Tantangan Visibilitas UMKM di Era Digital
Media sosial kini menjadi salah satu saluran penting bagi UMKM untuk menjangkau konsumen. Perubahan perilaku masyarakat yang semakin banyak melakukan aktivitas secara digital membuat platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook memiliki peran strategis dalam memperkenalkan produk serta membangun hubungan dengan pelanggan. Namun, tidak semua pelaku UMKM memiliki kemampuan atau sistem pengelolaan pemasaran digital yang memadai.
Kondisi tersebut juga dialami Bakmie Asta, usaha mi handmade yang beroperasi di area Food Court Pasar Santa, Jakarta Selatan. Lokasinya yang berada di bagian dalam pasar membuat usaha tersebut kurang terlihat oleh masyarakat dari luar. Sebelum proyek pengelolaan media sosial dilakukan, aktivitas digital Bakmie Asta masih terbatas pada Instagram yang jarang diperbarui. Bisnis tersebut juga belum memiliki saluran interaktif yang aktif di TikTok dan Facebook.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Arsyad dan Permana menerapkan sistem pengelolaan media sosial yang lebih terstruktur. Kerangka SDLC model Waterfall digunakan untuk mengatur pekerjaan mulai dari perencanaan, analisis, desain, implementasi hingga evaluasi. Kinerja tim kemudian diukur menggunakan KPI agar pencapaian konten dan interaksi digital dapat dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan.
Pengelolaan Media Sosial Dilakukan Selama Delapan Bulan
Proyek berlangsung selama delapan bulan, yakni Mei hingga Desember 2025. Tim mengumpulkan informasi melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pemilik usaha, data analitik Instagram, TikTok, dan Facebook, serta laporan transaksi historis. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun strategi segmentasi, analisis kekuatan dan kelemahan bisnis, serta evaluasi kinerja media sosial.
Tahapan kerja dimulai dari pembentukan tim, pembagian tugas, observasi lapangan, wawancara dengan pemilik Bakmie Asta, analisis kompetitor, serta penyusunan strategi STP dan SWOT. Tahap berikutnya mencakup pembuatan kalender editorial, penulisan materi konten, serta desain visual menggunakan Canva dan CapCut.
Pada tahap implementasi, tim menjadwalkan publikasi video pendek dan gambar statis di tiga platform media sosial. Strategi juga dilengkapi dengan iklan berbayar, kolaborasi dengan food vlogger, serta pemantauan metrik digital secara berkala. Evaluasi dilakukan melalui laporan mingguan dan bulanan berdasarkan KPI.
Kinerja Tim Meningkat Setelah Sistem Kerja Diperbaiki
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kinerja tim setelah sistem kerja mulai berjalan. Pada kuartal pertama, tim berhasil memenuhi 85 persen target publikasi konten, dengan 61 konten terealisasi dari target 72 konten. Target engagement juga mencapai skor 75 persen. Namun, sejumlah indikator seperti penyusunan timeline, koordinasi tim, pelaporan, dan penyelesaian kendala berhasil mencapai 100 persen.
Performa meningkat pada kuartal kedua. Jumlah konten yang dipublikasikan mencapai 91 konten dari target 72, atau 126 persen. Pengendalian kualitas konten juga mencapai 126 persen, sedangkan pencapaian engagement berada pada 83 persen. Indikator perencanaan, koordinasi, pelaporan, dan penyelesaian kendala kembali mencapai 100 persen.
Pada kuartal ketiga, publikasi konten mencapai 75 dari target 72 konten. Artikel mencatat skor 156 persen pada indikator pencapaian jadwal unggahan dan kontrol kualitas, sementara pencapaian engagement berada pada 67 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sistem kerja yang terdokumentasi membantu tim mempertahankan produktivitas produksi konten, meskipun tingkat engagement tidak selalu meningkat sejalan dengan jumlah konten.
Iklan Berbayar Cepat Meningkatkan Jangkauan, Konten Organik Lebih Stabil
Tantangan Berikutnya: Mengubah Views Menjadi Followers dan Penjualan
Meskipun jangkauan konten meningkat, Arsyad dan Permana menemukan persoalan lain: tingginya jumlah views belum otomatis menghasilkan pertumbuhan followers yang besar. Instagram hanya memperoleh tambahan followers dalam jumlah satu digit pada beberapa periode akhir, sedangkan TikTok rata-rata mendapatkan sekitar lima followers baru. Kondisi tersebut berbeda dengan tingkat views yang tetap tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa audiens media sosial dapat menikmati sebuah konten tanpa kemudian mengikuti akun atau melakukan pembelian. Karena itu, strategi pemasaran perlu bergerak dari sekadar menarik perhatian menuju mendorong tindakan konsumen.
Tim merekomendasikan penggunaan Call to Action (CTA) yang lebih persuasif, pembuatan rangkaian konten yang saling terhubung, serta insentif langsung. Salah satu contoh yang disebutkan adalah memberikan diskon atau bonus makanan kepada pelanggan yang menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti akun resmi Bakmie Asta. Strategi tersebut diharapkan dapat mengubah interaksi digital menjadi komunitas pelanggan dan pada akhirnya mendukung penjualan.
Pelajaran bagi UMKM
Bagi UMKM kuliner, hasil proyek ini menunjukkan bahwa pemasaran digital tidak cukup hanya dengan membuat dan mengunggah konten. Pengelolaan yang sistematis, target yang terukur, evaluasi rutin, serta kemampuan menyesuaikan konten dengan perilaku audiens menjadi bagian penting dari strategi.
Arsyad dan Permana menyimpulkan bahwa iklan berbayar efektif digunakan untuk penetrasi pasar dan menghasilkan peningkatan jangkauan dalam waktu singkat. Sementara itu, konten organik yang konsisten, relevan dengan tren, memiliki kualitas visual, dan menampilkan cerita produk lebih berpotensi menjaga pertumbuhan brand awareness dalam jangka panjang.
Temuan tersebut juga memberi pelajaran bahwa UMKM perlu menggunakan kedua pendekatan secara dinamis. Iklan dapat digunakan untuk memperkenalkan merek kepada audiens baru, sementara konten organik digunakan untuk mempertahankan perhatian dan membangun hubungan dengan konsumen.
Profil Penulis
Muhammad Arsyad merupakan penulis utama artikel dan berafiliasi dengan Universitas Mercu Buana. Ia bertindak sebagai corresponding author dalam artikel tersebut. Dudi Permana juga merupakan penulis artikel dan berafiliasi dengan Universitas Mercu Buana. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis dalam metadata yang tersedia, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber pendukung.
0 Komentar