Kesejahteraan dan Support Organisasi Kunci Utama Retensi Karyawan Perkebunan Karet di Indonesia
Kesejahteraan pekerja dan rasa didukung oleh perusahaan menjadi pendorong utama yang menentukan keberlanjutan masa kerja karyawan di industri perkebunan
Tingginya angka perputaran tenaga kerja (turnover) di sektor perkebunan menjadi tantangan nyata yang memengaruhi stabilitas operasional, efisiensi biaya rekrutmen, dan produktivitas bisnis secara berkelanjutan
Secara metodologis, tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menerapkan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan desain eksplanatori
Pengujian statistik dalam penelitian ini menghasilkan temuan empiris yang memperlihatkan pengaruh kuat antarfaktor yang diteliti
- Pengaruh Kesejahteraan terhadap Keterikatan Kerja: Kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial berpengaruh positif dan sangat signifikan dalam membentuk keterikatan kerja karyawan (koefisien jalur $\beta = 0,524$; $t = 10,061$; $p = 0,000$)
. Kesejahteraan karyawan menjadi prediktor paling dominan terhadap keterikatan kerja dengan nilai ukuran efek $f^2 = 0,493$ . Kejelasan peran (role clarity) terbukti menjadi indikator kesejahteraan terkuat . - Pengaruh Dukungan Organisasi terhadap Keterikatan Kerja: Perhatian perusahaan terhadap kontribusi dan welfare karyawan ber dampak positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja ($\beta = 0,341$; $t = 6,335$; $p = 0,000$)
. - Dampak Keterikatan Kerja terhadap Retensi: Keterikatan kerja yang dicirikan oleh antusiasme, dedikasi, dan penyerapan dalam pekerjaan mendorong tingkat retensi karyawan secara langsung ($\beta = 0,486$; $t = 6,905$; $p = 0,000$)
. - Pengaruh Langsung terhadap Retensi Karyawan: Kesejahteraan karyawan ($\beta = 0,209$; $t = 3,065$) dan persepsi dukungan organisasi ($\beta = 0,225$; $t = 3,996$) terbukti secara langsung meningkatkan keputus an karyawan untuk bertahan
. - Peran Mediasi Keterikatan Kerja: Analisis nilai Variance Accounted For (VAF) membuktikan bahwa keterikatan kerja bertindak sebagai variabel mediasi parsial yang signifikan, baik antara kesejahteraan terhadap retensi ($\beta = 0,255$; $t = 5,701$; VAF = 54,96%) maupun antara dukungan organisasi terhadap retensi ($\beta = 0,166$; $t = 4,720$; VAF = 42,46%)
. Secara keseluruhan, model ini mampu menjelaskan 63,1 persen varians retensi karyawan ($R^2 = 0,631$) dan 54,6 persen varians keterikatan kerja ($R^2 = 0,546$) .
Temuan ini memberikan implikasi praktis yang luas bagi manajemen perusahaan perkebunan, praktisi HRD, dan penentu kebijakan industri agribisnis
Mengulas pentingnya keterikatan emosional dalam menahan perputaran tenaga kerja, tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menekankan bahwa ikatan psikologis adalah kunci utama dari retensi jangka panjang
Profil Penulis
- Dinda Dwi Lestari, S.E., M.Si.: Peneliti utama dari Universitas Sumatera Utara, memiliki fokus keahlian pada bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Perilaku Organisasi, dan Retensi Karyawan
. - Yeni Absah, S.E., M.Si.: Dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara, berkeahlian pada bidang Manajemen Strategis Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi
. - Yasmin Chairunnisa Muchtar, S.P., M.Si.: Dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara, dengan fokus kepakaran pada Manajemen Sumber Daya Manusia, Pengembangan Organisasi, dan Kinerja Pegawai
.
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: The Effect of Employee Well-being and Perceived Organizational Support on Employee Retention through Employee Engagement as an Intervening Variable
- Jurnal: Indonesian Journal of Economic & Management Sciences (IJEMS), Vol. 4, No. 3, 2026, Halaman 1431–1450
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/ijems.v4i3.62 - URL Resmi:
https://journalijems.my.id/index.php/ijems/index

0 Komentar