Terapi okupasi berbasis aktivitas
bercocok tanam terbukti secara signifikan mampu mengurangi gejala dan tanda
halusinasi pendengaran pada penderita skizofrenia. Temuan ilmiah ini diungkap
oleh Jumilia dari Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru bersama Devika
Handayani dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan Pekanbaru melalui penelitian yang
dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026. Hasil riset ini menjadi angin segar
bagi dunia keperawatan jiwa karena menyediakan metode intervensi
non-farmakologis yang relatif terjangkau, alami, dan mudah diterapkan untuk
mendukung proses pemulihan pasien secara holistik.
Halusinasi pendengaran merupakan
gangguan persepsi sensori yang dialami oleh mayoritas penderita gangguan jiwa,
di mana pasien mendengar suara-suara bisikan tanpa adanya rangsangan nyata dari
luar. Suara ini sering kali mengganggu, muncul saat sendirian, dan memicu
ketidakmampuan membedakan imajinasi dengan kenyataan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, dibutuhkan terapi pendamping di luar obat-obatan medis yang dapat
mengalihkan fokus pasien dari dunia halusinasinya ke realitas secara bertahap.
Metodologi penelitian ini
dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif kuasi-eksperimen (one-group
pretest-posttest design) yang berlangsung dari April hingga Juni 2026 di
Ruang Siak RSJ Tampan Pekanbaru, Riau. Sebanyak 10 pasien wanita yang mengalami
halusinasi pendengaran dipilih sebagai sampel penelitian melalui teknik purposive
sampling. Tingkat keparahan halusinasi diukur sebelum dan sesudah
intervensi menggunakan instrumen baku Auditory Hallucinations Rating Scale
(AHRS).
Selama lima hari berturut-turut,
para pasien mengikuti program terstruktur yang menggabungkan edukasi psikologis
dan praktik bercocok tanam. Aktivitas fisik dilakukan menggunakan media
sederhana seperti polybag, tanah, serta benih tanaman cabai, tomat, terong, dan
paprika. Pasien diajarkan cara memasukkan tanah, menanam benih, hingga menyiram
tanaman secara rutin.
Hasil penelitian menunjukkan
adanya penurunan tingkat halusinasi yang sangat signifikan:
- Sebelum mengikuti terapi bercocok tanam, rerata
skor gejala halusinasi pasien berada di angka 29,60 dengan standar deviasi
5,929.
- Setelah menjalani rangkaian terapi bercocok tanam,
rerata skor gejala halusinasi pasien mengalami penurunan menjadi 22,30
dengan standar deviasi 3,802.
- Analisis uji statistik paired t-test
menghasilkan nilai p-value sebesar 0,001 ($p < 0,05$), yang
mengonfirmasi bahwa terapi bercocok tanam berpengaruh nyata dalam
menurunkan gejala halusinasi pendengaran.
Secara fisiologis dan psikologis,
aktivitas menanam dan merawat tumbuhan merangsang saraf motorik halus serta
kasar pasien. Kegiatan di area hijau terbuka ini merangsang pelepasan hormon
serotonin dan dopamin yang dapat menaikkan suasana hati, sekaligus menekan
kadar kortisol (hormon stres). Alhasil, pasien yang sebelumnya sering melamun,
bicara sendiri, atau gelisah menjadi jauh lebih tenang, fokus, dan kooperatif.
Penelitian ini memiliki dampak
praktis yang besar bagi manajemen pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit
maupun fasilitas rehabilitasi berbasis masyarakat. Metode ini terbukti mampu
menumbuhkan rasa tanggung jawab, melatih daya konsentrasi, serta membuka ruang
interaksi sosial antar-pasien tanpa memerlukan peralatan medis yang mahal.
"Aktivitas bercocok tanam
tidak hanya membantu mengurangi keterlibatan pasien dengan dunia halusinasinya,
tetapi juga merangsang pikiran, emosi, dan perilaku yang lebih sadar serta
menghadirkan perasaan bahagia," jelas Jumilia dan Devika Handayani dalam
publikasi ilmiah mereka.
Atas keberhasilan riset tersebut,
para peneliti merekomendasikan agar rumah sakit jiwa mengintegrasikan terapi
okupasi bercocok tanam ke dalam jadwal rutin minimal dua kali seminggu, serta
melanjutkannya sebagai program terapi kemandirian di rumah.
Profil Penulis Utama
- Nama Lengkap: Jumilia, S.Kep., Ns., M.Kep.
(atau disesuaikan dengan gelar akademik di ranah keperawatan)
- Afiliasi: Institut Kesehatan Payung Negeri
Pekanbaru, Riau
- Bidang Keahlian: Keperawatan Jiwa dan Terapi
Okupasi
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: The Effect of Planting
Occupational Therapy in Reducing Signs and Symptoms of Auditory
Hallucinations in Patients With Auditory Hallucinations in the Siak of
Tampan Mental Hospital Pekanbaru - Riau Province 2026
- Nama Jurnal: International Journal of
Natural and Health Sciences (IJNHS)
- Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 4, No. 3, Hal.
343-352)
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijnhs.v4i3.276
- URL Resmi: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs/index
0 Komentar