Kepemilikan Ponsel Menunjukkan Adaptasi Teknologi Selektif Masyarakat Baduy Dalam

Ilustrasi by AI

Lebak — Kepemilikan telepon seluler di kalangan masyarakat Baduy Dalam menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berarti hilangnya tradisi dan identitas budaya. Kajian yang dilakukan M. Iqbal Anugerah Berutu, Disa Putri Hapsari, dan Alifia Khoirunnisa menunjukkan bahwa penggunaan ponsel oleh sebagian masyarakat Baduy Dalam dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi budaya yang selektif. Teknologi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, aktivitas ekonomi, dan akses informasi, tetapi tetap dibatasi oleh nilai-nilai adat dan pikukuh yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy dikenal sebagai salah satu komunitas adat di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi dan sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dan menjalankan kehidupan berdasarkan pikukuh adat, yaitu seperangkat aturan yang mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan dengan alam, kehidupan sosial, hingga batas penggunaan teknologi modern.

Perkembangan teknologi komunikasi kemudian menghadirkan dinamika baru. Interaksi masyarakat Baduy dengan pemerintah, peneliti, wisatawan, kerabat di luar wilayah adat, serta aktivitas perdagangan membuat kebutuhan terhadap komunikasi yang lebih cepat semakin meningkat. Sejumlah kajian terdahulu juga menunjukkan adanya penggunaan teknologi komunikasi oleh sebagian masyarakat Baduy untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Fenomena tersebut menjadi menarik karena masyarakat Baduy Dalam selama ini dikenal memiliki aturan adat yang kuat. Pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah masyarakat Baduy menggunakan ponsel, tetapi bagaimana teknologi tersebut diterima, digunakan, dan ditempatkan dalam kehidupan yang tetap berpegang pada tradisi.

M. Iqbal Anugerah Berutu dari Perbanas Institute, Disa Putri Hapsari dari Yogyakarta State University, dan Alifia Khoirunnisa dari Bina Sarana Informatika University mengkaji persoalan tersebut melalui pendekatan tinjauan literatur. Kajian ini secara khusus melihat makna kepemilikan ponsel, faktor yang mendorong penggunaannya, serta proses negosiasi antara perkembangan teknologi dan aturan adat masyarakat Baduy Dalam.

Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Para peneliti tidak mengumpulkan data lapangan secara langsung, tetapi mensintesis berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti artikel jurnal nasional dan internasional, buku, prosiding seminar, skripsi, tesis, dokumen pemerintah, data Badan Pusat Statistik, serta publikasi lain mengenai masyarakat Baduy, adat istiadat, dan perkembangan teknologi komunikasi.

Sumber-sumber tersebut dikumpulkan melalui basis data ilmiah seperti Google Scholar dan Garuda dengan kata kunci yang berkaitan dengan Baduy Dalam, adat tradisional, telepon seluler, teknologi komunikasi, dan adaptasi budaya. Selanjutnya, informasi yang ditemukan dikelompokkan berdasarkan tema, kemudian dibandingkan dan diinterpretasikan untuk menemukan pola hubungan antara kebutuhan teknologi dan keberlangsungan nilai budaya.

Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemilikan ponsel di kalangan masyarakat Baduy Dalam tidak tepat dipahami sebagai tanda bahwa mereka meninggalkan tradisi. Sebaliknya, penggunaan teknologi tersebut menggambarkan proses adaptasi budaya selektif. Masyarakat tidak menerima seluruh perkembangan teknologi secara otomatis, tetapi menyaringnya berdasarkan manfaat, kebutuhan, dan kesesuaiannya dengan nilai adat.

Ponsel lebih dipandang sebagai alat komunikasi fungsional daripada simbol modernitas. Penggunaannya cenderung terbatas pada situasi tertentu, terutama ketika masyarakat berinteraksi dengan pihak di luar wilayah adat. Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai alat pendukung kegiatan tertentu, bukan sebagai bagian yang sepenuhnya menggantikan pola hidup sederhana masyarakat Baduy.

Kebutuhan komunikasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penggunaan ponsel. Hubungan dengan pemerintah, peneliti, wisatawan, dan kerabat yang tinggal di luar wilayah adat membutuhkan sarana komunikasi yang lebih cepat. Namun, penggunaan tersebut tetap bersifat terbatas dan lebih banyak dilakukan ketika ada kebutuhan tertentu atau ketika masyarakat berada di luar kawasan Baduy Dalam.

Faktor ekonomi juga memiliki peran. Produk tradisional Baduy seperti kain tenun, tas anyaman, madu, dan berbagai kerajinan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Dalam konteks tersebut, teknologi komunikasi dapat membantu memperlancar koordinasi dengan konsumen, memperluas jaringan pemasaran, dan menyebarkan informasi mengenai produk. Penggunaan teknologi diarahkan pada manfaat praktis untuk mendukung aktivitas ekonomi tanpa mengubah pola produksi tradisional yang masih dipertahankan.

Selain komunikasi dan ekonomi, akses informasi menjadi faktor lainnya. Ponsel memberikan kesempatan untuk memperoleh informasi mengenai pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi yang sebelumnya lebih sulit dijangkau. Namun, informasi yang diperoleh tidak langsung diterima begitu saja. Masyarakat tetap melakukan proses penyaringan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam pikukuh. Informasi yang dianggap bermanfaat dapat digunakan, sedangkan informasi yang dinilai bertentangan dengan nilai budaya cenderung tidak diadopsi.

Kajian ini juga menemukan adanya proses negosiasi antara pikukuh dan modernitas. Negosiasi tersebut tidak selalu menunjukkan konflik antara tradisi dan teknologi. Sebaliknya, masyarakat Baduy Dalam dapat menentukan ruang, waktu, dan bentuk penggunaan teknologi sesuai dengan sistem nilai mereka sendiri. Teknologi digunakan ketika memberikan manfaat nyata, tetapi tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif adaptasi budaya, kondisi tersebut lebih dekat dengan konsep integrasi, yaitu menerima unsur baru yang dianggap bermanfaat sambil tetap mempertahankan tradisi. Sementara itu, dari perspektif difusi inovasi, penerimaan teknologi tidak hanya ditentukan oleh manfaat teknologi tersebut, tetapi juga oleh norma kolektif dan legitimasi sosial yang berkaitan dengan otoritas adat.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu harus berujung pada hilangnya budaya lokal. Masyarakat adat memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri teknologi seperti apa yang dapat diterima dan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Dalam kasus Baduy Dalam, penggunaan ponsel merupakan praktik yang memiliki makna budaya karena keputusan penggunaannya tetap berkaitan dengan kebutuhan praktis, norma adat, dan mekanisme kontrol sosial.

Implikasinya cukup penting bagi pemerintah dan masyarakat. Perkembangan teknologi di wilayah masyarakat adat perlu dilakukan dengan tetap menghormati sistem nilai lokal. Kebijakan yang berkaitan dengan transformasi digital sebaiknya tidak hanya berorientasi pada peningkatan akses teknologi, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan identitas budaya dan aturan adat yang berlaku.

Para peneliti juga menekankan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami hubungan antara masyarakat adat dan teknologi. Kajian mengenai komunitas adat dapat dikembangkan melalui perspektif antropologi, komunikasi, sosiologi, dan transformasi digital secara bersamaan.

Karena penelitian ini menggunakan tinjauan literatur, hasilnya belum menggambarkan pengalaman masyarakat Baduy Dalam secara langsung di lapangan. Peneliti merekomendasikan penelitian berikutnya menggunakan observasi lapangan, wawancara mendalam, atau pendekatan etnografi untuk memahami secara lebih detail bagaimana masyarakat Baduy Dalam memaknai penggunaan teknologi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, kajian M. Iqbal Anugerah Berutu, Disa Putri Hapsari, dan Alifia Khoirunnisa menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi tidak selalu berada pada dua sisi yang bertentangan. Kepemilikan ponsel di kalangan masyarakat Baduy Dalam dapat menjadi contoh bagaimana sebuah komunitas adat melakukan penyaringan terhadap perkembangan teknologi. Teknologi diterima ketika memberikan manfaat, sementara nilai pikukuh tetap menjadi dasar dalam menentukan batas penggunaannya.

Profil Penulis

M. Iqbal Anugerah Berutu — Perbanas Institute.

Disa Putri Hapsari — Yogyakarta State University.

Alifia Khoirunnisa — Bina Sarana Informatika University.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Technological Adaptation Amidst Cultural Resilience: The Phenomenon of Cell Phone Ownership Among the Baduy Dalam Community

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1713–1722.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.129

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr


Posting Komentar

0 Komentar