Sensor Pintar Membantu Memantau Risiko Cedera dan Pemulihan Pemain Sepak Bola

Created by AI

FORMOSA NEWS -  Teknologi sensor yang dikenakan pada tubuh pemain sepak bola semakin membuka peluang untuk melakukan pemantauan gerakan secara langsung di lapangan. Abriadi Muhara, Juhanis, Muslim, dan Hasmawaty dari Universitas Negeri Makassar mengkaji penggunaan wearable inertial sensors untuk menilai biomekanika tungkai bawah pemain sepak bola. Kajian yang terbit pada 2026 ini penting karena menawarkan pendekatan yang lebih praktis untuk memantau gerakan, beban tubuh, rehabilitasi, serta kesiapan pemain kembali bertanding.

Studi tersebut diterbitkan dalam International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR) Volume 4 Nomor 9, halaman 675–686. Para penulis menyoroti kebutuhan terhadap teknologi yang mampu mengukur pergerakan pemain dalam kondisi yang lebih mendekati situasi pertandingan sebenarnya.

Sepak bola menuntut pemain melakukan berbagai gerakan eksplosif, seperti berlari cepat, melakukan akselerasi dan deselerasi, mengubah arah, melompat, mendarat, hingga menendang bola. Gerakan tersebut memberikan tekanan mekanis cukup besar pada tungkai bawah, termasuk lutut, pergelangan kaki, pinggul, hamstring, dan struktur ligamen lutut.

Cedera tungkai bawah menjadi salah satu persoalan penting dalam sepak bola karena dapat mengganggu latihan, pertandingan, dan proses pengembangan performa pemain. Pemantauan biomekanika dapat membantu melihat pola gerakan yang tidak optimal, ketidakseimbangan antara kedua tungkai, perubahan beban, serta perkembangan pemain selama proses rehabilitasi.

Dari Laboratorium ke Lapangan

Selama ini, analisis biomekanika banyak dilakukan menggunakan force plate, sistem motion capture, atau analisis video dalam lingkungan laboratorium. Metode tersebut dapat menghasilkan pengukuran yang akurat, tetapi penerapannya di lapangan memiliki keterbatasan karena membutuhkan peralatan khusus, biaya, dan kondisi pengujian yang terkontrol.

Sensor inersial menawarkan pendekatan yang lebih portabel. Perangkat seperti Inertial Measurement Unit (IMU), akselerometer, giroskop, sistem GPS yang dipadukan dengan akselerometer, hingga sensor tekanan dapat ditempatkan pada bagian tubuh tertentu.

Dalam kajian Muhara dan kolega, sensor ditemukan digunakan pada berbagai lokasi, antara lain batang tubuh, panggul, paha, tulang kering, tibia, pergelangan kaki, dan kaki. Penempatan sensor disesuaikan dengan informasi gerakan yang ingin diukur.

Para peneliti menelusuri literatur melalui basis data Scopus dengan mengikuti kerangka PRISMA 2020. Dari 155 artikel yang ditemukan pada tahap awal, sebanyak 26 penelitian empiris akhirnya memenuhi kriteria untuk dianalisis. Studi yang ditinjau diterbitkan pada periode 2018–2026 dan melibatkan pemain dari berbagai tingkatan, mulai dari pemain muda, amatir, perguruan tinggi, semi-profesional, hingga profesional.

Beragam Gerakan Bisa Dipantau

Hasil kajian menunjukkan bahwa sensor digunakan untuk memantau berbagai aktivitas spesifik sepak bola. Gerakan yang paling banyak menjadi perhatian meliputi:

  • sprint dan lari;

  • cutting atau perubahan arah secara cepat;

  • akselerasi dan deselerasi;

  • melompat dan mendarat;

  • hopping;

  • latihan keseimbangan;

  • menendang bola; dan

  • aktivitas rehabilitasi.

Parameter yang diukur juga beragam. Sensor dapat menghasilkan informasi mengenai kinematika sendi, akselerasi tibia, PlayerLoad, respons terhadap beban, ketidaksimetrisan gerakan, hingga variabel pusat tekanan tubuh.

Pada gerakan perubahan arah dan cutting, misalnya, pengukuran dapat digunakan untuk melihat kinematika lutut dan pinggul, fleksi lutut, akselerasi tibia, serta indikator lain yang berkaitan dengan beban pada lutut. Informasi tersebut dapat membantu praktisi memahami pola gerakan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Sementara itu, saat pemain berlari atau melakukan sprint, sensor dapat membantu memantau akselerasi tibia, kinematika tungkai, kecepatan sudut, PlayerLoad, dan tingkat simetri gerakan. Data tersebut dapat digunakan untuk memahami beban latihan dan perubahan pola gerak pemain.

Mendukung Rehabilitasi dan Kembali Bertanding

Salah satu temuan penting dalam kajian ini adalah potensi sensor untuk mendukung proses rehabilitasi. Setelah mengalami cedera, pemain perlu menjalani serangkaian pengujian sebelum kembali mengikuti latihan atau pertandingan secara penuh.

Sensor dapat memberikan data mengenai ketidaksimetrisan gerakan, perubahan pola pembebanan, kemampuan melakukan lompatan, stabilitas, dan karakteristik gerakan lainnya. Informasi tersebut dapat menjadi data tambahan bagi tenaga medis, pelatih, dan praktisi olahraga dalam memantau perkembangan rehabilitasi.

Namun, Muhara dan rekan-rekannya menekankan bahwa keputusan return to play tidak dapat didasarkan hanya pada data sensor. Kondisi klinis, pemeriksaan fisik, tes fungsional, kesiapan psikologis, serta kemampuan melakukan aktivitas spesifik sepak bola tetap perlu dipertimbangkan.

Hal serupa berlaku untuk prediksi cedera. Sensor dapat membantu mengidentifikasi pola gerakan atau beban yang perlu diperhatikan, tetapi belum cukup untuk digunakan sebagai alat tunggal dalam memprediksi apakah seorang pemain akan mengalami cedera.

Tantangan Standardisasi Masih Besar

Kajian tersebut juga menemukan adanya perbedaan besar antarpenelitian dalam jenis sensor, lokasi pemasangan, karakteristik pemain, tugas gerakan, dan parameter yang diukur. Perbedaan tersebut membuat hasil dari satu sistem sensor tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung dengan sistem lainnya.

Validitas dan reliabilitas sensor juga masih bergantung pada perangkat, parameter, serta prosedur pengukuran yang digunakan. Karena itu, para penulis mendorong adanya protokol yang lebih seragam dan pengujian yang lebih kuat terhadap metode biomekanika yang sudah mapan, seperti motion capture dan force platform.

Bagi klub sepak bola, pelatih, tenaga medis, dan praktisi olahraga, temuan ini menunjukkan bahwa sensor yang dikenakan pemain dapat menjadi bagian dari sistem pemantauan performa dan kondisi fisik. Data yang dikumpulkan secara berkala berpotensi membantu proses pengelolaan beban latihan dan pemantauan rehabilitasi secara lebih objektif.

Di sisi lain, penerapannya perlu disertai pemahaman terhadap keterbatasan teknologi. Data sensor sebaiknya dipandang sebagai informasi pendukung yang harus dibaca bersama hasil pemeriksaan dan konteks kondisi pemain.

Muhara, Juhanis, Muslim, dan Hasmawaty juga merekomendasikan penelitian jangka panjang dengan jumlah peserta yang lebih besar dan populasi yang lebih beragam. Penelitian berikutnya diharapkan mencakup lebih banyak pemain perempuan, pemain usia muda, serta berbagai tingkat kompetisi untuk mengetahui sejauh mana indikator dari sensor dapat digunakan dalam pencegahan cedera dan pengambilan keputusan return to play.

Profil Penulis

Abriadi Muhara merupakan penulis utama dari Universitas Negeri Makassar dan berafiliasi dengan bidang ilmu keolahragaan dan kesehatan. Rekam publikasi yang tersedia menunjukkan keterlibatannya dalam riset mengenai olahraga, manajemen olahraga, prestasi atlet, dan pendidikan olahraga. (Jurnal Universitas Negeri Makassar)

Juhanis, Muslim, dan Hasmawaty tercantum sebagai rekan penulis dalam artikel yang membahas teknologi sensor, biomekanika tungkai bawah, dan aplikasi pemantauan pemain sepak bola. Artikel sumber mencantumkan afiliasi penulis pada Universitas Negeri Makassar, Indonesia.

Informasi gelar akademik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber, sehingga gelar tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak terverifikasi.

Sumber Penelitian

Judul: Wearable Inertial Sensors for Field-Based Lower Limb Biomechanical Assessment in Soccer Players: A Systematic Review
Penulis: Abriadi Muhara, Juhanis, Muslim, Hasmawaty
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar, Indonesia
Jurnal: International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR)
Volume: 4, Nomor 9, 2026, hlm. 675–686

Posting Komentar

0 Komentar