Penelitian yang dimuat dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 5 No. 8 tahun 2026 ini melihat hubungan antara prosedur kerja, kondisi fisik tempat kerja, dan produktivitas karyawan. X Convection merupakan usaha manufaktur pakaian jadi skala menengah di Cimahi yang memproduksi seragam untuk karyawan pabrik. Usaha tersebut berdiri pada September 2017 dan pada awalnya beroperasi sebagai usaha rumahan.
Produktivitas X Convection Sempat Turun hingga 51,94 Persen
Latar belakang penelitian berangkat dari fluktuasi pencapaian produksi X Convection. Data perusahaan yang dianalisis untuk periode Januari-November 2025 menunjukkan produktivitas belum stabil.
Pada Januari, perusahaan mencapai produktivitas 86,28 persen. Angka tersebut turun menjadi 66,97 persen pada Februari, 55,86 persen pada Maret, dan mencapai titik terendah 51,94 persen pada April. Setelah itu produktivitas meningkat menjadi 80,75 persen pada Mei dan 87,71 persen pada Juni.
Produktivitas mencapai 100 persen pada Juli dan Agustus, ketika jumlah produksi aktual sama dengan target. Namun, angka tersebut kembali turun menjadi 76,79 persen pada September, 80,56 persen pada Oktober, dan 74,17 persen pada November. Kondisi tersebut menunjukkan pencapaian produksi belum konsisten sepanjang tahun.
Peneliti kemudian menyoroti dua faktor yang diduga berkaitan dengan kondisi tersebut, yakni prosedur kerja dan lingkungan fisik tempat kerja.
Di X Convection, prosedur kerja mencakup berbagai tahapan mulai dari penerimaan pesanan, proses tambahan seperti sablon dan bordir, hingga pemeriksaan kualitas atau quality control (QC). Namun, wawancara dengan pemilik menemukan sejumlah kesalahan ketika prosedur tidak dijalankan sesuai ketentuan.
Kesalahan spesifikasi ukuran dapat terjadi 1–3 kali dalam satu proses produksi. Kesalahan penempatan sablon atau bordir, seperti posisi terlalu tinggi, terlalu rendah, atau miring, dapat terjadi 5–7 kali. Sementara itu, kesalahan atau kelalaian dalam pemeriksaan jahitan dan detail produk ditemukan 3–4 kali dalam satu proses produksi.
Kondisi tempat kerja juga menjadi perhatian. Observasi menemukan tata letak mesin dan stasiun kerja belum optimal, fasilitas pendukung terbatas, serta sejumlah peralatan mulai mengalami keausan. Ruang pembuatan pola dan pemotongan masih memiliki tumpukan kain serta sisa material. Ruang jahit relatif sempit dengan mesin yang berdekatan, kabel listrik yang menggantung, dan material yang menumpuk. Area finishing dan QC juga belum memiliki pemisah yang jelas antara pakaian yang sudah diperiksa dan yang belum diperiksa.
Melibatkan 37 Responden
Cahyani dan Lestari menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis pengaruh kedua faktor tersebut. Seluruh populasi yang terdiri dari 37 orang dijadikan responden, yakni 36 karyawan bagian produksi dan satu pemilik sekaligus pemimpin perusahaan.
Karyawan mengisi kuesioner mengenai prosedur kerja dan lingkungan fisik. Data produktivitas diperoleh dari pemilik perusahaan. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS 27. Peneliti juga melakukan pengujian validitas, reliabilitas, normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas untuk memastikan model analisis layak digunakan.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa:
- Prosedur kerja memperoleh skor rata-rata 4,05 dan masuk kategori sesuai. Efisiensi serta orientasi terhadap pihak yang dilayani mendapat skor tertinggi, masing-masing 4,11. Aspek keterukuran menjadi yang terendah dengan skor 3,94.
- Lingkungan fisik kerja memperoleh skor rata-rata sekitar 4,06–4,07 dan masuk kategori baik. Kebersihan menjadi aspek dengan nilai tertinggi, sedangkan suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara menjadi aspek terendah.
- Produktivitas karyawan berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 4,06. Ketepatan waktu menjadi aspek dengan nilai tertinggi, sedangkan kualitas pekerjaan menjadi aspek yang masih perlu ditingkatkan.
Lingkungan Fisik Memberikan Pengaruh Lebih Besar
Analisis regresi menunjukkan kedua variabel memiliki hubungan positif dengan produktivitas. Koefisien prosedur kerja tercatat 0,217 dengan nilai signifikansi kurang dari 0,001. Sementara itu, koefisien lingkungan fisik kerja mencapai 0,321 dengan nilai signifikansi kurang dari 0,001.
Pengujian parsial juga menunjukkan prosedur kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas dengan nilai t 4,665. Lingkungan fisik kerja memiliki nilai t lebih tinggi, yakni 5,246. Keduanya melampaui nilai kritis 1,694 dan memiliki tingkat signifikansi 0,001.
Dengan demikian, lingkungan fisik kerja memiliki pengaruh relatif lebih kuat dibandingkan prosedur kerja dalam model penelitian tersebut. Peneliti mengaitkan temuan ini dengan kondisi lingkungan kerja yang dinilai baik secara umum, tetapi masih memiliki persoalan pada kenyamanan udara.
Ketika kedua faktor diuji secara bersamaan, nilai F mencapai 26,974, lebih tinggi daripada nilai pembanding 3,28. Artinya, prosedur kerja dan lingkungan fisik secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan.
Yang paling menonjol adalah nilai R² sebesar 0,620. Artinya, 62 persen variasi produktivitas karyawan dalam penelitian ini dapat dijelaskan oleh prosedur kerja dan lingkungan fisik, sedangkan 38 persen lainnya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dianalisis dalam penelitian.
Menurut Cahyani dan Lestari, temuan tersebut menunjukkan produktivitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan karyawan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dengan bagaimana pekerjaan diatur dan kondisi tempat pekerjaan berlangsung. Prosedur yang terstruktur membantu karyawan bekerja lebih terarah, sementara lingkungan fisik yang mendukung dapat meningkatkan kenyamanan dalam menjalankan pekerjaan.
Rekomendasi untuk Usaha Konveksi
Berdasarkan hasil tersebut, peneliti merekomendasikan X Convection memperjelas panduan setiap tahapan pekerjaan, menjelaskan urutan proses sebelum pekerjaan dimulai, serta melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan prosedur dijalankan secara konsisten.
Untuk lingkungan kerja, perbaikan terutama diarahkan pada ventilasi dan sirkulasi udara. Peneliti menyarankan optimalisasi ventilasi, menjaga area kerja tetap rapi agar aliran udara tidak terhambat, serta memasang kipas pembuangan (exhaust fan) di area produksi.
Kualitas hasil kerja juga perlu menjadi perhatian karena menjadi aspek produktivitas dengan nilai terendah. Pemeriksaan pada setiap tahap produksi, penyediaan contoh hasil kerja sesuai standar, serta koreksi langsung ketika ditemukan kesalahan dapat membantu menekan kesalahan produksi dan menjaga kualitas.
Temuan ini memberikan pelajaran praktis bagi usaha konveksi dan usaha manufaktur skala kecil-menengah lainnya. Perbaikan produktivitas tidak selalu harus dimulai dari penambahan jumlah pekerja atau target produksi. Penataan proses kerja yang lebih terukur dan perbaikan kondisi ruang kerja juga dapat menjadi bagian penting dari strategi peningkatan produktivitas.
Profil Penulis
Windy Eka Puspita Cahyani — peneliti dan penulis utama, Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Bidang penelitian dalam artikel ini berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia, prosedur kerja, lingkungan kerja fisik, dan produktivitas karyawan.
Dian Lestari — penulis kedua, Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis di bagian profil, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber pendukung.
0 Komentar