Usaha Pancing Nelayan Tapalang Terbukti Menguntungkan, Pendapatan Rata-Rata Hampir Rp2 Juta per Bulan



Nelayan pengguna alat tangkap pancing di Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, terbukti masih mampu memperoleh keuntungan yang layak dari aktivitas penangkapan ikan tradisional. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi, Kamaruddin, dan Dewi Febriani Hamjan dari Universitas Muhammadiyah Mamuju. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Juli 2025 dan hasilnya dipublikasikan dalam International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR) tahun 2026. Hasil penelitian ini penting karena memberikan gambaran nyata mengenai tingkat pendapatan, kelayakan usaha, serta faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan nelayan tradisional di daerah pesisir.

Sektor perikanan merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir Indonesia. Namun, sebagian besar nelayan masih bekerja dalam skala kecil dengan keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Kondisi tersebut juga ditemukan di Kecamatan Tapalang yang berada di wilayah pesisir Selat Makassar. Meskipun memiliki potensi perikanan yang besar, banyak nelayan masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga ikan, tingginya biaya operasional, ketergantungan pada musim, dan keterbatasan jaringan pemasaran.

Menurut para peneliti, kajian mengenai pendapatan nelayan di Tapalang masih relatif terbatas. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi ekonomi nelayan pengguna alat tangkap pancing, termasuk membandingkan efektivitas beberapa jenis alat tangkap yang digunakan masyarakat setempat.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei terhadap seluruh populasi nelayan pengguna alat tangkap pancing di Kecamatan Tapalang. Sebanyak 40 nelayan dilibatkan sebagai responden melalui metode sensus. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, kuesioner, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan terhadap pendapatan, biaya operasional, karakteristik responden, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pendapatan nelayan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih nelayan pengguna alat tangkap pancing mencapai Rp1.970.000 per bulan. Pendapatan tersebut diperoleh dari rata-rata penerimaan sebesar Rp5.400.000 per bulan dengan total biaya operasional Rp3.430.000 per bulan. Dari biaya tersebut, sekitar Rp1.180.000 merupakan biaya tetap seperti penyusutan perahu, mesin tempel, dan alat tangkap, sedangkan Rp2.250.000 merupakan biaya variabel seperti bahan bakar, umpan, perawatan alat, logistik, dan tenaga kerja.
Penelitian juga menemukan bahwa komoditas ikan yang paling besar menyumbang pendapatan nelayan adalah ikan kakap merah dengan kontribusi sekitar 32,41 persen dan ikan kerapu sebesar 25 persen dari total hasil tangkapan. Rata-rata produksi nelayan mencapai 85 kilogram ikan per bulan.

Salah satu indikator utama dalam penelitian ini adalah nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), yaitu perbandingan antara penerimaan dan biaya usaha. Hasil analisis menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,57. Artinya, setiap pengeluaran Rp1 menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,57 atau keuntungan sekitar Rp0,57. Nilai yang berada di atas angka 1 menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan menggunakan alat tangkap pancing di Kecamatan Tapalang tergolong layak secara ekonomi dan masih memberikan keuntungan bagi pelakunya.

Selain menghitung tingkat keuntungan usaha, peneliti juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan besarnya pendapatan nelayan. Faktor pertama adalah modal usaha. Nelayan yang memiliki modal lebih dari Rp3 juta per bulan memperoleh rata-rata pendapatan Rp2.480.000 per bulan, jauh lebih tinggi dibandingkan nelayan dengan modal di bawah Rp3 juta yang hanya memperoleh sekitar Rp1.450.000 per bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa akses terhadap modal menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapasitas produksi nelayan.
Faktor berikutnya adalah pengalaman melaut. Nelayan yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun memperoleh pendapatan rata-rata Rp2.150.000 per bulan, sedangkan mereka yang memiliki pengalaman kurang dari 10 tahun hanya memperoleh sekitar Rp1.620.000 per bulan. Pengalaman dinilai membantu nelayan dalam mengenali lokasi penangkapan yang potensial, memahami kondisi laut, dan meningkatkan keterampilan teknis saat menangkap ikan.
Durasi melaut juga berpengaruh terhadap pendapatan. Nelayan yang menghabiskan waktu lebih dari delapan jam dalam satu perjalanan melaut memperoleh rata-rata pendapatan Rp2.230.000 per bulan, lebih tinggi dibandingkan nelayan yang melaut delapan jam atau kurang, yaitu sekitar Rp1.700.000 per bulan. Semakin lama waktu yang digunakan untuk menangkap ikan, semakin besar peluang memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak.
Penelitian ini juga membandingkan dua jenis alat tangkap yang umum digunakan, yaitu pancing ulur (handline) dan rawai (longline). Hasilnya menunjukkan bahwa pengguna rawai memperoleh pendapatan rata-rata Rp2.180.000 per bulan, lebih tinggi sekitar Rp420.000 dibandingkan pengguna pancing ulur yang memperoleh Rp1.760.000 per bulan. Menurut peneliti, perbedaan ini berkaitan dengan kemampuan rawai yang memiliki lebih banyak mata pancing sehingga peluang memperoleh ikan bernilai ekonomi tinggi menjadi lebih besar.
Menariknya, penelitian menemukan bahwa penambahan jumlah tenaga kerja tidak selalu meningkatkan pendapatan. Nelayan yang bekerja dengan satu hingga dua orang tenaga kerja justru memperoleh rata-rata pendapatan Rp2.120.000 per bulan, lebih tinggi dibandingkan kelompok yang menggunakan tiga orang tenaga kerja atau lebih dengan pendapatan rata-rata Rp1.820.000 per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan biaya operasional dan sistem bagi hasil dapat mengurangi keuntungan yang diterima masing-masing nelayan.
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti merekomendasikan peningkatan akses modal bagi nelayan melalui kelompok usaha bersama, pelatihan teknologi penangkapan ikan, optimalisasi penggunaan alat tangkap, serta peningkatan efisiensi tenaga kerja. Pemerintah daerah juga dinilai perlu memperkuat program bantuan modal usaha, subsidi bahan bakar, pelatihan teknologi perikanan, penguatan kelembagaan pemasaran hasil tangkapan, dan pembangunan infrastruktur pendukung sektor perikanan.

Wahyudi dan tim dari Universitas Muhammadiyah Mamuju menegaskan bahwa peningkatan modal, pengalaman, pemanfaatan teknologi, serta efisiensi operasional menjadi kunci untuk meningkatkan pendapatan nelayan tradisional. Temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Profil Penulis

Wahyudi merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Mamuju yang meneliti bidang ekonomi perikanan dan kesejahteraan nelayan. Penelitian ini dilakukan bersama Kamaruddin dan Dewi Febriani Hamjan, yang juga berasal dari Universitas Muhammadiyah Mamuju dengan fokus kajian pada pengembangan sektor perikanan dan masyarakat pesisir.

Sumber Penelitian

Wahyudi, Kamaruddin, dan Dewi Febriani Hamjan. 2026. Study of Income and Feasibility of Fishing Gear Fishermen in Tapalang District, Mamuju Regency. International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 8, hlm. 741–748. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i8.300.

 


Posting Komentar

0 Komentar