih Luas bagi Ketahanan Pangan

Implikasi penelitian ini tidak hanya relevan bagi Gorontalo Utara. Banyak daerah pertanian di Indonesia menghadapi masalah serupa: irigasi rusak, air tercemar, dan biaya produksi melonjak.

Jika diterapkan secara konsisten, akuntansi air dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan berbasis data nyata di lapangan. Perbaikan irigasi, pengendalian limbah rumah tangga, dan pengurangan ketergantungan pada air tanah akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan stabilitas produksi pangan.

Profil Singkat Penulis

  • Zulkifli Bokiu, S.P., M.Si. – Dosen dan peneliti di Universitas Negeri Gorontalo, bidang ekonomi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam.
  • Eduart Wolok, Ph.D. – Akademisi Universitas Negeri Gorontalo, fokus pada kebijakan publik dan pembangunan berkelanjutan.
  • Hasyim, M.Si. – Peneliti di bidang pertanian dan lingkungan, Universitas Negeri Gorontalo.
  • Sahmin Noholo, M.Si. – Dosen Universitas Negeri Gorontalo dengan keahlian ekonomi pembangunan dan agribisnis.

Sumber Penelitian

Zulkifli Bokiu, Eduart Wolok, Hasyim, Sahmin Noholo. Water Accounting in Improving Irrigation Efficiency and Farmers’ Income Amid Limited Water Access in North Gorontalo City. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, 2026, hlm. 39–48. DOI: 10.55927/ijaea.v5i1.15773 

Posting Komentar

0 Komentar