Pelatihan Keselamatan Radiasi di Padang Tingkatkan Literasi Tenaga Kesehatan Secara Signifikan

Ilustrasi by AI

Padang — Pelatihan keselamatan radiasi berbasis teknologi elektromedis yang dilaksanakan di RS Siti Rahmah Kota Padang pada Januari 2026 terbukti meningkatkan literasi keselamatan radiasi tenaga kesehatan secara signifikan. Kegiatan yang dilakukan oleh Fauzyah Aprillia, Cicillia Artitin, dan Santa Mareta dari Universitas Baiturrahmah ini dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) tahun 2026. Program pelatihan menggunakan simulasi radiasi berbasis Arduino sebagai media pembelajaran interaktif yang membantu tenaga kesehatan memahami risiko paparan radiasi secara lebih konkret dan praktis.

Temuan ini menjadi penting karena penggunaan peralatan radiologi di fasilitas kesehatan terus meningkat seiring perkembangan teknologi diagnostik medis. Tenaga kesehatan tidak hanya radiografer, tetapi juga perawat dan tenaga pendukung lainnya turut berinteraksi dengan lingkungan yang berpotensi terpapar radiasi. Tanpa literasi keselamatan radiasi yang memadai, risiko paparan radiasi terhadap tenaga kesehatan maupun pasien dapat meningkat.

Masalah rendahnya pemahaman prinsip keselamatan radiasi masih banyak ditemukan terutama pada tenaga kesehatan nonradiologi. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan pelatihan berbasis praktik yang memanfaatkan media teknologi interaktif. Sebagian besar pelatihan masih menggunakan metode konvensional yang kurang memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam memahami bahaya radiasi dan langkah perlindungannya.

Program pelatihan yang dilaksanakan tim Universitas Baiturrahmah dirancang menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui kombinasi ceramah, demonstrasi simulasi radiasi, praktik langsung penggunaan alat pelindung radiasi, serta evaluasi pre-test dan post-test. Kegiatan berlangsung selama satu hari dan diikuti oleh 30 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat, tenaga medis, dan tenaga pendukung layanan radiologi di RS Siti Rahmah Padang.

Materi pelatihan mencakup prinsip dasar keselamatan radiasi, efek biologis radiasi terhadap tubuh manusia, prinsip proteksi radiasi seperti justifikasi, optimasi, dan pembatasan dosis, serta penggunaan alat pelindung diri seperti apron timbal dan pelindung tiroid. Peserta juga mengikuti simulasi paparan radiasi menggunakan perangkat berbasis Arduino yang dirancang untuk memvisualisasikan tingkat paparan radiasi secara sederhana namun interaktif sehingga mudah dipahami oleh peserta dengan latar belakang berbeda.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan setelah mengikuti pelatihan. Berdasarkan data pada halaman 139 artikel, nilai rata-rata peserta meningkat dari 55 sebelum pelatihan menjadi 85 setelah pelatihan dilaksanakan. Uji statistik juga menunjukkan perbedaan yang bermakna secara signifikan dengan nilai signifikansi p < 0,05, yang menegaskan efektivitas metode pelatihan berbasis simulasi teknologi elektromedis dalam meningkatkan pemahaman keselamatan radiasi tenaga kesehatan.

Selain peningkatan pengetahuan, observasi selama kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan peserta dalam menggunakan alat pelindung radiasi serta memahami posisi aman terhadap sumber radiasi. Peserta menjadi lebih mampu menerapkan prinsip perlindungan radiasi dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.

Menurut Fauzyah Aprillia dari Universitas Baiturrahmah, penggunaan media simulasi berbasis Arduino membantu peserta memahami konsep radiasi yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi lebih nyata dan mudah dipahami. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung dinilai mampu meningkatkan keterlibatan peserta sekaligus memperkuat kesadaran keselamatan kerja di lingkungan layanan kesehatan.

Pelatihan ini juga memperlihatkan bahwa integrasi teknologi sederhana dalam program edukasi kesehatan dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan secara cepat dan aplikatif. Simulasi visual paparan radiasi membantu peserta memahami hubungan antara jarak, durasi paparan, dan penggunaan alat pelindung terhadap tingkat risiko radiasi.

Temuan lain menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang menggabungkan aspek kognitif dan keterampilan praktik memberikan dampak yang lebih komprehensif dibandingkan metode pembelajaran teoritis saja. Peserta tidak hanya memahami konsep keselamatan radiasi, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam lingkungan kerja.

Secara lebih luas, peningkatan literasi keselamatan radiasi tenaga kesehatan memiliki implikasi penting terhadap kualitas pelayanan medis. Pemahaman yang baik tentang proteksi radiasi membantu mengurangi risiko paparan berlebihan bagi tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan keselamatan pasien dalam penggunaan teknologi radiologi diagnostik.

Tim peneliti Universitas Baiturrahmah menekankan bahwa model pelatihan berbasis simulasi teknologi elektromedis memiliki potensi besar untuk diterapkan secara berkelanjutan di berbagai fasilitas kesehatan lainnya. Pendekatan ini dinilai efektif sebagai strategi edukasi keselamatan radiasi yang praktis, mudah direplikasi, dan relevan dengan kebutuhan tenaga kesehatan di era modernisasi layanan medis.

Program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas kesehatan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor kesehatan. Dengan dukungan pelatihan berbasis teknologi interaktif, tenaga kesehatan dapat lebih siap menghadapi risiko kerja yang berkaitan dengan penggunaan peralatan radiologi.

Profil Penulis

Fauzyah Aprillia, Universitas Baiturrahmah
Cicillia Artitin, Universitas Baiturrahmah
Santa Mareta, Universitas Baiturrahmah

Sumber Penelitian

Artikel: Improving Radiation Safety Literacy Among Healthcare Workers Through Electromedical Technology-Based Training in Padang City
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF)
Tahun: 2026

Posting Komentar

0 Komentar