BANDUNG, Formosa News —
Kemandirian ekonomi pondok pesantren kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai
aktivitas bisnis sampingan, melainkan wujud nyata dari internalisasi
nilai-nilai keagamaan. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Mulyana
Hidayat dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bhakti Persada Majalaya Bandung
mengungkapkan bahwa Teologi Pendidikan Islam berperan sebagai pondasi filosofis
utama yang mendorong pemberdayaan ekonomi pesantren secara berkelanjutan.
Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International
Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) ini meneliti
secara mendalam penerapan program One Pesantren One Product (OPOP) di
Pondok Pesantren Pagelaran 3, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Hasil riset ini
penting karena memberikan sudut pandang baru bahwa keberhasilan unit usaha
pesantren sangat ditentukan oleh landasan teologis yang melandasi etos kerja
dan tata kelola lembaganya, bukan semata-mata oleh faktor manajerial atau
bantuan finansial.
Mendorong Kemandirian di Tengah Tantangan Global
Di era ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital, lembaga
pendidikan dituntut tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademis,
tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Indonesia
memiliki jaringan pondok pesantren terbesar di dunia yang menampung jutaan
santri. Namun, banyak pesantren masih menghadapi kendala kualitatif dan
struktural, seperti keterbatasan kapasitas kewirausahaan, minimnya akses pasar,
dan ketergantungan pada bantuan luar.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat
meluncurkan program OPOP sebagai langkah strategis. Program ini dirancang untuk
inkubasi bisnis, pelatihan manajemen, serta perluasan jaringan pemasaran produk
pesantren. Mulyana Hidayat melakukan studi kasus kualitatif di Pesantren
Pagelaran 3 Subang—lembaga yang berdiri sejak 1962—guna memahami bagaimana
kebijakan publik tersebut berinteraksi dengan nilai-nilai teologis yang telah
lama hidup di lingkungan santri.
Metodologi Sederhana Berbasis Studi Kasus
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan
teknik pengumpulan data multidimensi. Peneliti menggali informasi melalui
wawancara mendalam bersama pimpinan pesantren, pengelola koperasi, koordinator
program kewirausahaan, serta para pengajar. Selain itu, peneliti melakukan
observasi partisipatif terhadap kegiatan harian santri dan menganalisis
berbagai dokumen resmi lembaga serta laporan pelaksanaan program OPOP. Seluruh
data yang terkumpul kemudian dianalisis secara interaktif untuk melihat
keterkaitan antara nilai keagamaan dan praktik bisnis.
Temuan Utama Penelitian
Berdasarkan analisis data terpadu, penelitian ini menghasilkan empat
temuan utama:
- Kerja
Produktif sebagai Bentuk Ibadah: Pesantren memandang aktivitas ekonomi dan kewirausahaan bukan
sekadar pencarian materi, melainkan manifestasi dari tanggung jawab
keagamaan sebagai hamba Allah ('abd) dan pengelola bumi (khalifah).
- Internalisasi
Nilai Keagamaan: Karakter
kewirausahaan santri dibentuk melalui nilai-nilai seperti kejujuran (amanah),
keikhlasan (ikhlas), kedisiplinan, dan kerja sama (ta'awun),
yang diintegrasikan langsung dalam pengelolaan usaha koperasi.
- OPOP
sebagai Katalisator Perubahan: Program OPOP terbukti efektif memperkuat kapasitas manajemen,
kualitas produk, dan daya saing pasar tanpa merusak identitas keagamaan
pesantren.
- Dampak
Sosial dan Kemandirian:
Peningkatan kapasitas ekonomi terbukti mengurangi ketergantungan pesantren
pada pihak luar, memperbaiki fasilitas pendidikan, serta membuka lapangan
kerja dan kemitraan bagi masyarakat sekitar.
Implikasi Bagi Masyarakat, Dunia Usaha, dan Kebijakan Publik
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa model pemberdayaan ekonomi
berbasis teologi memiliki dampak signifikan bagi pembangunan berkelanjutan.
Bagi masyarakat dan dunia usaha, keberadaan unit bisnis pesantren yang tangguh
menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang inklusif. Bagi pembuat kebijakan,
riset ini memberikan rekomendasi penting agar program pemberdayaan lembaga
keagamaan tidak disamakan dengan bantuan bisnis komersial murni, melainkan
dirancang selaras dengan nilai filosofis dan budaya lokal lembaga tersebut.
"Aktivitas kewirausahaan di pesantren berkembang secara efektif
karena dipahami sebagai instrumen untuk menjalankan tanggung jawab keagamaan
dan sosial, bukan semata-mata mengejar keuntungan komersial," jelas
Mulyana Hidayat dalam laporan penelitiannya.
Profil Penulis
- Nama
Lengkap: Mulyana Hidayat,
S.Pd.I., M.Pd.
- Afiliasi: STAI Bhakti Persada Majalaya Bandung,
Indonesia
- Bidang
Keahlian: Teologi
Pendidikan Islam, Kewirausahaan Pesantren, dan Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat
Sumber Penelitian
- Judul
Artikel Jurnal: Islamic
Educational Theology for Economic Empowerment through the One Pesantren
One Product Program
- Nama
Jurnal: International
Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
- Tahun
Publikasi: 2026
- Volume
& Nomor: Vol. 4, No.
7, hlm. 695–710
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.265
- URL Resmi: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/index

0 Komentar