Budaya minum kopi di kalangan Generasi Z terus berkembang seiring pesatnya pertumbuhan industri kedai kopi di Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan Rahmawati Setiyani dan Rajendra Agidya Putra dari Universitas Duta Bangsa Surakarta, bersama Lathifah Khairani dari Universitas Bengkulu, mengungkap bahwa Generasi Z di Kota Surakarta tidak hanya menjadikan kopi sebagai minuman, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan aktivitas sosial. Artikel ilmiah tersebut diterima untuk dipublikasikan pada Agustus 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA).
Temuan ini menjadi penting karena Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia, sementara konsumsi kopi nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Di kota-kota seperti Surakarta, pertumbuhan coffee shop berlangsung sangat cepat dan didorong oleh tingginya minat generasi muda terhadap budaya ngopi. Memahami perilaku konsumen Generasi Z menjadi informasi berharga bagi pelaku usaha, pemerintah daerah, maupun industri kreatif dalam menyusun strategi bisnis yang lebih tepat sasaran.
Peneliti menjelaskan bahwa sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak membahas strategi pemasaran atau preferensi konsumen secara umum. Sementara itu, kajian yang secara khusus menggambarkan karakteristik dan perilaku konsumsi kopi Generasi Z di tingkat lokal masih relatif terbatas. Karena itu, penelitian di Surakarta dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kebiasaan konsumsi kelompok usia muda yang saat ini mendominasi populasi produktif Indonesia.
Penelitian menggunakan metode survei terhadap 30 responden Generasi Z yang tinggal di Surakarta. Para responden dipilih berdasarkan kriteria sebagai konsumen kopi aktif dan diminta mengisi kuesioner mengenai karakteristik pribadi, perilaku pembelian, serta preferensi mereka terhadap produk kopi. Seluruh data kemudian dianalisis secara deskriptif sehingga menghasilkan gambaran sederhana namun jelas mengenai pola konsumsi kopi di kalangan Generasi Z.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen kopi Generasi Z di Surakarta memiliki karakteristik yang relatif serupa. Sebagian besar responden merupakan perempuan berusia 17–21 tahun, berstatus mahasiswa, dan memiliki pendapatan atau uang saku kurang dari Rp500.000 setiap bulan. Kondisi ekonomi tersebut ternyata berpengaruh terhadap keputusan mereka ketika memilih tempat membeli kopi.
Penelitian menemukan beberapa pola perilaku yang menonjol, yaitu:
- 57% responden adalah perempuan.
- 63% berusia 17–21 tahun.
- 90% berstatus mahasiswa.
- 67% memiliki pendapatan kurang dari Rp500.000 per bulan.
- 97% lebih memilih membeli kopi secara langsung di coffee shop dibandingkan melalui aplikasi daring.
- 33% menjadikan harga murah sebagai alasan utama memilih tempat membeli kopi.
- 70% lebih menyukai kopi dingin dibandingkan kopi panas.
Salah satu temuan paling menarik adalah tingginya minat Generasi Z untuk membeli kopi secara langsung di kedai. Hampir seluruh responden memilih datang langsung dibanding memesan secara online. Menurut para peneliti, perilaku tersebut menunjukkan bahwa aktivitas minum kopi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan akan minuman berkafein. Coffee shop telah berkembang menjadi ruang sosial tempat bertemu teman, berdiskusi, belajar, hingga bekerja.
Rahmawati Setiyani dan tim menjelaskan bahwa pengalaman berada di coffee shop menjadi bagian penting dari nilai yang dicari konsumen. Suasana nyaman, kesempatan berinteraksi dengan orang lain, serta pengalaman menikmati kopi bersama teman memberikan nilai tambah yang tidak diperoleh ketika hanya memesan melalui layanan digital.
Faktor ekonomi juga terbukti sangat menentukan keputusan pembelian. Harga menjadi pertimbangan utama dibandingkan rasa maupun kualitas kopi. Setelah harga, konsumen lebih mempertimbangkan kenyamanan tempat, lokasi yang mudah dijangkau, serta tersedianya fasilitas seperti Wi-Fi. Temuan ini menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung mencari keseimbangan antara harga yang terjangkau dan pengalaman yang nyaman saat menikmati kopi.
Penelitian juga memperlihatkan adanya perubahan tren penyajian kopi. Sebanyak 70 persen responden lebih menyukai kopi dingin dibanding kopi panas. Pilihan tersebut mencerminkan perubahan gaya konsumsi di kalangan anak muda yang kini lebih mengutamakan kesegaran, variasi menu, dan pengalaman menikmati minuman dibanding fungsi tradisional kopi sebagai penghilang kantuk. Beragam minuman kopi dingin dengan tampilan menarik menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen Generasi Z.
Bagi pelaku industri kopi, hasil penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting. Coffee shop tidak cukup hanya menyajikan kopi berkualitas. Harga yang kompetitif, suasana yang nyaman, lokasi strategis, serta fasilitas pendukung seperti Wi-Fi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian pelanggan muda. Dengan memahami karakteristik tersebut, pelaku usaha dapat merancang strategi pemasaran yang lebih efektif sekaligus meningkatkan loyalitas pelanggan.
Temuan ini juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis usaha kuliner dan gaya hidup. Pertumbuhan coffee shop yang sesuai dengan kebutuhan konsumen muda berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, serta memperkuat sektor usaha mikro dan menengah di perkotaan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa preferensi konsumsi kopi Generasi Z dipengaruhi oleh karakteristik demografis, kemampuan membeli, pertimbangan harga, serta cara penyajian produk. Mereka juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar agar gambaran perilaku konsumen Generasi Z di Indonesia menjadi semakin komprehensif.
Profil Penulis
Rahmawati Setiyani merupakan akademisi dari Universitas Duta Bangsa Surakarta dengan fokus kajian pada perilaku konsumen dan agribisnis.
Lathifah Khairani adalah peneliti dari Universitas Bengkulu yang berkolaborasi dalam penelitian mengenai karakteristik dan preferensi konsumen muda.
Rajendra Agidya Putra merupakan akademisi dari Universitas Duta Bangsa Surakarta yang memiliki minat penelitian pada bidang ekonomi, agribisnis, dan perilaku pasar.
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i8.116
URL : .https://journalmudima.my.id/index.php/mudima
0 Komentar