Ilustrasi by AI
 
FORMOSA NEWS - Surabaya - Perbedaan pendapat di ruang digital kerap berujung konflik. Namun riset terbaru menunjukkan, komunitas warga justru mampu mengelola polarisasi secara dewasa. Itulah temuan utama penelitian Yuzril Fadhil Muhammad dan Farida dari Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, yang dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Sosial, Politik, dan Budaya (SOSPOLBUD). Studi ini menyoroti bagaimana grup WhatsApp warga tingkat RT/RW di Surabaya berhasil menjaga diskusi tetap kondusif meski diwarnai perbedaan pandangan.

Penelitian ini penting karena polarisasi opini di media sosial selama ini dianggap sebagai ancaman serius bagi kualitas komunikasi publik. Banyak kajian menyoroti peran algoritma platform digital sebagai penyebab utama. Namun riset Yuzril dan Farida menunjukkan sisi lain: kekuatan komunikasi internal komunitas justru berperan besar dalam meredam konflik dan menjaga dialog tetap berjalan.

WhatsApp Warga sebagai Ruang Diskusi Publik Baru

Di banyak kota besar Indonesia, grup WhatsApp warga RT/RW telah menjadi ruang diskusi utama. Isu lingkungan, kebijakan publik, hingga peristiwa sosial dibahas setiap hari. Kedekatan sosial yang tinggi memang memperkuat solidaritas, tetapi juga berpotensi memicu gesekan saat terjadi perbedaan pendapat.

“Ruang diskusi digital berbasis komunitas lokal punya dinamika yang unik. Ia dekat, personal, dan emosional,” tulis Yuzril Fadhil Muhammad dalam artikelnya. Karena itu, pengelolaan komunikasi menjadi kunci agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik terbuka.

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Lokasinya adalah satu komunitas WhatsApp warga RT/RW di Kota Surabaya. Data dikumpulkan melalui observasi percakapan grup, wawancara mendalam dengan 10 informan kunci, serta analisis dokumen internal komunitas.

Informan terdiri dari tiga admin grup WhatsApp, dua pengurus RT/RW, dan lima anggota aktif yang sering terlibat diskusi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat langsung bagaimana komunikasi berlangsung secara alami, tanpa rekayasa.

Moderasi Informal Jadi Kunci Utama

Salah satu temuan paling menonjol adalah peran moderasi informal. Tidak ada aturan tertulis yang ketat atau sanksi formal. Namun ketika diskusi mulai memanas, admin atau pengurus RT/RW biasanya turun tangan dengan cara persuasif.

Bentuknya sederhana, seperti mengingatkan agar diskusi dilakukan dengan tenang, meluruskan kesalahpahaman, atau mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih netral. Pendekatan ini terbukti efektif karena tidak mempermalukan pihak tertentu dan tetap menjaga partisipasi anggota.

Seorang admin grup mengatakan, “Kalau mulai panas, saya ingatkan pelan-pelan. Jangan keras, nanti malah tambah ribut.” Pendekatan kekeluargaan ini membuat anggota merasa dihargai, bukan dikendalikan.

Bahasa Tenang Redam Emosi

Selain moderasi informal, penelitian ini menemukan pentingnya pembingkaian pesan yang menenangkan. Saat perbedaan pendapat muncul, beberapa anggota secara sadar menggunakan bahasa empatik, menekankan kesamaan sebagai sesama warga, dan mengajak fokus pada solusi.

Alih-alih berdebat soal siapa benar dan siapa salah, pesan diarahkan pada kepentingan bersama. Menurut Farida, dosen komunikasi Universitas Dr. Soetomo, cara ini membantu menurunkan emosi kolektif dan mencegah konflik melebar.

Anggota grup juga merasakan dampaknya. “Kalau bahasanya adem, orang jadi mikir ulang sebelum membalas,” ujar salah satu informan.

Norma Bersama yang Dijaga Kolektif

Penelitian ini juga mencatat adanya norma komunikasi bersama yang terus diperkuat. Norma tersebut mencakup penggunaan bahasa sopan, larangan menyerang pribadi, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat.

Menariknya, norma ini tidak hanya ditegakkan oleh admin. Anggota lain pun ikut saling mengingatkan jika ada yang melanggar. Dengan begitu, kontrol sosial bersifat kolektif, bukan top-down.

Ketika norma dijaga secara konsisten, intensitas konflik menurun dan diskusi tetap produktif. Warga merasa aman menyampaikan pendapat tanpa takut diserang.

Legitimasi Sosial Perkuat Pengaruh Admin

Efektivitas strategi komunikasi ini juga dipengaruhi oleh legitimasi sosial para pelaku moderasi. Admin grup dan pengurus RT/RW dipandang sebagai figur yang mewakili kepentingan bersama. Karena itu, intervensi mereka lebih mudah diterima.

Namun penelitian ini menegaskan bahwa peran anggota aktif juga penting. Mereka sering menjadi penyeimbang dengan memberikan respons rasional dan tidak provokatif. Hasilnya adalah sistem pengelolaan komunikasi yang kolektif dan berkelanjutan.

Dampak bagi Masyarakat dan Kebijakan Publik

Temuan ini memiliki implikasi luas. Di tengah kekhawatiran terhadap polarisasi digital, penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas lokal memiliki kapasitas sosial untuk mengelola konflik secara mandiri.

Bagi masyarakat, hasil riset ini menjadi bukti bahwa perbedaan pendapat tidak harus berujung perpecahan. Bagi pengelola komunitas digital, pendekatan persuasif dan berbasis kepercayaan terbukti lebih efektif dibanding aturan kaku.

Sementara bagi pembuat kebijakan, penelitian ini membuka peluang penguatan literasi komunikasi digital berbasis komunitas, bukan semata mengandalkan regulasi platform.

Profil Penulis

Yuzril Fadhil Muhammad, S.I.Kom., M.I.Kom. adalah dosen dan peneliti bidang komunikasi digital di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Keahliannya meliputi komunikasi komunitas, media digital, dan dinamika opini publik.

Farida, S.Sos., M.Si. merupakan akademisi di Universitas Dr. Soetomo dengan fokus kajian komunikasi sosial dan budaya, serta interaksi masyarakat di ruang digital.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Communication Strategies of Digital Communities in Managing Opinion Polarization within Online Discussion Spaces Jurnal:

Jurnal Sosial, Politik, dan Budaya (SOSPOLBUD)

Volume 5, Nomor 1, Tahun 2026, halaman 1–14

DOI: https://doi.org/10.55927/sospolbud.v5i1.15938

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/sospolbud