Bandung — Sebuah studi terbaru dari peneliti Telkom
University Prodi S1 Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif mengungkap bahwa humor visual—seperti karikatur, meme, dan satire
digital—kini memainkan peran strategis dalam komunikasi politik modern,
pembentukan opini publik, hingga diplomasi internasional. Penelitian yang
dilakukan Samsul Alam dari School of Creative Industries itu menunjukkan bahwa
humor bukan lagi sekadar hiburan, melainkan alat soft power yang mampu
memengaruhi masyarakat tanpa paksaan.
Dalam kajiannya yang dipublikasikan di International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) edisi Desember 2025, Alam mengintegrasikan temuan dari 34 artikel ilmiah lintas disiplin, termasuk komunikasi politik, visual studies, etika media, hingga hubungan internasional. Hasilnya, ia menemukan lima kecenderungan utama terkait peran humor dalam dinamika politik kontemporer.
Humor Memengaruhi Agenda Publik
Penelitian ini mengungkap bahwa humor kini digunakan sebagai strategi politik untuk menarik perhatian, membangun kedekatan emosional, dan menurunkan resistensi masyarakat terhadap isu tertentu. Politisi memanfaatkan candaan, satire, hingga konten humor di media sosial untuk memoles citra dan menguatkan dukungan, terutama di kalangan generasi muda.
Karikatur Jadi Alat Kritik Kekuasaan
Karikatur dinilai tetap relevan sebagai media kritik yang kuat. Distorsi visual, ironi, dan metafora terbukti mampu mengungkap praktik korupsi, dominasi kekuasaan, dan ketimpangan politik dalam bentuk yang mudah dipahami publik.
Humor sebagai Soft Power dalam Diplomasi
Tak hanya di ranah domestik, humor kini digunakan
negara dalam membangun citra global. Dalam diplomasi digital, penggunaan meme
atau konten humor dinilai mampu melembutkan pesan politik, membangun simpati,
bahkan menegosiasikan konflik melalui komunikasi yang lebih cair.
Risiko Etika dalam Humor Politik
Penggunaan humor ternyata membawa sejumlah persoalan
etika. Representasi yang bias, stereotip, hingga potensi dehumanisasi terhadap
kelompok tertentu menjadi perhatian serius.
Ledakan Humor di Era Media Sosial
Studi ini menyoroti perubahan besar ketika masyarakat
kini menjadi produsen humor melalui meme, video pendek, dan konten satir.
Algoritma media sosial mempercepat penyebaran humor politis, sehingga satire
dapat dengan cepat membentuk opini publik.
Kerangka Baru: Ethical Soft Power Framework
Sebagai kontribusi teoretis, Alam memperkenalkan
Ethical Soft Power Framework for Visual Humor yang menekankan bahwa humor harus
digunakan secara etis untuk mempertahankan legitimasi politik.
Pentingnya Etika di Era Digital
Alam menegaskan perlunya pedoman etika bagi pembuat
konten, jurnalis, ilustrator, dan komunikator publik.
0 Komentar