Penyeliaan Luput dan Gangguan Mesin Ancam Keselamatan Penyeberangan Merak-Bakauheni Meski Penumpang Merasa Aman


Ilustrasi by AI 

Tingginya tingkat kepatuhan penumpang dan lengkapnya fasilitas keselamatan di jalur penyeberangan kapal feri Merak–Bakauheni ternyata menyimpan bahaya teknis yang tidak terduga oleh publik. Studi terbaru yang dilakukan oleh Rudi Harun Irwansyah, Dedtri Anwar, Bharto Ari Raharjo, Syairi Anwar, Nursyamsu, dan Yollanda Octavitri dari Politeknik Pelayaran Banten pada kurun September hingga November 2025 mengungkap bahwa di balik kepuasan masyarakat yang tinggi, terdapat risiko operasional serius seperti kematian mesin mendadak saat kapal berolah gerak di area pelabuhan dan sering matinya sarana bantu navigasi pelayaran di laut. Penelitian ini sangat penting karena jalur Selat Sunda merupakan urat nadi logistik nasional terpadat di Indonesia yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera, sehingga gangguan teknis sekecil apa pun berpotensi memicu kecelakaan fatal massal.

Jalur penyeberangan Merak–Bakauheni beroperasi di wilayah perairan Selat Sunda yang memiliki kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan telah menerapkan Traffic Separation Scheme (TSS) sejak 2020. Feri jenis Roll-on/Roll-off (RoPax) mengangkut ribuan penumpang serta kendaraan dalam satu lambung kapal, sehingga risiko kecelakaan atau kegagalan evakuasi memiliki dampak yang sangat luas. Selama ini, sebagian besar evaluasi keselamatan hanya mengandalkan survei persepsi pengguna jasa yang dinilai kurang menyentuh keandalan sistem teknis kapal dan infrastruktur pendukungnya.

Untuk membedah kondisi keselamatan secara riil, para peneliti menggunakan metode campuran konvergen (convergent parallel mixed-methods). Tim menyebarkan kuesioner skala Likert berisi 43 item kepada 166 responden yang terdiri dari personel pelabuhan, awak kapal, penumpang, dan petugas kesyahbandaran. Secara bersamaan, peneliti melakukan observasi lapangan langsung di area pelabuhan maupun di atas kapal, serta wawancara mendalam dengan perwira kapal (Chief Officer dan Second Officer) serta regulator untuk memverifikasi keandalan operasional sehari-hari di luar musim puncak liburan.

Hasil pengolahan data menunjukkan perbedaan mencolok antara persepsi kasat mata penumpang dengan realitas teknis di lapangan:

  • Kelengkapan Fasilitas Dinilai Sangat Baik: Persepsi umum terhadap ketersediaan fasilitas keselamatan berada pada kategori sangat baik dengan nilai rata-rata 4,21 dari skala 5,00. Ketersediaan jaket dan rakit penolong mendapat skor tertinggi sebesar 4,38.
  • Kepatuhan Penumpang Sangat Tinggi: Kesadaran dan kepatuhan pengguna jasa mencatat skor rata-rata tertinggi yaitu 4,25. Kepatuhan penumpang terhadap larangan berada di geladak kendaraan selama pelayaran bahkan mencapai angka 4,55, menandakan faktor perilaku penumpang bukan lagi sumber risiko utama.
  • Bahaya Tersembunyi Kerusakan Mesin: Wawancara mendalam dengan perwira kapal membongkar fakta bahwa kapal pernah mengalami mati mesin utama secara mendadak saat berolah gerak di dalam kolam pelabuhan. Hal ini menjadi ancaman tersembunyi yang tidak dapat dilihat oleh penumpang.
  • Penyeliaan Rutin Masih Lemah: Efektivitas pengawasan otoritas pelabuhan mendapat nilai rata-rata terendah yaitu 4,08. Indikator pengawasan rutin di luar musim puncak liburan mencatat nilai paling rendah di antara seluruh pertanyaan kuesioner, yaitu 3,91.
  • Gangguan Navigasi dan Celah Keterampilan: Hasil pengamatan mengonfirmasi bahwa alat bantu navigasi pelayaran di alur masuk Pelabuhan Merak kerap padam. Selain itu, awak kapal mengakui adanya keterbatasan dalam penguasaan Bahasa Inggris maritim serta penanganan kondisi darurat medis khusus seperti persalinan di atas kapal.

Hasil temuan ini membawa dampak penting bagi perumusan kebijakan publik dan tata kelola transportasi laut. Otoritas pelabuhan dan Kementerian Perhubungan didesak untuk mengubah pola pengawasan dari yang semula bersifat musiman (peak season) menjadi inspeksi acak yang ketat dan rutin setiap hari. Pengelola kapal juga harus melakukan uji keandalan mesin secara berkala serta meningkatkan pelatihan Bahasa Inggris maritim dan tanggap darurat medis bagi kru.

Peneliti Politeknik Pelayaran Banten menegaskan bahwa persepsi positif masyarakat tidak boleh memicu kelengaian otoritas. Keselamatan penyeberangan laut yang sejati sangat bergantung pada keandalan mesin kapal, infrastruktur navigasi yang selalu aktif, dan ketegasan pengawasan tanpa kompromi.

Profil Penulis

  • Rudi Harun Irwansyah, M.T. – Peneliti dan akademisi di Politeknik Pelayaran Banten dengan spesialisasi keahlian di bidang manajemen keselamatan pelayaran, operasional penyeberangan, dan keamanan pelabuhan.
  • Dedtri Anwar, M.Sc. – Dosen Politeknik Pelayaran Banten yang berfokus pada penelitian sistem transportasi laut, keselamatan navigasi, dan pengawasan regulasi maritim.
  • Bharto Ari Raharjo, M.Mar. – Pakar maritim dan akademisi Politeknik Pelayaran Banten dengan kepakaran dalam operasional kapal dan manajemen infrastruktur pelabuhan.
  • Syairi Anwar, M.T. – Peneliti Politeknik Pelayaran Banten yang mengkaji faktor manusia (human factors) dalam maritim, pelatihan awak kapal, dan kepatuhan operasional.
  • Nursyamsu, M.Si. – Dosen Politeknik Pelayaran Banten dengan fokus keahlian pada skema pemisah lalu lintas laut (Traffic Separation Scheme), analisis risiko navigasi, dan keselamatan selat.
  • Yollanda Octavitri, M.Pd. – Peneliti maritim Politeknik Pelayaran Banten yang mendalami metode penelitian kualitatif, kesadaran keselamatan penumpang, dan evaluasi kualitas pelayanan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Beyond Perceived Compliance: A Mixed-Methods Evaluation of Safety and Security in Ferry Operations on the Merak-Bakauheni Crossing, Indonesia
Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 5, No. 3, Halaman 153–170)
DOI : https://doi.org/10.55927/fjss.v5i3.16 

Posting Komentar

0 Komentar