Senyum dan Bahasa Tubuh Warga Mandalika Jadi Kunci Kuatkan Citra Destinasi Wisata

Ilustrasi by AI

Lombok Tengah-Masyarakat Desa Wisata Mandalika di Lombok menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal—seperti senyuman tulus dan bahasa tubuh terbuka—memainkan peran penting dalam membangun citra destinasi. Temuan ini diungkap oleh Yohannes Don Bosco Doho dan Budi Rizanto Binol dari LSPR Institute of Communication and Business dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Economic, Finance and Business Statistics. Studi ini menjadi penting karena Mandalika, sebagai salah satu destinasi prioritas nasional, sempat menghadapi persepsi negatif terkait keramahan masyarakatnya.

Selama beberapa tahun terakhir, pemberitaan media dan opini publik sempat membentuk citra bahwa warga lokal di Mandalika kurang ramah, bahkan dinilai “tidak bersahabat” oleh sebagian wisatawan. Persepsi ini menjadi tantangan serius bagi pengembangan branding destinasi, terutama ketika pemerintah Indonesia sedang mendorong kawasan tersebut sebagai ikon pariwisata internasional.

Namun, penelitian terbaru ini justru mengungkap realitas yang berbeda di lapangan. Alih-alih menunjukkan sikap tertutup, masyarakat lokal—khususnya suku Sasak—memiliki pola komunikasi nonverbal yang kuat dan autentik dalam menyambut wisatawan.

Menggali Makna di Balik Gestur Sederhana

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengamati langsung interaksi antara warga lokal dan wisatawan di Desa Wisata Mandalika. Para peneliti juga melakukan wawancara untuk memahami bagaimana komunikasi nonverbal dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Alih-alih fokus pada bahasa verbal yang sering menjadi hambatan karena perbedaan bahasa, penelitian ini menyoroti elemen-elemen seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak mata, hingga cara menyambut tamu.

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Senyum tulus menjadi bentuk komunikasi paling dominan dalam interaksi dengan wisatawan
  • Bahasa tubuh terbuka, seperti sikap tubuh yang tidak kaku dan gerakan tangan yang ramah, menciptakan kesan positif
  • Ekspresi wajah yang hangat membantu mengurangi jarak sosial antara warga dan wisatawan
  • Kontak mata yang tepat memperkuat rasa percaya dan kenyamanan

Menariknya, komunikasi nonverbal ini terbukti efektif bahkan ketika terjadi kendala bahasa. Wisatawan tetap dapat merasakan keramahan tanpa perlu memahami bahasa lokal secara mendalam.

Melawan Stereotip Negatif

Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah bagaimana komunikasi nonverbal mampu membantah stereotip negatif yang sempat berkembang.

Peneliti menemukan bahwa kesan “tidak ramah” sebenarnya lebih dipengaruhi oleh perbedaan budaya komunikasi. Beberapa gestur atau ekspresi yang dianggap biasa oleh masyarakat lokal bisa saja disalahartikan oleh wisatawan yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

Yohannes Don Bosco Doho menjelaskan bahwa kesalahpahaman ini terjadi karena kurangnya pemahaman lintas budaya. Namun, ketika interaksi berlangsung lebih lama, wisatawan mulai menyadari bahwa masyarakat Mandalika sebenarnya sangat ramah dan terbuka.

“Gestur sederhana seperti senyuman dan sikap tubuh yang terbuka menjadi jembatan komunikasi yang efektif, bahkan lebih kuat dibandingkan kata-kata,” tulis Doho dalam publikasinya.

Modal Sosial untuk Branding Destinasi

Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi nonverbal bukan sekadar pelengkap, melainkan aset strategis dalam membangun branding destinasi wisata.

Dalam konteks Mandalika, komunikasi nonverbal masyarakat menjadi:

  • Modal sosial yang memperkuat pengalaman wisatawan
  • Elemen autentik yang sulit ditiru oleh destinasi lain
  • Fondasi dalam membangun citra destinasi yang hangat dan ramah
  • Faktor penting dalam meningkatkan kepuasan dan loyalitas wisatawan

Dengan kata lain, kekuatan utama Mandalika tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada interaksi manusia yang terjadi di dalamnya.

Dampak bagi Industri Pariwisata

Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi pengelola destinasi, pelaku industri pariwisata, dan pembuat kebijakan.

Pertama, pelatihan sumber daya manusia di sektor pariwisata sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemampuan bahasa asing, tetapi juga pada penguatan komunikasi nonverbal yang autentik.

Kedua, strategi branding destinasi perlu memasukkan unsur budaya lokal sebagai identitas utama. Dalam kasus Mandalika, keramahan masyarakat bisa menjadi daya tarik yang kuat jika dikomunikasikan dengan tepat.

Ketiga, penting untuk mengedukasi wisatawan tentang perbedaan budaya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam interaksi.

Budi Rizanto Binol menekankan bahwa pendekatan berbasis budaya lokal ini justru menjadi kekuatan unik dalam persaingan global. “Keaslian interaksi manusia adalah pengalaman yang paling diingat wisatawan,” ujarnya.

Profil Penulis

Yohannes Don Bosco Doho adalah akademisi dan peneliti di LSPR Institute of Communication and Business dengan fokus pada komunikasi pariwisata dan budaya. Ia aktif meneliti strategi komunikasi dalam pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat.

Budi Rizanto Binol merupakan dosen dan peneliti di institusi yang sama, dengan keahlian di bidang komunikasi strategis dan branding. Penelitiannya banyak menyoroti hubungan antara komunikasi dan persepsi publik dalam berbagai sektor, termasuk pariwisata.

Sumber Penelitian

Doho, Yohannes Don Bosco & Binol, Budi Rizanto. 2026. Nonverbal Communication of the Mandalika Tourism Village Community in Building Destination Branding. International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), Vol. 4, No. 2, halaman 85–96.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i2.374 
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijefbs

Posting Komentar

0 Komentar