FORMOSA NEWS
Baguio- Memilih jurusan saat SMA bukan sekadar soal mata pelajaran—tetapi juga tentang mimpi, tekanan, dan proses menemukan jati diri. Bagi siswa Accountancy, Business, and Management (ABM) yang bersekolah di science high school, perjalanan akademik itu sering kali terasa dua kali lebih menantang.
Sekolah sains dikenal dengan ritme belajar yang cepat, standar akademik tinggi, dan budaya kompetitif. Lalu bagaimana rasanya menjadi siswa ABM di lingkungan seperti ini? Apa saja tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana cara mereka bertahan?
Sebuah penelitian kualitatif di Baguio City, Filipina, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mendengarkan langsung suara para siswa.
Sekolah Sains dan ABM: Kombinasi yang Menantang
Program ABM dirancang untuk membekali siswa dengan dasar-dasar akuntansi, keuangan, bisnis, dan kewirausahaan. Namun, ketika program ini dijalankan di sekolah sains, tuntutannya menjadi lebih kompleks.
Para siswa tidak hanya harus menguasai mata pelajaran bisnis seperti Business Finance dan Fundamentals of Accountancy, tetapi juga harus mengikuti mata pelajaran sains yang padat, tugas menumpuk, dan tenggat waktu yang ketat. Banyak siswa mengaku merasa lelah secara mental dan fisik, terutama saat beberapa deadline datang bersamaan.
Meski begitu, mereka tetap bertahan. Mengapa?
Komitmen pada Pilihan: “Ini Memang Jalanku”
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah kuatnya motivasi internal siswa. Banyak siswa ABM memilih jurusan ini karena sesuai dengan minat dan rencana masa depan mereka—entah ingin menjadi akuntan, pengusaha, atau profesional di bidang bisnis.
Kesadaran bahwa mereka berada di jalur yang tepat membuat beban belajar terasa lebih bermakna. Tantangan tidak lagi dipandang sebagai hambatan, tetapi sebagai bagian dari proses menuju cita-cita.
Cara Bertahan di Tengah Tekanan Akademik
Tekanan akademik memang nyata, tetapi para siswa tidak tinggal diam. Mereka mengembangkan berbagai strategi bertahan, antara lain:
- Menyusun jadwal belajar yang realistis
- Belajar kelompok bersama teman
- Mengambil jeda singkat untuk menghindari kelelahan
- Menjaga pola pikir positif
- Saling memberi dukungan dengan teman seangkatan
Bagi mereka, teman seperjuangan adalah sumber kekuatan penting. Berbagi keluh kesah, belajar bersama, dan saling menyemangati membuat tekanan terasa lebih ringan.
Belajar dari Pengalaman Nyata: Bukan Sekadar di Kelas
Pengalaman paling berkesan bagi siswa ABM justru sering datang dari luar kelas. Kegiatan seperti E-Startup Day, proyek kewirausahaan, dan program pengabdian masyarakat memberi mereka kesempatan untuk:
- Menerapkan teori ke dunia nyata
- Melatih kepemimpinan dan kerja tim
- Mengasah kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah
Melalui kegiatan ini, siswa menyadari bahwa belajar tidak selalu tentang nilai, tetapi tentang pengalaman dan keterampilan hidup.
Tantangan yang Membentuk Karakter
Menariknya, semua siswa sepakat bahwa tantangan—meski melelahkan—justru menjadi guru terbaik. Deadline ketat, konflik dalam tim, hingga kegagalan akademik memaksa mereka belajar tentang:
- Disiplin dan tanggung jawab
- Manajemen waktu
- Ketangguhan mental
- Refleksi diri
Banyak siswa mengaku bahwa pengalaman di ABM membuat mereka lebih dewasa dan siap menghadapi dunia perkuliahan maupun dunia kerja.
Peran Guru dan Lingkungan Sekolah
Dukungan guru juga memainkan peran besar. Guru yang terbuka, mau membimbing, dan menyediakan sumber belajar yang memadai membantu siswa melewati masa-masa sulit. Lingkungan sekolah yang memberi ruang refleksi dan pengalaman nyata membuat proses belajar terasa lebih manusiawi.
Penutup: ABM sebagai Proses Bertumbuh
Kisah siswa ABM di sekolah sains bukan hanya cerita tentang tekanan akademik, tetapi juga tentang ketekunan, kolaborasi, dan pertumbuhan pribadi. Mereka belajar bahwa kesuksesan tidak datang tanpa usaha, dan bahwa tantangan adalah bagian penting dari perjalanan.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa di balik angka, nilai, dan kurikulum, ada manusia muda yang sedang belajar memahami diri mereka sendiri—dan masa depan mereka.
Penulis:
Jojo Ivan D. Inuguidan
Ifugao State University, Lamut, Philippines
Sumber Jurnal:
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 1, 2026

0 Komentar