Kegiatan tersebut mengangkat tema “Bukan Sekedar Uang: Memahami dan Melawan Wajah Korupsi dalam Interaksi Sosial”. Tim dari STIE Indonesia Banking School Jakarta berupaya memperluas pemahaman siswa bahwa pencegahan korupsi tidak hanya berkaitan dengan penindakan terhadap kasus besar, tetapi juga dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Dalam artikel yang diterbitkan di Jurnal Pengabdian Pancasila Volume 5 Nomor 3 tahun 2026, para penulis menjelaskan bahwa perilaku koruptif dapat muncul dalam berbagai bentuk interaksi sosial. Di lingkungan sekolah, contohnya antara lain mencontek saat ujian, menitipkan absensi kepada teman, tidak jujur dalam kerja kelompok, serta melanggar aturan demi kepentingan pribadi. Kebiasaan tersebut kerap dianggap sebagai tindakan kecil, tetapi penulis menilai pemahaman mengenai dampaknya perlu dibangun sejak usia sekolah.
Korupsi tidak hanya soal uang
Korupsi pada umumnya dikenal sebagai penyalahgunaan jabatan atau keuangan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Namun, kegiatan edukasi di SMA Cenderawasih 1 menggunakan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Materi yang diberikan mencakup pengertian korupsi, bentuk perilaku koruptif dalam kehidupan sehari-hari, faktor penyebab korupsi, dampaknya terhadap kehidupan ekonomi dan sosial, serta peran generasi muda dalam mencegah perilaku tersebut. Siswa juga diajak memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, transparansi, disiplin, dan kepedulian sosial.
Pendekatan tersebut berangkat dari persoalan yang lebih luas. Artikel menjelaskan bahwa normalisasi perilaku koruptif berskala kecil dapat mengikis kepercayaan sosial dan membuat tindakan yang sebenarnya tidak adil terlihat sebagai sesuatu yang biasa. Penulis juga menyoroti berbagai praktik yang dalam kehidupan sehari-hari dapat dianggap sebagai “jalan pintas”, seperti pemberian uang kepada petugas atau penggunaan hubungan pribadi untuk memperoleh kemudahan.
Karena itu, pendidikan menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kebiasaan antikorupsi sejak dini. Menurut para penulis, sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter, etika, dan sikap bertanggung jawab.
Edukasi dilakukan lewat games dan kuis
Program berlangsung secara tatap muka di SMA Cenderawasih 1 Jakarta. Kegiatan dimulai dengan permainan interaktif untuk menarik perhatian siswa, dilanjutkan dengan pemaparan materi menggunakan PowerPoint, contoh kasus, video edukasi, serta diskusi mengenai perilaku koruptif di lingkungan sekolah dan kehidupan sosial.
Tim pelaksana juga menggunakan games dan kuis online sebagai bagian dari proses pembelajaran. Metode ini dirancang agar siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi ikut berpartisipasi dan menguji pemahaman mereka.
Kuis mencakup pertanyaan mengenai pengertian korupsi, bentuk perilaku koruptif dalam interaksi sosial, dampak korupsi, dan strategi pencegahannya. Siswa yang memperoleh hasil terbaik mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi.
Menurut Edi Komara dan rekan-rekannya, pendekatan interaktif membuat siswa lebih aktif dan antusias mengikuti kegiatan. Contoh kasus yang diberikan juga membantu peserta melihat bahwa perilaku koruptif tidak hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan atau kekuasaan tinggi, tetapi dapat muncul dalam berbagai situasi ketika seseorang memiliki kesempatan untuk bertindak tidak jujur.
Pemahaman siswa meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa mampu memahami konsep dasar korupsi, berbagai bentuk perilaku koruptif dalam kehidupan sehari-hari, serta pentingnya menerapkan nilai antikorupsi di lingkungan sekolah. Tim penulis juga mencatat adanya peningkatan pemahaman mengenai pentingnya integritas, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sebagai bagian dari pencegahan perilaku koruptif sejak dini.
Namun, artikel tidak mencantumkan angka persentase peningkatan nilai sebelum dan sesudah kegiatan. Karena itu, hasil tersebut lebih tepat dipahami sebagai temuan evaluasi kegiatan berdasarkan kuis, partisipasi peserta, dan respons siswa, bukan sebagai ukuran statistik mengenai efektivitas program.
Bagi pendidikan, kegiatan ini menunjukkan bahwa pesan antikorupsi dapat disampaikan melalui situasi yang dekat dengan pengalaman siswa. Kejujuran tidak hanya menjadi konsep dalam materi pelajaran, tetapi dapat diterapkan melalui tindakan sederhana seperti mengerjakan ujian sendiri, tidak menitipkan absensi, bertanggung jawab dalam kerja kelompok, dan menaati aturan sekolah.
Pendidikan antikorupsi dimulai dari kebiasaan sehari-hari
Edi Komara dan tim menekankan bahwa pembentukan karakter antikorupsi perlu dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, sekolah, dan kehidupan sosial. Penanaman nilai integritas sejak usia sekolah diharapkan menjadi dasar bagi generasi muda untuk menghindari perilaku yang bertentangan dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, pemberantasan korupsi tidak hanya dipandang sebagai persoalan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan besar. Pencegahan juga dapat dilakukan melalui pembentukan kebiasaan dan budaya yang menolak ketidakjujuran sejak dini.
Profil Penulis
Edi Komara — STIE Indonesia Banking School Jakarta, penulis korespondensi.
Valendra Desilva — STIE Indonesia Banking School Jakarta.
Yehezkiel William Rassi — STIE Indonesia Banking School Jakarta.
Agus Rizky Pandapotan Siagian — STIE Indonesia Banking School Jakarta.
Najla Aqilah — STIE Indonesia Banking School Jakarta.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian khusus masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan di luar sumber.
0 Komentar