Analisis mencakup lahan, jalan, drainase hingga fasilitas publik
Frisdiantoro dan Tribhuwana menggunakan pendekatan studi kasus dengan pengamatan lapangan dan dokumentasi. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan dokumen perencanaan, peraturan tata ruang, serta informasi pendukung dari pengembang. Dengan cara ini, kondisi aktual kawasan dapat dibandingkan dengan rencana pembangunan dan ketentuan tata ruang yang berlaku.
Area perencanaan yang dianalisis mencapai 343.017 meter persegi atau sekitar 34,3 hektare. Hasil analisis menunjukkan kawasan hunian menempati sekitar 26,05 persen, zona komersial 8,37 persen, jaringan jalan dan drainase 21,74 persen, fasilitas publik dan sosial 6,81 persen, ruang terbuka hijau 13,48 persen, serta lahan untuk pengembangan berikutnya sekitar 23,55 persen. Seluruh fungsi lahan tersebut tercatat sesuai dengan rencana tata ruang wilayah untuk zona hunian perkotaan.
Salah satu temuan penting berkaitan dengan lalu lintas. Jaringan jalan kawasan menggunakan hierarki yang membedakan jalan utama dan jalan lingkungan. Jalan boulevard utama memiliki median dengan lebar 14 meter, sementara jalan klaster memiliki lebar sekitar 6 meter. Analisis kinerja lalu lintas menghasilkan tingkat kejenuhan 0,47, yang menunjukkan kondisi lalu lintas masih stabil dan relatif lancar.
Sistem drainase menjadi perhatian utama
Aspek air hujan menjadi bagian penting dalam rekomendasi pengembangan. Catatan curah hujan harian maksimum selama 2016–2025 menunjukkan fluktuasi yang cukup besar, dengan angka tertinggi mencapai 210 milimeter per hari pada 2025. Kajian hidrologi juga menunjukkan bahwa kapasitas Sungai Cikalong masih mampu menampung limpasan yang berasal dari kawasan dan daerah tangkapan di sekitarnya.
Kontribusi CitraLand Cirebon terhadap kapasitas total Sungai Cikalong diperkirakan hanya sekitar 0,371 persen. Berdasarkan analisis tersebut, risiko banjir lokal lebih banyak berkaitan dengan faktor seperti sedimentasi dasar sungai dan penyempitan saluran dibandingkan tambahan limpasan dari kawasan perumahan.
Namun, peneliti tetap merekomendasikan sistem pengelolaan air hujan yang lebih terintegrasi untuk menghadapi perkembangan kawasan. Salah satu usul utamanya adalah membangun tiga kolam retensi yang tersebar di beberapa klaster dengan luas total 9.275 meter persegi dan kedalaman 2 meter.
Ketiga kolam tersebut dirancang memiliki kapasitas volume bruto sekitar 18.550 meter kubik, termasuk sekitar 11.130 meter kubik ruang penyimpanan aktif untuk menahan limpasan puncak sebelum dialirkan secara terkendali ke Sungai Cikalong. Sistem tersebut juga menyediakan ruang penyimpanan sedimen dan ruang bebas untuk mengurangi risiko limpasan berlebih.
Ruang hijau sekaligus fasilitas rekreasi
Menariknya, kolam retensi yang diusulkan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendali air. Kawasan di sekitarnya dapat dikembangkan sebagai ruang hijau multifungsi yang terhubung dengan fasilitas olahraga dan ruang sosial.
Rencana tersebut mencakup pusat olahraga modern seluas sekitar 1.500 meter persegi, seperti lapangan padel atau tenis dan jalur jogging. Strategi ini diperkirakan meningkatkan proporsi ruang terbuka hijau dari 20,3 persen menjadi 23 persen, atau bertambah sekitar 2,70 persen.
Bagi penghuni, pendekatan tersebut dapat memberikan manfaat ganda. Infrastruktur yang biasanya hanya dianggap sebagai fasilitas teknis—seperti kolam retensi—dapat sekaligus menjadi bagian dari lanskap kawasan. Penambahan ruang hijau juga berpotensi mendukung kualitas mikroklimat, kenyamanan lingkungan, aktivitas sosial, serta daya tarik kawasan hunian.
Infrastruktur perlu dikembangkan secara bertahap
Frisdiantoro dan Tribhuwana menilai pengembangan CitraLand Cirebon memiliki potensi untuk diarahkan menjadi kawasan hunian yang lebih tangguh terhadap risiko lingkungan. Perencanaan yang dihasilkan juga dinyatakan selaras dengan kerangka tata ruang yang berlaku di lokasi tersebut, termasuk RDTR 2021–2041 dan kajian risiko bencana Kota Cirebon.
Peneliti merekomendasikan agar pembangunan dilakukan secara bertahap dan dikelola dengan baik. Penguatan jaringan jalan dan sistem eco-drainage menjadi prioritas, sementara zona komersial perlu ditata agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengurangi kenyamanan kawasan hunian.
Pemeliharaan fasilitas publik, ruang hijau, dan kolam retensi juga dinilai sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Tanpa pemeliharaan berkelanjutan, infrastruktur yang telah dirancang untuk mengurangi risiko lingkungan dapat kehilangan efektivitasnya.
Kajian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pembangunan perumahan modern membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar menambah jumlah rumah. Kesesuaian lahan, infrastruktur, fasilitas publik, utilitas, tata ruang, dan pengelolaan lingkungan harus direncanakan sebagai satu kesatuan. Pendekatan tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pengembang dan pemerintah daerah ketika merancang kawasan hunian yang tetap nyaman sekaligus mampu menghadapi tekanan pertumbuhan kota.
Profil Penulis
Erick Wahyu Frisdiantoro: Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Swadaya Gunung Jati, Indonesia. Bidang kajian dalam artikel ini berkaitan dengan pengembangan kawasan perumahan, perencanaan infrastruktur, tata ruang, drainase, dan pembangunan kawasan hunian berkelanjutan.
Awliya Tribhuwana: Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Swadaya Gunung Jati, Indonesia. Artikel bersama Erick Wahyu Frisdiantoro membahas perencanaan dan pengembangan kawasan CitraLand Cirebon dari perspektif teknik sipil dan keberlanjutan kawasan.
0 Komentar