Penelitian ilmiah terbaru yang dilakukan oleh akademisi Universitas
Negeri Medan, Nadya Utami bersama Nazla Al Qayla, Livia Gustrianti Halawa, Icha
Aulia Br. Hasibuan, dan Syamsul Bahri, mengupas tuntas bentuk-bentuk perlawanan
feminisme dalam karya sastra dunia. Studi yang dipublikasikan pada Juli 2026
ini menganalisis naskah drama klasik The Homecoming karya dramawan
kenamaan Harold Pinter. Penelitian ini penting dilakukan untuk membedah
bagaimana perempuan dapat meruntuhkan dominasi patriarki dan menegaskan otonomi
dirinya di dalam lingkungan domestik yang dominan dikuasai laki-laki melalui
dialog serta interaksi simbolis.
Isu ketimpangan gender dan kontrol sosial terhadap perempuan hingga kini
masih menjadi sorotan dalam masyarakat modern maupun karya sastra. Dalam naskah
drama The Homecoming, karakter utama perempuan bernama Ruth ditempatkan
di sebuah rumah tangga yang sangat patriarkal, di mana para anggota keluarga
laki-laki berusaha mendikte, mengontrol, dan mengeksploitasi posisinya.
Memahami bagaimana perlawanan perempuan terbentuk dalam narasi sastra
memberikan gambaran mendalam tentang negoisasi kekuasaan, perebutan identitas,
serta pembongkaran stereotip gender yang kerap membelenggu perempuan dalam
kehidupan sehari-hari.
Untuk mengedepankan analisis yang komprehensif, tim peneliti
mengalokasikan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis kritik sastra feminis.
Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka dengan teknik membaca kritis
terhadap dialog, tindakan, dan interaksi antar tokoh dalam naskah drama.
Peneliti mengklasifikasikan data ke dalam enam teori feminisme modern, yaitu
feminisme radikal, liberal, kebudayaan, sosialis, interseksional, dan anarkis.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat perlawanan tokoh perempuan dari
berbagai sudut pandang teori secara mendalam tanpa terbatas pada satu
perspektif saja.
Penelitian ini menganalisis 50 unit data dialog dan interaksi yang
mencerminkan nilai-nilai feminisme. Tim peneliti menemukan bahwa perlawanan
perempuan dalam karya tersebut tidak selalu diekspresikan lewat pemberontakan
fisik yang agresif, melainkan melalui penolakan bahasa, ketenangan, serta
negosiasi posisi yang cerdas.
- Feminisme
Radikal (30%): Merupakan
bentuk perlawanan yang paling dominan dengan 15 data. Tokoh Ruth secara
tegas menolak sistem kontrol patriarki dan menolak didefinisikan atau
diatur oleh otoritas laki-laki di dalam rumah.
- Feminisme
Liberal (24%): Ditemukan
sebanyak 12 data, yang memperlihatkan tuntutan Ruth atas kesetaraan, hak
atas definisi diri sendiri, serta penolakan untuk dijadikan objek
pandangan (male gaze) laki-laki.
- Feminisme
Kebudayaan (16%):
Mencakup 8 data, menyoroti bagaimana Ruth mempertahankan identitas, nilai
pribadi, dan keunikannya sebagai perempuan di tengah tuntutan peran gender
tradisional.
- Feminisme
Sosialis (12%): Terdiri
dari 6 data, menggambarkan kritikan terhadap ketergantungan struktural dan
hierarki domestik yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.
- Feminisme
Interseksional (10%):
Sebanyak 5 data menunjukkan penolakan terhadap stereotip, pelabelan moral,
dan prasangka yang dilekatkan oleh para tokoh laki-laki.
- Feminisme
Anarkis (8%): Diwakili
oleh 4 data, merefleksikan penolakan total terhadap aturan, hierarki, dan
otoritas domestik yang membatasi kebebasan mengambil keputusan.
Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan
studi sastra, pendidikan gender, dan analisis media. Riset ini membuktikan
bahwa karya sastra dan seni pertunjukan bukan sekadar sarana hiburan, melainkan
media kritis untuk membongkar ketidakadilan sosial. Bagi masyarakat umum dan
penikmat sastra, temuan ini memperluas wawasan mengenai bagaimana bahasa dan
interaksi sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai alat perjuangan untuk
menegaskan hak, kesetaraan, serta independensi perempuan.
"Studi ini menunjukkan bahwa perlawanan feminis dalam drama tidak
selalu hadir dalam bentuk konfrontasi terbuka, melainkan lewat negosiasi
kekuasaan yang halus dalam dialog, di mana perempuan merebut kembali otoritas
atas dirinya dari sistem patriarki yang mengekang," ungkap Nadya Utami dan
tim peneliti dari Universitas Negeri Medan dalam hasil analisis mereka.
Profil Penulis
Penelitian ini disusun oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Medan
yang terdiri dari:
- Nadya
Utami, S.Pd. – Peneliti
utama dan akademisi di bidang pendidikan bahasa dan sastra Inggris,
Universitas Negeri Medan.
- Nazla Al
Qayla – Peneliti dan
akademisi studi sastra Inggris, Universitas Negeri Medan.
- Livia
Gustrianti Halawa –
Peneliti dan akademisi studi sastra Inggris, Universitas Negeri Medan.
- Icha Aulia
Br. Hasibuan – Peneliti
dan akademisi studi sastra Inggris, Universitas Negeri Medan.
- Syamsul
Bahri, S.SS., M.Hum. –
Dosen pembimbing dan pengajar di bidang ilmu sastra dan feminisme,
Universitas Negeri Medan.
Sumber Penelitian Resmi
- Judul
Artikel: Feminism in
Harold Pinter's Drama The Homecoming
- Jurnal: International Journal of Advanced
Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4, No. 7, Tahun 2026,
Halaman 857–876
- Penerbit: TITECH Publisher
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.244
- https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar