Influencer Keuangan Dorong Pembelian Produk Finansial, Literasi Keuangan Jadi Penyeimbang

Illustration by Ai

Komunikasi persuasif yang dilakukan influencer di media sosial terbukti berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk keuangan di kalangan Generasi Z dan Milenial di Kota Makassar. Temuan ini diungkap oleh Andi Anggi Kemalasari, Hasisa Haruna, Nur Rahmi, dan Utiana Usman dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR). Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa influencer mampu mendorong adopsi produk keuangan digital, tetapi dampaknya dapat dikurangi oleh tingkat literasi keuangan yang baik dan diperkuat oleh strategi promosi yang efisien.

Pertumbuhan industri teknologi keuangan atau financial technology (fintech) telah mengubah cara masyarakat mengakses layanan keuangan. Di Makassar, yang menjadi salah satu pusat ekonomi digital di Indonesia Timur, Generasi Z dan Milenial semakin akrab dengan investasi digital, dompet elektronik, layanan pay later, hingga produk asuransi berbasis aplikasi. Dalam proses tersebut, media sosial memainkan peran besar sebagai sumber informasi dan rekomendasi.

Banyak perusahaan fintech kini memanfaatkan influencer untuk memperkenalkan produk mereka. Melalui video singkat, ulasan, dan pengalaman pribadi yang dibagikan di platform seperti TikTok dan Instagram, influencer mampu membangun kedekatan emosional dengan audiens. Namun, pengaruh tersebut juga menimbulkan pertanyaan penting: apakah konsumen membeli produk keuangan karena benar-benar memahami manfaatnya, atau hanya karena terpengaruh oleh promosi yang menarik?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar melakukan survei terhadap 234 responden Generasi Z dan Milenial yang tinggal di Kota Makassar. Seluruh responden aktif menggunakan media sosial dan pernah melihat promosi produk keuangan dalam tiga bulan terakhir. Penelitian menggunakan kuesioner digital dan menganalisis hubungan antara komunikasi influencer, literasi keuangan, efektivitas biaya akuisisi pelanggan (Customer Acquisition Cost atau CAC), dan keputusan pembelian produk keuangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi persuasif influencer memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk keuangan. Semakin kredibel, menarik, dan meyakinkan pesan yang disampaikan influencer, semakin besar kemungkinan konsumen memutuskan untuk menggunakan atau membeli produk keuangan digital.

Penelitian menemukan bahwa model yang dikembangkan mampu menjelaskan 64,2 persen variasi keputusan pembelian produk keuangan di kalangan Generasi Z dan Milenial Makassar. Angka ini menunjukkan bahwa kombinasi antara komunikasi influencer, literasi keuangan, dan efektivitas strategi pemasaran memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap perilaku konsumen.

Salah satu temuan paling menarik adalah peran literasi keuangan sebagai faktor penyeimbang. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat literasi keuangan seseorang, semakin kecil pengaruh langsung komunikasi influencer terhadap keputusan pembelian. Dengan kata lain, konsumen yang memahami konsep keuangan, risiko investasi, dan legalitas produk cenderung lebih kritis sebelum mengambil keputusan.

Menurut Andi Anggi Kemalasari dan tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar, literasi keuangan berfungsi sebagai “filter rasional” yang membantu konsumen menilai informasi secara lebih objektif. Mereka tidak langsung percaya pada popularitas influencer atau tren yang sedang berkembang, tetapi terlebih dahulu memeriksa risiko, manfaat, dan legalitas produk yang ditawarkan.

Sebaliknya, konsumen dengan tingkat literasi keuangan yang rendah lebih rentan terpengaruh oleh daya tarik personal influencer, gaya hidup yang ditampilkan, atau fenomena fear of missing out (FOMO). Kondisi ini membuat mereka lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan emosi dibandingkan analisis yang mendalam.

Penelitian juga menemukan bahwa efektivitas Customer Acquisition Cost (CAC) memperkuat pengaruh influencer terhadap keputusan pembelian. CAC merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru. Dalam praktiknya, efektivitas CAC terlihat melalui berbagai insentif seperti kode promo, cashback, potongan biaya administrasi, hingga proses pendaftaran yang lebih mudah.

Ketika promosi influencer didukung oleh insentif yang menarik dan mudah diakses, konsumen menjadi lebih terdorong untuk mencoba produk keuangan yang ditawarkan. Dengan kata lain, kombinasi antara pesan yang meyakinkan dan keuntungan finansial langsung terbukti mampu meningkatkan tingkat konversi pelanggan baru.

Dari sisi profil responden, penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z mendominasi sampel penelitian dengan proporsi 63,2 persen, sementara Milenial mencapai 36,8 persen. TikTok menjadi platform utama yang digunakan responden untuk memperoleh informasi keuangan dengan persentase 44,4 persen, disusul Instagram sebesar 41,9 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa video pendek dan konten visual kini menjadi sarana paling efektif dalam menyampaikan informasi keuangan kepada generasi muda.

Produk keuangan yang paling banyak dibeli responden adalah investasi digital seperti reksa dana, saham, dan emas digital dengan persentase 50,4 persen. Posisi berikutnya ditempati dompet digital dan layanan pay later sebesar 35,9 persen, sedangkan produk asuransi digital mencapai 13,7 persen. Data ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga telah menjadi faktor penting dalam membentuk keputusan keuangan masyarakat muda.

Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi industri fintech. Para peneliti merekomendasikan agar perusahaan tidak hanya mengandalkan influencer dengan jumlah pengikut besar, tetapi juga menggabungkan strategi komunikasi dengan program insentif yang relevan dan efisien. Selain itu, konten promosi sebaiknya lebih transparan, edukatif, dan menjelaskan risiko produk secara terbuka agar dapat membangun kepercayaan konsumen yang semakin kritis.

Bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memperkuat pentingnya peningkatan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Semakin tinggi pemahaman masyarakat mengenai keuangan, semakin kecil kemungkinan mereka mengambil keputusan impulsif yang berisiko merugikan di masa depan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan membeli produk keuangan digital tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan influencer menarik perhatian publik. Literasi keuangan dan strategi promosi yang tepat menjadi faktor penting yang menentukan apakah pengaruh tersebut akan menghasilkan keputusan yang rasional atau sekadar mengikuti tren sesaat.

Profil Penulis

Andi Anggi Kemalasari merupakan akademisi dari Universitas Negeri Makassar yang berfokus pada bidang kewirausahaan, pemasaran digital, dan perilaku konsumen. Penelitian ini ditulis bersama Hasisa Haruna, Nur Rahmi, dan Utiana Usman, yang juga berasal dari Universitas Negeri Makassar. Tim peneliti memiliki perhatian pada perkembangan ekonomi digital, pemasaran berbasis media sosial, serta perilaku keuangan generasi muda di Indonesia.

Sumber Penelitian

Kemalasari, A. A., Haruna, H., Rahmi, N., & Usman, U. (2026). “Persuasive Communication in Influencer Marketing and Financial Product Purchase Decisions: Examining the Roles of Financial Literacy and Customer Acquisition Cost (CAC) Effectiveness among Generation Z and Millennials in Makassar City.” International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4, No. 7, 2026, halaman 701–720. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i7.278.

 


Posting Komentar

0 Komentar