Latar Belakang Masalah
Indonesia berada di jalur Pacific Ring of Fire dan pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yang menjadikannya sangat rawan bencana gempa bumi
Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Design Science Research (DSR) yang diuji melalui simulasi berbasis agen (Agent-Based Model) menggunakan perangkat lunak NetLogo
- Dua Konfigurasi Arsitektur: Terpusat (centralized) vs Terdistribusi (distributed)
. - Dua Skenario Gangguan: Gempa bumi skala besar murni vs Gempa bumi yang berbarengan dengan serangan siber (Distributed Denial of Service dan injeksi data)
.
Temuan Utama Penelitian
Hasil evaluasi simulasi menunjukkan keunggulan signifikan dari arsitektur terdistribusi, terutama saat terjadi ancaman ganda (gempa bumi disertai serangan siber)
- Interoperabilitas Lengkap (100%): Kedua arsitektur mampu menjaga pemahaman protokol dan pertukaran data antarlintas lembaga secara sempurna
. - Deteksi Anomali Lebih Cepat: Arsitektur terdistribusi mendeteksi gangguan siber (Mean Time to Detect/MTTD) dalam 34 ticks (setara 34 detik), lebih cepat dibanding sistem terpusat yang membutuhkan 41 ticks
. - Pemulihan Fungsi Lebih Singkat: Arsitektur terdistribusi memulihkan fungsi sistem (Mean Time to Recover/MTTR) dalam 110 ticks, jauh lebih cepat dibanding arsitektur terpusat yang membutuhkan 140 ticks
. - Pengiriman Gambar Situasi Operasional (COP) 100% Sukses: Pada arsitektur terdistribusi, tingkat keberhasilan pengiriman gambar situasi darurat tetap bertahan di angka 100% saat diserang siber
. Sebaliknya, sistem terpusat anjlok hingga 74,21% . - Integritas Data Lebih Tinggi: Arsitektur terdistribusi mampu mempertahankan integritas data sebesar 71,53%, sedangkan sistem terpusat turun menjadi 54,11%
. - Dampak Kerusakan Terisolasi (Blast Radius): Pada sistem terpusat, kelumpuhan akibat serangan siber berdampak pada 100% jaringan
. Pada sistem terdistribusi, efek kerusakan berhasil dilokalisasi hingga 66,67% saja, sehingga sisa 33,33% sistem tetap beroperasi normal . - Trade-off Ketersediaan Aggregat: Ketersediaan agregat sistem terdistribusi tercatat lebih rendah (77,08%) dibanding terpusat (90,47%)
. Hal ini terjadi secara sengaja karena mekanisme isolasi mandiri (micro-segmentation) mematikan jalur yang terinfeksi guna mencegah penyebaran serangan .
Hasil riset ini memberikan pijakan faktual bagi pengambil kebijakan pertahanan dan penanggulangan bencana di Indonesia
Profil Penulis
Mohammad Rayhan Syahman, S.Kom., M.Si. (Cand.) – Peneliti dan Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Keahlian: Ketahanan Siber, Sistem Informasi Kebencanaan, dan Pemodelan Simulasi
Dr. Bambang Suharjo – Dosen dan Peneliti di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Keahlian: Manajemen Risiko Kebencanaan dan Sistem Pertahanan Nirmiliter
H.A. Danang Rimbawa, M.T. – Dosen dan Peneliti di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Keahlian: Keamanan Informasi, Tata Kelola Siber, dan Infrastruktur Vital
Sumber Penelitian
Mohammad Rayhan Syahman, Bambang Suharjo, H.A. Danang Rimbawa. Cyber-Resilience-Based Integrated Early Warning and Earthquake Response Information System Model: A Simulative Evaluation of Centralized and Distributed Configurations to Support Non-Military National Defenses. Formosa Journal of Computer and Information Science (FJCIS), Vol. 5, No. 2, 2026, hal. 367–380.
DOI :

0 Komentar