![]() |
| Illustration by Ai |
Mamuju — Pemasaran ikan tongkol (Euthynnus affinis) di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kasiwa, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dianalisis oleh Masrendi, Kamaruddin, Hardianti Nur, Femiliani Novitasari, dan Widya Utami dari Universitas Muhammadiyah Mamuju. Penelitian lapangan berlangsung pada April hingga Juni 2026 dan menemukan dua jalur pemasaran ikan tongkol. Hasilnya menunjukkan bahwa jalur langsung dari nelayan ke konsumen memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi dan memberikan porsi harga yang lebih besar kepada nelayan.
Temuan tersebut penting karena
tingginya produksi ikan tongkol belum selalu berbanding lurus dengan
kesejahteraan nelayan. Posisi tawar nelayan dalam rantai distribusi dapat
melemah ketika hasil tangkapan harus melewati beberapa lembaga pemasaran
sebelum sampai kepada konsumen.
Ikan tongkol merupakan salah satu
komoditas perikanan pelagis yang memiliki nilai ekonomi penting. Dalam
perdagangan hasil tangkapan, perbedaan harga antara tingkat nelayan dan
konsumen dipengaruhi oleh biaya distribusi, jumlah pelaku pemasaran, margin, serta
keuntungan yang diperoleh setiap lembaga yang terlibat.
PPI Kasiwa menjadi salah satu
pusat pendaratan dan pemasaran hasil tangkapan di Kabupaten Mamuju. Di tempat
ini, ikan tongkol dipasarkan melalui beberapa pola distribusi. Semakin panjang
rantai pemasaran, semakin banyak pula biaya yang dapat muncul, seperti biaya
es, wadah atau kemasan, retribusi, tenaga kerja, dan transportasi.
Kondisi tersebut menjadi semakin
penting karena ikan merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan
kualitas. Pengelolaan rantai dingin dan kecepatan distribusi turut menentukan
nilai jual ikan hingga sampai kepada konsumen.
Dua Jalur Pemasaran Ikan
Tongkol
Masrendi dan rekan-rekannya
menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Sebanyak 30
responden dilibatkan, terdiri atas 10 nelayan, 10 pedagang, dan 10 konsumen
akhir.
Data diperoleh melalui observasi
kegiatan pendaratan dan perdagangan ikan, wawancara terstruktur mengenai harga
dan biaya pemasaran, serta dokumentasi transaksi. Para peneliti kemudian
menghitung biaya pemasaran, margin pemasaran, keuntungan lembaga pemasaran,
bagian harga yang diterima nelayan atau fisherman's share, serta indeks
efisiensi pemasaran.
Hasil penelitian mengidentifikasi
dua saluran pemasaran.
Saluran I: Nelayan →
Konsumen
Saluran II: Nelayan →
Pedagang Pengumpul → Pedagang Pengecer → Konsumen
Pada Saluran I, nelayan menjual
ikan secara langsung kepada konsumen di sekitar lokasi pendaratan. Sementara
itu, Saluran II melibatkan dua lembaga perantara, yaitu pedagang pengumpul dan
pedagang pengecer.
Perbedaan jumlah pelaku tersebut
menghasilkan perbedaan biaya dan harga yang cukup besar.
Jalur Langsung Memberikan
Porsi Harga Lebih Besar kepada Nelayan
Pada Saluran I, nelayan menjual
ikan tongkol dengan harga Rp15.000 per kilogram. Konsumen membayar Rp17.000 per
kilogram. Selisih harga atau margin pemasaran mencapai Rp2.000 per kilogram.
Biaya pemasaran pada jalur ini
sebesar Rp1.500 per kilogram. Biaya tersebut mencakup es Rp400, wadah atau
kemasan Rp200, retribusi Rp200, tenaga kerja Rp400, dan transportasi Rp300 per
kilogram.
Setelah dikurangi biaya
pemasaran, keuntungan yang diperoleh mencapai Rp500 per kilogram. Sementara
itu, fisherman's share atau bagian harga yang diterima nelayan mencapai
88,24 persen.
Indeks efisiensi pemasaran
Saluran I tercatat sebesar 8,82 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa
sebagian besar harga yang dibayarkan konsumen tetap menjadi bagian harga pada
tingkat nelayan karena rantai distribusinya sangat pendek.
Kondisinya berbeda pada Saluran
II. Ikan dibeli dari nelayan dengan harga Rp15.000 per kilogram, kemudian
dijual oleh pedagang pengumpul seharga Rp20.000 per kilogram. Setelah itu,
pedagang pengecer menjualnya kepada konsumen dengan harga Rp25.000 per kilogram.
Total margin pemasaran pada jalur
tersebut mencapai Rp10.000 per kilogram. Pedagang pengumpul memperoleh margin
Rp5.000 per kilogram, sedangkan pedagang pengecer juga memperoleh margin
Rp5.000 per kilogram.
Total biaya pemasaran Saluran II
mencapai Rp6.450 per kilogram. Pedagang pengumpul menanggung biaya Rp3.450 per
kilogram, sedangkan pedagang pengecer menanggung Rp3.000 per kilogram.
Setelah memperhitungkan biaya,
total keuntungan lembaga pemasaran pada Saluran II mencapai Rp3.550 per
kilogram. Keuntungan tersebut terdiri atas Rp1.550 per kilogram untuk pedagang
pengumpul dan Rp2.000 per kilogram untuk pedagang pengecer.
Pada jalur ini, fisherman's
share turun menjadi 60 persen, sedangkan indeks efisiensi pemasaran
meningkat menjadi 25,80 persen.
Kedua Jalur Tetap
Dikategorikan Efisien
Para penulis mencatat bahwa kedua
saluran pemasaran masih tergolong efisien berdasarkan nilai indeks yang
diperoleh. Namun, perbedaan antara keduanya terlihat jelas dari biaya dan
bagian harga yang diterima nelayan.
Saluran I memiliki indeks
efisiensi 8,82 persen, sedangkan Saluran II mencapai 25,80 persen. Saluran I
juga memberikan fisherman's share sebesar 88,24 persen, lebih tinggi
dibandingkan 60 persen pada Saluran II.
Menurut Masrendi, Kamaruddin,
Hardianti Nur, Femiliani Novitasari, dan Widya Utami dari Universitas
Muhammadiyah Mamuju, struktur pemasaran yang lebih pendek menjadi faktor
penting dalam efisiensi tersebut. Ketika ikan berpindah langsung dari nelayan
kepada konsumen, biaya dan selisih harga akibat keberadaan perantara dapat
ditekan.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa
panjang pendeknya rantai pemasaran berkaitan dengan distribusi nilai ekonomi
antara nelayan, pedagang, dan konsumen. Pada rantai yang lebih panjang, biaya
operasional setiap lembaga pemasaran ikut masuk ke dalam harga akhir ikan.
Penguatan Kelompok Nelayan dan
Infrastruktur Diperlukan
Hasil penelitian dapat menjadi
bahan pertimbangan bagi nelayan dan pemangku kepentingan perikanan di Mamuju
dalam membangun sistem perdagangan yang lebih efisien.
Para peneliti merekomendasikan
pemendekan rantai pemasaran serta penguatan kelembagaan nelayan, misalnya
melalui kelompok nelayan atau koperasi. Penguatan kelembagaan diharapkan dapat
meningkatkan posisi tawar nelayan ketika menjual hasil tangkapan.
Dukungan pemerintah daerah juga
dinilai penting, terutama melalui penyediaan fasilitas rantai dingin,
peningkatan infrastruktur PPI Kasiwa, serta upaya menjaga stabilitas harga
ikan.
Bagi konsumen, rantai pemasaran
yang lebih pendek juga dapat membantu memperjelas hubungan antara harga di
tingkat nelayan dan harga yang dibayarkan di tingkat akhir. Bagi pelaku usaha,
efisiensi distribusi dapat menjadi bagian penting dalam mengendalikan biaya
pemasaran tanpa mengabaikan kualitas ikan.
Penelitian berikutnya disarankan
melibatkan jumlah responden yang lebih besar dan periode pengamatan yang lebih
panjang agar hasil analisis dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai
sistem pemasaran ikan tongkol di Mamuju.
Profil Penulis
Artikel jurnal ini ditulis oleh Masrendi,
Kamaruddin, Hardianti Nur, Femiliani Novitasari, dan Widya Utami, yang
seluruhnya berafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Mamuju.
Bidang kajian artikel berkaitan
dengan pemasaran hasil perikanan, efisiensi pemasaran, margin pemasaran,
distribusi hasil tangkapan, dan ekonomi nelayan. Artikel sumber tidak
mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis maupun rincian bidang
keahlian individual, sehingga informasi tersebut tidak dicantumkan di sini.
Sumber Penelitian
Judul jurnal: Marketing
Efficiency of Tongkol Fish (Euthynnus Affinis) at the Kasiwa Landing and Fish
Management Base (PPI), Mamuju Regency
Penulis: Masrendi,
Kamaruddin, Hardianti Nur, Femiliani Novitasari, Widya Utami
Afiliasi: Universitas
Muhammadiyah Mamuju
Jurnal: International
Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR)
Volume/Nomor: Vol. 4, No.
8, 2026
Halaman: 757–764
Tahun publikasi: 2026
DOI:
10.59890/ijaamr.v4i8.302
URL jurnal:
nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr/index

0 Komentar