FORMOSA NEWS
Baguio- Siswa jurusan Accountancy, Business, and Management (ABM) di sebuah SMA sains swasta di Baguio City menghadapi tekanan akademik tinggi, tetapi mampu bertahan melalui motivasi pribadi, manajemen waktu, dan dukungan sosial. Temuan ini diungkapkan oleh Jojo Ivan D. Inuguidan dari Ifugao State University, Filipina, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Hasilnya penting karena memberi gambaran nyata bagaimana siswa non-sains beradaptasi di lingkungan sekolah sains yang kompetitif.
Lingkungan SMA sains dikenal dengan ritme belajar cepat, tuntutan akademik tinggi, dan budaya kompetisi. Bagi siswa ABM—yang mempelajari akuntansi, bisnis, dan manajemen—kondisi ini menghadirkan tantangan ganda: menguasai mata pelajaran bisnis sambil menyesuaikan diri dengan kultur sains yang intens. Riset ini menyoroti pengalaman harian siswa, bukan sekadar nilai atau capaian akademik.
Untuk menggali pengalaman tersebut, Inuguidan mewawancarai enam siswa ABM tingkat SMA yang telah menempuh setidaknya satu semester. Wawancara dilakukan secara mendalam dan dianalisis untuk menemukan pola pengalaman, tantangan, serta strategi bertahan yang mereka gunakan—tanpa jargon teknis yang rumit.
Temuan utama penelitian
Motivasi personal menjadi kunci. Siswa yang memilih ABM sesuai minat dan tujuan karier menunjukkan ketekunan lebih tinggi meski beban belajar berat.
Tekanan akademik nyata. Tumpukan tugas, tenggat yang berdekatan, dan materi kompleks memicu stres, terutama saat harus menyeimbangkan pelajaran bisnis dan sains.
Strategi bertahan yang efektif. Manajemen waktu, belajar kelompok, refleksi diri, dan dukungan teman sebaya membantu siswa mengelola tekanan.
Belajar dari kegiatan nyata. Partisipasi dalam acara sekolah seperti E-Startup Day dan program pengabdian masyarakat memperkuat pembelajaran, kepemimpinan, dan pemecahan masalah.
Peran guru dan sumber belajar. Bimbingan guru serta akses materi yang memadai memperkuat ketahanan akademik siswa.
Menurut Inuguidan, tantangan tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan peluang untuk tumbuh. “Siswa belajar disiplin, bertanggung jawab, dan fokus pada tujuan jangka panjang,” tulisnya, menegaskan pentingnya dukungan terstruktur dan kolaborasi dalam membangun ketahanan.
Implikasi penelitian
Bagi sekolah, hasilnya mendorong penguatan sistem pendampingan, pembelajaran kolaboratif, dan kegiatan berbasis praktik. Bagi pembuat kebijakan, temuan ini menegaskan perlunya dukungan non-akademik—seperti kesehatan mental dan pengembangan karakter—untuk siswa di lingkungan bertekanan tinggi. Dunia usaha dan pendidikan tinggi juga diuntungkan karena lulusan ABM terbukti mengasah soft skills sejak dini.
Profil Penulis
Jojo Ivan D. Inuguidan adalah peneliti dan pendidik di Ifugao State University, Filipina. Bidang keahliannya meliputi pendidikan menengah, pengalaman belajar siswa, dan pengembangan ketahanan akademik.
Sumber Penelitian
Inuguidan, J. I. D. (2026). Exploring the Lived Academic Experiences of ABM Students in a Science High School in Baguio City. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 1–12.
DOI:https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i1.528

0 Komentar