Pengaruh Kesejahteraan Karyawan dan Dukungan Organisasi yang Dirasakan Terhadap Retensi Karyawan melalui Keterlibatan Karyawan sebagai Variabel Perantara

Gambar Ilustrasi AI

Kesejahteraan dan Support Organisasi Kunci Utama Retensi Karyawan Perkebunan Karet di Indonesia

Kesejahteraan pekerja dan rasa didukung oleh perusahaan menjadi pendorong utama yang menentukan keberlanjutan masa kerja karyawan di industri perkebunan. Penelitian ilmiah yang dipublikasikan pada Juni 2026 oleh Dinda Dwi Lestari, Yeni Absah, dan Yasmin Chairunnisa Muchtar dari Universitas Sumatera Utara mengungkapkan bahwa kesejahteraan karyawan (employee well-being) dan persepsi dukungan organisasi (perceived organizational support) terbukti secara signifikan meningkatkan retensi karyawan pada perusahaan perkebunan karet di Indonesia. Studi yang dilaksanakan pada periode Januari hingga Maret 2026 terhadap 160 karyawan kantor ini menegaskan bahwa keterikatan kerja (employee engagement) bertindak sebagai jembatan psikologis krusial yang menguatkan loyalitas staf untuk tetap bertahan di organisasi.

Tingginya angka perputaran tenaga kerja (turnover) di sektor perkebunan menjadi tantangan nyata yang memengaruhi stabilitas operasional, efisiensi biaya rekrutmen, dan produktivitas bisnis secara berkelanjutan. Lingkungan kerja operasional industri perkebunan karet kerap diwarnai dengan tekanan target produksi dan beban kerja yang tinggi. Kondisi ini menuntut manajemen sumber daya manusia untuk melangkah lebih jauh dari sekadar pemberian kompensasi finansial dasar. Riset ini hadir untuk memetakan bagaimana keseimbangan kehidupan kerja, kepastian peran, serta pengakuan terhadap kontribusi karyawan dapat menahan minat staf untuk keluar dari perusahaan.

Secara metodologis, tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menerapkan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan desain eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada 160 karyawan kantor dengan masa kerja minimal satu tahun yang dipilih secara proporsional dari total populasi 267 pekerja. Data yang dikumpulkan dari Januari hingga Maret 2026 tersebut dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Teknik ini digunakan untuk menguji keabsahan indikator serta mengevaluasi efek langsung maupun efek mediasi antarvariabel.

Pengujian statistik dalam penelitian ini menghasilkan temuan empiris yang memperlihatkan pengaruh kuat antarfaktor yang diteliti:

  • Pengaruh Kesejahteraan terhadap Keterikatan Kerja: Kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial berpengaruh positif dan sangat signifikan dalam membentuk keterikatan kerja karyawan (koefisien jalur $\beta = 0,524$; $t = 10,061$; $p = 0,000$). Kesejahteraan karyawan menjadi prediktor paling dominan terhadap keterikatan kerja dengan nilai ukuran efek $f^2 = 0,493$. Kejelasan peran (role clarity) terbukti menjadi indikator kesejahteraan terkuat.
  • Pengaruh Dukungan Organisasi terhadap Keterikatan Kerja: Perhatian perusahaan terhadap kontribusi dan welfare karyawan ber dampak positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja ($\beta = 0,341$; $t = 6,335$; $p = 0,000$).
  • Dampak Keterikatan Kerja terhadap Retensi: Keterikatan kerja yang dicirikan oleh antusiasme, dedikasi, dan penyerapan dalam pekerjaan mendorong tingkat retensi karyawan secara langsung ($\beta = 0,486$; $t = 6,905$; $p = 0,000$).
  • Pengaruh Langsung terhadap Retensi Karyawan: Kesejahteraan karyawan ($\beta = 0,209$; $t = 3,065$) dan persepsi dukungan organisasi ($\beta = 0,225$; $t = 3,996$) terbukti secara langsung meningkatkan keputus an karyawan untuk bertahan.
  • Peran Mediasi Keterikatan Kerja: Analisis nilai Variance Accounted For (VAF) membuktikan bahwa keterikatan kerja bertindak sebagai variabel mediasi parsial yang signifikan, baik antara kesejahteraan terhadap retensi ($\beta = 0,255$; $t = 5,701$; VAF = 54,96%) maupun antara dukungan organisasi terhadap retensi ($\beta = 0,166$; $t = 4,720$; VAF = 42,46%). Secara keseluruhan, model ini mampu menjelaskan 63,1 persen varians retensi karyawan ($R^2 = 0,631$) dan 54,6 persen varians keterikatan kerja ($R^2 = 0,546$).

Temuan ini memberikan implikasi praktis yang luas bagi manajemen perusahaan perkebunan, praktisi HRD, dan penentu kebijakan industri agribisnis. Strategi retensi tidak boleh lagi bertumpu hanya pada imbalan finansial semata. Perusahaan harus merancang program kesejahteraan holistik yang mencakup jaminan kesehatan mental, menciptakan keseimbangan kerja-kehidupan (work-life balance), serta memberikan batas tanggung jawab pekerjaan yang jelas. Selain itu, peningkatan efisiensi sistem kerja operasional, pemberian apresiasi atas pencapaian karyawan, dan dukungan supervisor menjadi prioritas utama untuk membangun rasa keterikatan emosional pekerja.

Mengulas pentingnya keterikatan emosional dalam menahan perputaran tenaga kerja, tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menekankan bahwa ikatan psikologis adalah kunci utama dari retensi jangka panjang. "Kesejahteraan karyawan dan dukungan organisasi akan bekerja secara lebih efektif dalam meningkatkan retensi ketika mampu menumbuhkan keterikatan kerja yang kuat, di mana karyawan yang terikat secara emosional dan memiliki dedikasi tinggi cenderung memiliki niat yang jauh lebih rendah untuk meninggalkan perusahaan," ungkap Dinda Dwi Lestari beserta tim peneliti.

Profil Penulis

  1. Dinda Dwi Lestari, S.E., M.Si.: Peneliti utama dari Universitas Sumatera Utara, memiliki fokus keahlian pada bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Perilaku Organisasi, dan Retensi Karyawan.
  2. Yeni Absah, S.E., M.Si.: Dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara, berkeahlian pada bidang Manajemen Strategis Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi.
  3. Yasmin Chairunnisa Muchtar, S.P., M.Si.: Dosen dan peneliti di Universitas Sumatera Utara, dengan fokus kepakaran pada Manajemen Sumber Daya Manusia, Pengembangan Organisasi, dan Kinerja Pegawai.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar