Kepercayaan Diri Kewirausahaan sebagai Mediator antara Ketakutan Gagal Bisnis dan Niat Pertumbuhan Bisnis di Kalangan Mompreneur di Makassar

Gambar Ilustrasi AI

Kepercayaan Diri Memetakan Kunci Sukses Perkembangan Usaha Mompreneur di Makassar

FORMOSA NEWS — Kepercayaan diri wirausaha (entrepreneurial self-efficacy) memegang peranan krusial sebagai jembatan yang menghubungkan rasa takut akan kegagalan usaha dengan niat mengembangkan bisnis pada kalangan ibu rumah tangga yang berwirausaha (mompreneur). Temuan ilmiah mendalam ini diungkapkan oleh Maghfirah Sari Azis dan Nurliana, peneliti dari Departemen Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar, Indonesia, dalam penelitian yang dipublikasikan pada Oktober 2026. Hasil studi mendesak perlunya penguatan mentalitas dan kapasitas diri agar para mompreneur dapat melampaui hambatan psikologis demi mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

Menyeimbangkan Peran Domestik dan Tantangan Ekspansi Bisnis

Fenomena mompreneurship di Indonesia, khususnya di Kota Makassar, berkembang sangat pesat sebagai pilar penopang ekonomi keluarga dan lokal. Namun, menjalankan usaha sambil mengelola urusan rumah tangga menyajikan tantangan ganda yang kompleks. Ketika dihadapkan pada pilihan untuk mengekspansi usaha—yang membutuhkan modal lebih besar, alokasi waktu ekstra, serta risiko operasional yang tinggi—banyak mompreneur mengalami ketakutan akan kegagalan (fear of business failure). Rasa takut ini kerap memicu sikap ragu-ragu dan menahan niat mereka untuk membesarkan skala usahanya.

Metode Penelitian dan Pendekatan Analisis

Penelitian kuantitatif berbasis eksplanatori ini melibatkan 400 mompreneur aktif di Kota Makassar yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Kriteria responden dipastikan merupakan wanita menikah yang memiliki anak dan mengelola usaha secara langsung.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert 1–5 dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4. Pengujian ini mengevaluasi hubungan langsung maupun tidak langsung antara rasa takut gagal, kepercayaan diri wirausaha, dan niat pertumbuhan bisnis.

Mayoritas responden berada pada rentang usia 30–39 tahun (53,50%), berpendidikan terakhir sarjana/S1 (53,00%), serta beroperasi di sektor kuliner (44,25%), busana (fashion) (28,00%), dan kecantikan (17,25%).

Temuan Utama Penelitian

Analisis struktural menunjukkan bahwa model penelitian ini berhasil menjelaskan 55,8% varians niat pertumbuhan bisnis mompreneur. Hasil analisis mendapati empat temuan utama:

  • Rasa Takut Gagal Menekan Kepercayaan Diri: Ketakutan akan kegagalan bisnis terbukti berdampak negatif secara signifikan terhadap kepercayaan diri wirausaha ($\beta = -0,332$, $p < 0,001$). Ketinggian kecemasan memicu keraguan para ibu terhadap kemampuan mereka dalam mengelola tantangan usaha.
  • Kepercayaan Diri Mendorong Niat Ekspansi: Kepercayaan diri wirausaha berasosiasi positif dan sangat kuat terhadap niat mengembangkan bisnis ($\beta = 0,513$, $p < 0,001$). Mompreneur yang meyakini kapasitas dirinya jauh lebih siap mengambil risiko ekspansi.
  • Dampak Langsung Ketakutan terhadap Pertumbuhan Usaha: Rasa takut gagal secara langsung menghambat niat membesarkan bisnis ($\beta = -0,274$, $p < 0,001$).
  • Peran Mediasi Kepercayaan Diri: Kepercayaan diri wirausaha secara signifikan memediasi sebagian (partial mediation) hubungan antara rasa takut gagal dan niat pertumbuhan bisnis ($\beta = -0,170$, $p < 0,001$). Artinya, rasa takut gagal menekan niat ekspansi salah satunya dengan cara mengikis kepercayaan diri pengusaha terlebih dahulu.

Implikasi Praktis bagi Pembina Usaha dan Pembuat Kebijakan

Studi ini memberikan wawasan penting bagi penyusun kebijakan publik, lembaga pendamping Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta komunitas pemberdayaan perempuan. Program pembinaan mompreneur tidak boleh hanya berfokus pada pemberian bantuan modal atau fasilitas pemasaran semata, tetapi juga harus menyentuh dimensi psikologis dan kapasitas diri.

Maghfirah Sari Azis bersama Nurliana dari Universitas Negeri Makassar menegaskan pentingnya program pendampingan yang holistik.

"Penguatan niat berkembang pada mompreneur membutuhkan pelatihan praktis yang meningkatkan efikasi diri, seperti manajemen keuangan, strategi pemasaran digital, evaluasi peluang, serta manajemen risiko usaha yang responsif terhadap dinamika keluarga," papar tim peneliti Universitas Negeri Makassar tersebut.

Profil Penulis

Maghfirah Sari Azis, S.Pd., M.Pd.: Departemen Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar, Indonesia, Kewirausahaan, Pendidikan Ekonomi, dan Wirausaha Perempuan (Women Entrepreneurship)

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar