Penelitian tersebut diterbitkan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) Volume 5 Nomor 8 Tahun 2026. Para peneliti menyoroti kondisi kerja petugas pemasyarakatan yang semakin kompleks, terutama setelah perubahan kelembagaan dan tuntutan penerapan sistem pemasyarakatan yang lebih modern.
Di lingkungan pemasyarakatan, petugas tidak hanya bertanggung jawab terhadap keamanan. Mereka juga dapat menjalankan peran yang berkaitan dengan pendampingan sosial, pendidikan, pelayanan, hingga pembinaan warga binaan. Kondisi tersebut menjadi semakin menantang ketika jumlah personel terbatas dan fasilitas belum sepenuhnya memadai.
Beban kerja menjadi salah satu persoalan utama
Data yang dicantumkan dalam penelitian menunjukkan terdapat 360 pegawai pada unit pemasyarakatan di Kota Padang yang menjadi konteks penelitian. Mereka tersebar di Padang Prison sebanyak 133 orang, LPP Padang 60 orang, Padang Detention Center 89 orang, dan Padang Bapas 78 orang.
Peneliti juga mencatat adanya persoalan seperti beban kerja berat, keterbatasan jumlah sumber daya manusia, fasilitas yang terbatas, serta kebutuhan peningkatan kompetensi. Dalam kondisi tertentu, petugas harus menjalankan beberapa peran sekaligus sehingga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan menurunkan fokus kerja.
Tabel kinerja dalam artikel juga menunjukkan sejumlah program pembinaan warga binaan belum mencapai target penuh. Misalnya, capaian program pembinaan tercatat 98,50 persen dari target 100 persen, program pendidikan formal 43,20 persen dari target 45 persen, dan program psikososial 38,20 persen dari target 40 persen.
Menurut penelitian, kondisi tersebut membuat pengelolaan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas kerja petugas.
OCB meningkatkan kinerja petugas
Salah satu faktor yang diteliti adalah Organizational Citizenship Behavior (OCB), yakni perilaku sukarela pegawai yang berada di luar kewajiban formal tetapi membantu kelancaran organisasi.
Contohnya adalah membantu rekan kerja, menjaga suasana kerja tetap positif, serta menunjukkan kepedulian terhadap organisasi tanpa harus selalu diminta atau mendapatkan imbalan langsung.
Hasil analisis menunjukkan OCB memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja petugas. Dalam tabel pengujian statistik, OCB memiliki nilai t sebesar 4,068 dengan signifikansi 0,000. Artinya, semakin kuat perilaku sukarela yang mendukung organisasi, semakin baik pula kinerja petugas dalam sampel penelitian.
Elika Sifra Lidya dan Muhammad Oceano Fauzan mengaitkan temuan tersebut dengan teori dukungan organisasi. Ketika pegawai merasa organisasi menghargai kontribusi dan memperhatikan kesejahteraan mereka, lingkungan tersebut dapat mendorong munculnya perilaku membantu dan kontribusi sukarela yang pada akhirnya mendukung kinerja.
Terlalu banyak multitugas justru menurunkan kinerja
Temuan berbeda muncul pada faktor multitasking. Penelitian menunjukkan multitasking memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja petugas.
Nilai t untuk multitasking mencapai -6,688 dengan signifikansi 0,000. Dengan kata lain, semakin tinggi tuntutan untuk mengerjakan berbagai pekerjaan secara bersamaan atau berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain, semakin rendah tingkat fokus dan efektivitas kerja petugas.
Peneliti menjelaskan bahwa multitasking tidak selalu buruk. Dalam pekerjaan pelayanan publik, kemampuan menangani beberapa kebutuhan dapat menjadi bagian dari pekerjaan. Namun, ketika beban tersebut terlalu tinggi, perpindahan perhatian yang terus-menerus dapat meningkatkan kelelahan mental, mengurangi konsentrasi, serta meningkatkan risiko kesalahan.
Temuan ini sejalan dengan pembahasan penelitian yang menyebut beban multitugas berlebihan dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan tekanan kerja petugas pemasyarakatan.
Rasa aman untuk berbicara juga berperan penting
Faktor ketiga adalah psychological safety atau keamanan psikologis. Konsep ini menggambarkan kondisi ketika pegawai merasa aman untuk menyampaikan ide, bertanya, mengemukakan pendapat, maupun mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan, dihakimi, atau dihukum.
Hasil penelitian menunjukkan psychological safety memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja petugas, dengan nilai t sebesar 12,552 dan signifikansi 0,000.
Menurut Lidya dan Fauzan, lingkungan kerja yang terbuka, komunikasi yang transparan, kepemimpinan yang inklusif, serta kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan petugas dapat membantu menciptakan rasa aman tersebut.
Ketiga faktor berpengaruh secara bersama-sama
Ketika OCB, multitasking, dan psychological safety dianalisis secara bersamaan, ketiganya terbukti memiliki pengaruh terhadap kinerja petugas. Uji simultan menghasilkan nilai F sebesar 59,567 dengan signifikansi 0,000.
Temuan ini memberikan pesan praktis bagi pengelola unit pemasyarakatan. Peningkatan kinerja tidak cukup dilakukan hanya dengan meminta petugas bekerja lebih keras. Organisasi juga perlu membangun budaya saling membantu, mengendalikan beban multitugas, serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan petugas menyampaikan persoalan dan kesalahan secara aman.
Penelitian menyimpulkan bahwa perbaikan kinerja yang berkelanjutan membutuhkan penguatan perilaku sukarela yang positif, penciptaan lingkungan kerja yang aman secara psikologis, dan pengelolaan beban kerja secara efektif.
Profil Penulis
Elika Sifra Lidya merupakan penulis pertama penelitian ini dari Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Padang.
Muhammad Oceano Fauzan merupakan penulis kedua sekaligus corresponding author, dari Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Padang. Artikel mencantumkan alamat korespondensi muhammadoceano@unp.ac.id. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik kedua penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber, sehingga tidak dapat ditambahkan tanpa informasi pendukung lain.
0 Komentar