Transformasi Digital Dinilai Bergantung pada Sinergi Manusia dan AI


Transformasi digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kajian Yuliati dari Department of Management, STIE Pelita Nusantara, menunjukkan bahwa keunggulan organisasi semakin ditentukan oleh kemampuan manusia berkolaborasi dengan kecerdasan buatan (AI). Artikel tersebut terbit pada 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), setelah diterima pada 20 Juli 2026. Temuan ini penting karena banyak organisasi telah berinvestasi besar pada teknologi digital, tetapi belum semuanya mampu mengubah investasi tersebut menjadi kinerja dan keunggulan kompetitif.

Teknologi Saja Tidak Menjamin Keberhasilan Transformasi

Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital telah mengubah cara organisasi bekerja. AI dan machine learning tidak lagi hanya digunakan untuk pekerjaan administratif, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi perusahaan dan proses pengambilan keputusan. Namun, peningkatan investasi teknologi belum otomatis menghasilkan keberhasilan transformasi digital.

Yuliati mencatat adanya kesenjangan antara strategi digital dan pelaksanaannya di lapangan. Sejumlah proyek transformasi digital bahkan tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan transformasi digital bukan semata-mata masalah teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas modal manusia, kemampuan beradaptasi, pembelajaran, dan pola kerja organisasi.

Dalam konteks ini, karyawan tidak lagi cukup dipandang sebagai aset individual yang memiliki keterampilan tertentu. Mereka perlu dilihat sebagai bagian dari sistem yang berinteraksi dengan teknologi, data, AI, dan lingkungan organisasi.

Kajian Menganalisis 33 Artikel Internasional

Yuliati menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti protokol PRISMA 2020. Kajian tersebut menganalisis 33 artikel ilmiah internasional yang telah melalui proses peer review dan diterbitkan antara 2015 hingga 2025.

Sumber literatur berasal dari tiga basis data utama, yaitu Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Literatur tersebut dianalisis untuk memahami hubungan antara modal manusia, transformasi digital, kecerdasan kolektif, investasi teknologi informasi dan komunikasi (ICT), serta kebutuhan tenaga kerja.

Pendekatan ini memungkinkan Yuliati menggabungkan berbagai perspektif, mulai dari kemampuan individu, manajemen sumber daya manusia, hingga perubahan kebutuhan tenaga kerja di tingkat industri.

AI Lebih Efektif Ketika Menjadi Mitra Kerja

Salah satu temuan penting kajian tersebut adalah meningkatnya Collective Intelligence atau kecerdasan kolektif organisasi ketika AI ditempatkan sebagai agen kolaboratif dalam desain pekerjaan.

Artinya, AI tidak semata-mata diposisikan sebagai pengganti pekerja. Teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai mitra yang memperkuat kemampuan manusia. Kombinasi antara pengetahuan, pengalaman, kreativitas manusia dan kemampuan komputasi AI dapat menghasilkan kemampuan organisasi yang tidak dapat dicapai hanya melalui kemampuan individu.

Temuan ini juga menggeser cara organisasi memandang modal manusia. Pengetahuan dan keterampilan tidak lagi dianggap sebagai “stok” yang melekat secara tetap pada individu. Nilainya dapat berubah ketika manusia berinteraksi dengan teknologi dan lingkungan kerja digital.

Yuliati Memperkenalkan Konsep Digital Human Capital Affordance

Kontribusi utama artikel ini adalah konsep Digital Human Capital Affordance (DHCA). Konsep tersebut menggambarkan modal manusia sebagai kemampuan yang terbentuk melalui hubungan antara manusia, teknologi digital, dan lingkungan organisasi.

DHCA diposisikan sebagai mekanisme yang membantu menjelaskan mengapa organisasi dengan teknologi yang serupa dapat menghasilkan kinerja berbeda ketika kemampuan manusianya berbeda. Dengan kata lain, manfaat teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat, tetapi juga oleh bagaimana manusia mampu memanfaatkannya.

Yuliati juga mengkritisi model Ability-Motivation-Opportunity (AMO) yang selama ini banyak digunakan untuk menjelaskan kinerja karyawan. Model tersebut menekankan kemampuan, motivasi, dan kesempatan sebagai faktor utama kinerja.

Dalam lingkungan digital, hubungan tersebut dinilai tidak lagi sederhana dan linear. Sistem berbasis AI dapat memberikan umpan balik secara cepat, mengubah cara kerja, memengaruhi proses pembelajaran, serta menciptakan peluang baru bagi pekerja.

Pembelajaran Berkelanjutan Menjadi Kunci

Kajian tersebut juga menemukan bahwa ketahanan tenaga kerja dapat diperkuat melalui jalur pembelajaran hibrida yang disesuaikan dengan konteks pekerjaan. Keterampilan pekerja perlu dihubungkan dengan kualitas investasi ICT yang tersedia di organisasi.

Pendekatan tersebut penting karena tidak semua pekerja dan organisasi menghadapi kondisi digital yang sama. Strategi pengembangan keterampilan yang efektif di perusahaan dengan kematangan digital tinggi belum tentu dapat diterapkan secara langsung pada organisasi dengan infrastruktur teknologi yang terbatas.

Kajian Yuliati juga menunjukkan bahwa kerangka yang ditawarkan lebih kuat pada sektor dengan kematangan digital tinggi, seperti sektor keuangan. Sebaliknya, keterbatasan infrastruktur teknologi dan kelembagaan dapat menjadi hambatan bagi penerapannya di negara atau organisasi yang sedang berada dalam proses transisi digital.

Implikasi bagi Dunia Usaha dan Pendidikan

Temuan ini memberikan pesan penting bagi perusahaan: investasi transformasi digital perlu berjalan bersama investasi pada manusia. Pengadaan perangkat lunak, AI, sistem data, dan infrastruktur digital tidak akan maksimal jika pekerja tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara efektif.

Bagi manajemen sumber daya manusia, strategi pelatihan juga perlu bergeser dari model pelatihan satu kali menuju pembelajaran berkelanjutan dan kontekstual. Pekerja perlu dibekali kemampuan digital sekaligus kemampuan untuk bekerja bersama sistem AI.

Bagi lembaga pendidikan, perkembangan tersebut memperkuat kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan adaptasi terhadap teknologi.

Secara lebih luas, kajian ini menunjukkan bahwa masa depan pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh pertanyaan apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana organisasi merancang hubungan kerja agar kemampuan manusia dan AI dapat saling memperkuat.

Profil Penulis

Yuliati merupakan penulis artikel dan berasal dari Department of Management, STIE Pelita Nusantara. Artikel tersebut berfokus pada strategi modal manusia, transformasi digital, keunggulan kompetitif, kecerdasan kolektif, model AMO, dan konsep Digital Human Capital Affordance.

Sumber Penelitian

Judul: Human Capital Strategies for Competitive Advantage in Digital Transformation: A Socio-Technical Modification of the Resource-Based View
Penulis: Yuliati
Afiliasi: Department of Management, STIE Pelita Nusantara
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Volume: 4, Nomor 7, 2026, halaman 737–758
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.268

https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

 


Posting Komentar

0 Komentar