Artikel ilmiah ini merangkum berbagai bukti internasional tentang upaya pencegahan prediabetes yang berkaitan langsung dengan kebiasaan duduk terlalu lama, minim aktivitas fisik, dan tingginya paparan gawai pada remaja. Di tengah meningkatnya angka penyakit tidak menular pada usia muda, kajian ini menegaskan bahwa intervensi kesehatan harus dimulai sejak dini, terencana, dan berkelanjutan.
Remaja Makin Kurang Gerak, Risiko Metabolik Meningkat
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola hidup remaja secara drastis. Waktu duduk yang panjang, aktivitas fisik yang rendah, serta penggunaan gawai berlebihan kini menjadi bagian dari keseharian. Berbagai studi menunjukkan kondisi ini berkaitan erat dengan peningkatan resistensi insulin, obesitas sentral, dan gangguan metabolik lain yang menjadi pintu masuk prediabetes.
Prediabetes pada remaja bukan sekadar masalah sementara. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa, dengan risiko komplikasi kardiovaskular yang lebih tinggi di masa depan. Karena sebagian besar faktor risikonya dapat dimodifikasi, promosi kesehatan berbasis perilaku dinilai sebagai strategi paling rasional dan efektif.
Namun, banyak program kesehatan masih berfokus pada penyuluhan satu arah tanpa dukungan lingkungan dan kebiasaan jangka panjang. Di sinilah kajian Moch. Yunus dan tim menjadi relevan.
Menyaring Bukti dari Berbagai Negara
Penelitian ini menggunakan metode systematic public health review. Tim peneliti menelaah ribuan artikel ilmiah dari basis data internasional seperti PubMed, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, lalu menyaringnya secara ketat hingga terpilih 10 artikel penelitian utama yang relevan dan berkualitas.
Studi-studi tersebut diterbitkan dalam rentang 2020–2025 dan mencakup berbagai desain riset, mulai dari intervensi berbasis sekolah, komunitas, tempat kerja, hingga penggunaan teknologi digital. Analisis dilakukan secara tematik untuk melihat pola strategi promosi kesehatan yang paling efektif dalam menekan risiko prediabetes dan sindrom metabolik.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menarik kesimpulan lintas konteks dan budaya, sekaligus mengidentifikasi kesenjangan dalam praktik promosi kesehatan remaja.
Intervensi Multilevel Lebih Efektif
Hasil kajian menunjukkan satu pola yang konsisten: intervensi multilevel berbasis model sosial-ekologis lebih efektif dibandingkan pendekatan edukasi pasif.
Beberapa temuan utama yang disoroti antara lain:
· Program berbasis sekolah yang menggabungkan aktivitas fisik terukur, edukasi gizi, dan dukungan psikososial mampu memperbaiki indikator metabolik seperti tekanan darah, profil lipid, dan lingkar pinggang.
· Intervensi komunitas dengan dukungan sosial yang kuat, seperti kelompok sebaya atau organisasi lokal, menunjukkan keberhasilan lebih besar dalam mempertahankan perubahan perilaku sehat.
· Pendekatan berbasis kebiasaan (habit-based) selama minimal enam bulan terbukti lebih berkelanjutan dibandingkan program jangka pendek.
· Teknologi kesehatan digital, seperti aplikasi aktivitas fisik dan smart activity tracker, efektif meningkatkan frekuensi bergerak dan menurunkan indikator risiko metabolik.
Program yang ditargetkan pada kelompok berisiko tinggi memberikan hasil yang lebih signifikan dibandingkan pendekatan umum.Menurut para penulis, keberhasilan program bukan hanya ditentukan oleh materi edukasi, tetapi oleh bagaimana lingkungan sosial, sekolah, dan teknologi saling mendukung perubahan perilaku remaja.
Peran Sekolah dan Teknologi Digital
Sekolah muncul sebagai arena strategis dalam pencegahan prediabetes remaja. Studi-studi yang dikaji menunjukkan bahwa intervensi terstruktur di sekolah mampu menjangkau remaja secara konsisten dan membentuk kebiasaan sehat sejak dini.
Di sisi lain, teknologi digital menjadi peluang besar. Remaja yang sudah akrab dengan gawai justru dapat diarahkan menggunakan aplikasi kesehatan sebagai alat pemantau aktivitas dan motivasi. Umpan balik real-time dari perangkat digital terbukti meningkatkan kepatuhan terhadap aktivitas fisik.
Moch. Yunus dan tim menilai pendekatan digital bukan pengganti, melainkan pelengkap program sekolah dan komunitas. Integrasi ketiganya dinilai paling menjanjikan.
Implikasi bagi Kebijakan dan Masyarakat
Temuan ini memiliki implikasi luas. Bagi pembuat kebijakan, riset ini menegaskan perlunya desain program promosi kesehatan remaja yang lintas sektor, melibatkan pendidikan, kesehatan, keluarga, dan teknologi.
Bagi sekolah, hasil kajian ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan edukasi gizi tidak cukup dijadikan kegiatan tambahan, tetapi harus terintegrasi dalam ekosistem belajar. Sementara bagi orang tua dan masyarakat, dukungan lingkungan rumah dan komunitas menjadi faktor penentu keberlanjutan perilaku sehat remaja.
Dalam jangka panjang, strategi promotif-preventif yang tepat berpotensi menekan beban penyakit tidak menular dan biaya kesehatan nasional.
Profil Penulis
Moch.
Yunus, M.Kes. adalah
dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang dengan
keahlian di bidang kesehatan masyarakat dan promosi kesehatan.
Tisnalia Merdya Andyastanti, M.Kes. menekuni riset kesehatan preventif
dan intervensi berbasis komunitas.
Erianto Fanani, M.Kes. berfokus pada epidemiologi penyakit tidak menular dan kesehatan remaja. Ketiganya aktif meneliti isu gaya hidup dan pencegahan penyakit metabolik.
Sumber Penelitian
Yunus,
M., Andyastanti, T. M., & Fanani, E. (2026). Multilevel Health Promotion
Strategies to Prevent Prediabetes Related to Sedentary Lifestyles in
Adolescents: A Systematic Public Health Review. Indonesian Journal of
Advanced Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 35–50.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.16010

0 Komentar