Mahasiswa semakin sulit lepas dari ponsel pintar. Sebuah kajian ilmiah terbaru yang ditulis Annisa Dian Karina dan Nida Hasanati dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkap bahwa kecanduan smartphone di kalangan mahasiswa tidak muncul secara tiba-tiba. Ada kombinasi faktor psikologis, sosial, dan kebiasaan harian yang memperbesar risiko, sekaligus sejumlah faktor pelindung yang terbukti mampu menekan perilaku adiktif tersebut. Studi ini dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Education and Psychological Science (IJEPS) dan menjadi salah satu rujukan penting untuk kampus, orang tua, serta pembuat kebijakan pendidikan.
Karina dan Hasanati menganalisis puluhan riset internasional untuk menjawab pertanyaan krusial: mengapa mahasiswa rentan kecanduan smartphone, dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Hasilnya relevan dengan realitas hari ini, ketika ponsel pintar menjadi alat utama belajar, bersosialisasi, sekaligus hiburan.
Masalah Global di Ruang Kuliah
Kecanduan smartphone—sering disebut problematic smartphone use—ditandai dengan dorongan menggunakan ponsel secara berlebihan dan sulit dikendalikan. Dampaknya tidak hanya soal waktu terbuang, tetapi juga menyentuh kesehatan fisik, mental, dan prestasi akademik. Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan mahasiswa bisa menghabiskan enam hingga sebelas jam per hari di depan layar, terutama untuk media sosial, hiburan, dan penelusuran web.
Di Indonesia, situasinya tak jauh berbeda. Lebih dari separuh mahasiswa berada pada tingkat kecanduan sedang hingga tinggi. Kondisi ini beriringan dengan meningkatnya keluhan kelelahan, gangguan tidur, stres, kesepian, hingga penurunan konsentrasi belajar.
Cara Peneliti Menggali Fakta
Alih-alih melakukan survei tunggal, Karina dan Hasanati menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Mereka menyeleksi dan menelaah 18 penelitian empiris yang terbit antara 2020–2025 dari basis data ilmiah bereputasi seperti Scopus dan Publish or Perish.
Dengan metode ini, penulis menyaring ratusan artikel untuk menemukan pola yang konsisten. Fokusnya jelas: mahasiswa perguruan tinggi, instrumen pengukuran terstandar, dan desain penelitian kuantitatif. Pendekatan sistematis ini membuat kesimpulan yang dihasilkan lebih kokoh dan representatif lintas negara.
Faktor Risiko: Tekanan Emosional hingga Pola Asuh
Hasil kajian menunjukkan sejumlah faktor risiko utama yang berulang muncul dalam berbagai penelitian:
Stres, kecemasan, dan depresi menjadi pemicu paling konsisten. Mahasiswa sering menggunakan smartphone sebagai pelarian dari tekanan akademik dan emosional.
Kesepian dan kecemasan keterikatan mendorong penggunaan ponsel untuk kompensasi sosial, terutama bagi mahasiswa perantau.
Pengalaman masa kecil yang tidak suportif, seperti kontrol psikologis orang tua atau kekerasan emosional, meningkatkan kerentanan kecanduan di masa kuliah.
Kebiasaan maladaptif, termasuk ruminasi (pikiran negatif berulang), kebosanan, kecemasan berlebihan soal kesehatan (cyberchondria), hingga gangguan pola makan, juga berkaitan dengan penggunaan smartphone berlebihan.
Kesulitan mengenali dan mengelola emosi (alexithymia) membuat individu lebih mudah mencari pelarian melalui layar.
Menurut Karina, temuan ini menguatkan pandangan bahwa kecanduan smartphone bukan sekadar soal teknologi, melainkan respons terhadap tekanan hidup. “Smartphone sering menjadi alat kompensasi ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi,” tulisnya dalam artikel.
Faktor Pelindung: Bukan Sekadar Menjauhkan Ponsel
Di sisi lain, kajian ini juga mengidentifikasi faktor pelindung yang efektif menekan kecanduan smartphone:
Kontrol diri dan regulasi emosi muncul sebagai penangkal paling kuat. Mahasiswa yang mampu mengelola impuls cenderung lebih sehat dalam menggunakan ponsel.
Mindfulness membantu mahasiswa lebih sadar terhadap kebiasaan digitalnya dan mengurangi penggunaan impulsif.
Aktivitas fisik rutin terbukti mengalihkan perhatian dari layar sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Dukungan sosial—dari keluarga, dosen, hingga lingkungan kampus—memperkuat rasa memiliki dan mengurangi kebutuhan kompensasi digital.
Manajemen waktu luang dan penetapan tujuan membuat aktivitas mahasiswa lebih terstruktur dan bermakna.
Harapan masa depan dan persepsi mobilitas sosial membantu mahasiswa, terutama dari latar ekonomi rendah, untuk tidak bergantung pada smartphone sebagai pelarian.
Hasanati menekankan bahwa faktor-faktor ini saling terkait. “Kontrol diri sering menjadi jembatan yang menjelaskan bagaimana stres atau kesepian bisa berujung pada kecanduan, atau sebaliknya, bagaimana dukungan sosial bisa melindungi mahasiswa,” jelasnya.
Dampak Nyata bagi Kampus dan Kebijakan
Temuan ini membawa implikasi luas. Bagi perguruan tinggi, pendekatan larangan penggunaan ponsel saja tidak cukup. Kampus didorong untuk mengembangkan program penguatan kesehatan mental, pelatihan kontrol diri, literasi kesehatan digital, hingga penyediaan ruang aktivitas fisik dan sosial yang positif.
Bagi pembuat kebijakan pendidikan, hasil kajian ini menjadi dasar untuk merancang intervensi preventif berbasis bukti ilmiah. Sementara bagi orang tua, penelitian ini mengingatkan pentingnya pola asuh suportif sejak dini.
0 Komentar