Tepung Jagung Kuning 20 Persen Dinilai Paling Optimal untuk Nugget Ayam Broiler

Illustration by Ai


Penggunaan tepung jagung kuning sebanyak 20 persen menghasilkan karakteristik paling optimal pada nugget ayam broiler dalam penelitian W. Ma’ruf, J.A.D. Kalele, O. Wandik, dan F.S. Ratulangi dari Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian yang dilakukan pada 17 Mei hingga 18 Juni 2022 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi, menguji empat tingkat penambahan tepung jagung kuning dan menilai kualitas fisik, kimia, serta penerimaan sensorinya. Hasil penelitian yang diterbitkan pada 2026 ini menunjukkan bahwa formulasi 20 persen atau 100 gram tepung jagung kuning untuk setiap 500 gram daging ayam memberikan hasil terbaik secara keseluruhan.

Jagung kuning sebagai bahan pengisi nugget

Nugget merupakan produk olahan daging yang dibuat dari daging giling yang dicampur bumbu dan bahan pengikat, kemudian dibentuk, dikukus, dipotong, dilapisi adonan dan tepung roti sebelum digoreng. Dalam proses tersebut, bahan pengisi berperan penting untuk membantu mempertahankan air, menjaga kestabilan adonan, mengurangi penyusutan saat pemasakan, serta membentuk tekstur produk.

Tepung jagung menjadi salah satu bahan yang berpotensi digunakan sebagai pengisi karena memiliki kemampuan mengikat air dan mempertahankan air selama proses pemasakan. Selain itu, jagung juga mengandung sejumlah komponen gizi seperti protein, serat pangan, beta-karoten, dan zat besi.

Bagi industri pangan maupun pelaku usaha rumahan, penggunaan bahan pengisi berbasis jagung juga menarik karena dapat memberikan alternatif formulasi dalam pembuatan produk olahan ayam. Penelitian dari Universitas Sam Ratulangi ini secara khusus menggunakan tepung jagung kuning (Zea mays L.) untuk melihat bagaimana perbedaan jumlah penggunaannya memengaruhi mutu nugget ayam broiler.

Empat formulasi diuji

Ma’ruf dan tim menggunakan empat perlakuan. Masing-masing menggunakan 500 gram daging ayam, dengan jumlah tepung jagung kuning yang berbeda:

  • P1: 10 persen atau 50 gram tepung jagung kuning
  • P2: 20 persen atau 100 gram
  • P3: 30 persen atau 150 gram
  • P4: 40 persen atau 200 gram

Setiap perlakuan dilakukan sebanyak empat kali. Untuk penilaian organoleptik, penelitian melibatkan 30 panelis yang menilai aroma, warna, rasa, dan tekstur nugget. Parameter fisik dan kimia yang diamati meliputi pH, kemampuan mengikat air, serta susut masak.

Proses pembuatan nugget dimulai dengan menggiling daging ayam bersama bahan lain seperti es, garam, telur, bawang putih, lada, dan tepung jagung kuning. Adonan kemudian dikukus, didinginkan, dipotong, dicelupkan ke putih telur, dilapisi tepung roti, lalu siap digoreng.

Kemampuan mengikat air meningkat pada penambahan jagung

Salah satu temuan penting terlihat pada kemampuan nugget dalam mengikat air. Nilai rata-rata meningkat seiring bertambahnya proporsi tepung jagung kuning.

Formulasi 10 persen mencatat nilai rata-rata 13,53, sedangkan formulasi 20 persen mencapai 12,65 dalam tabel penelitian. Formulasi 30 persen tercatat 45,00 dan formulasi 40 persen mencapai 48,60. Peneliti menyatakan bahwa analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan pada kemampuan mengikat air dan bahwa penambahan tepung jagung yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kemampuan tersebut.

Kemampuan mengikat air penting dalam produk olahan daging karena berkaitan dengan kualitas selama proses penggilingan, pencampuran, pemasakan, dan pembentukan emulsi. Kandungan air juga berhubungan dengan karakteristik produk setelah dimasak.

Namun, tabel penelitian memuat angka P2 sebesar 12,65, sementara uraian hasil menyebut nilai P2 sebesar 32,65. Perbedaan pencatatan ini perlu diperhatikan ketika hasil penelitian digunakan untuk analisis lebih lanjut.

pH dan susut masak relatif tidak berubah

Nilai pH nugget berada pada kisaran 6,15 hingga 6,17 dalam uraian hasil penelitian. Perlakuan 20 persen menghasilkan pH 6,17, sedangkan perlakuan 10, 30, dan 40 persen berada pada 6,15. Analisis yang dilaporkan peneliti menunjukkan bahwa penambahan tepung jagung kuning tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pH nugget.

Hal serupa ditemukan pada susut masak. Nilai rata-ratanya berkisar antara 1,06 hingga 1,53. Formulasi 20 persen memiliki nilai susut masak terendah, yakni 1,06, sementara formulasi 10 persen mencapai 1,53. Peneliti melaporkan bahwa perbedaan jumlah tepung jagung tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan pada susut masak.

Susut masak menjadi salah satu indikator penting karena kehilangan bobot selama pemasakan berkaitan dengan hilangnya air dan sebagian komponen nutrisi dari produk.

Panelis tetap menerima aroma, warna, rasa, dan tekstur

Penelitian juga menguji bagaimana nugget diterima secara sensoris oleh panelis. Empat aspek yang dinilai adalah aroma, warna, tekstur, dan rasa.

Nilai rata-rata aroma berada pada kisaran 5,37–5,48. Warna memperoleh nilai 5,42–5,60, sedangkan tekstur berada pada 5,17–5,48. Untuk rasa, nilai rata-rata berkisar antara 5,42–5,82.

Pada aroma, peneliti melaporkan tidak terdapat perbedaan signifikan akibat penambahan tepung jagung. Aroma tertinggi tercatat pada perlakuan 10 persen dengan skor 5,48.

Warna juga menunjukkan nilai yang relatif berdekatan antarperlakuan. Skor tertinggi tercatat pada P1 atau penambahan 10 persen, yakni 5,60. Sementara itu, untuk rasa, skor tertinggi juga ditemukan pada P1 dengan nilai 5,82.

Untuk tekstur, skor tertinggi berada pada P1 sebesar 5,48, disusul P2 sebesar 5,34. Peneliti menyatakan bahwa penambahan tepung jagung kuning tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap tekstur nugget.

Formulasi 20 persen menjadi rekomendasi penelitian

Setelah mempertimbangkan hasil pengujian pH, kemampuan mengikat air, susut masak, serta karakteristik organoleptik, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan tepung jagung kuning sebanyak 20 persen atau 100 gram untuk 500 gram daging ayam memberikan hasil terbaik secara keseluruhan.

Temuan ini memberikan alternatif formulasi bagi pengembangan nugget ayam berbasis bahan lokal. Bagi pelaku usaha pangan, tepung jagung kuning berpotensi digunakan sebagai bahan pengisi dalam produk nugget tanpa menghasilkan perubahan besar pada sejumlah karakteristik sensoris yang diuji.

Bagi pengembangan pangan lokal, penelitian ini juga menunjukkan peluang pemanfaatan jagung sebagai bagian dari inovasi produk olahan daging. Namun, penelitian tidak menyajikan analisis ekonomi atau uji kandungan gizi akhir produk secara komprehensif, sehingga manfaat bisnis dan nilai gizi formulasi tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan.

Profil Penulis

W. Ma’ruf — Universitas Sam Ratulangi Manado, penulis pertama sekaligus corresponding author penelitian.

J.A.D. Kalele — Universitas Sam Ratulangi Manado, penulis kedua.

O. Wandik — Universitas Sam Ratulangi Manado, penulis ketiga.

F.S. Ratulangi — Universitas Sam Ratulangi Manado, penulis keempat.

Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap sesuai dengan sumber penelitian.

Sumber Penelitian

Judul: Use of Yellow Cornstarch (Zea Mays L.) Against the Quality of Broiler Nuggets

Penulis: W. Ma’ruf, J.A.D. Kalele, O. Wandik, F.S. Ratulangi

Afiliasi: Universitas Sam Ratulangi Manado

Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

Volume: 4, Nomor 7

Tahun: 2026

Halaman: 507–516

DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i7.220

 


Posting Komentar

0 Komentar