Teknologi ini menjawab persoalan sederhana yang sering terjadi di rumah maupun gedung: lampu tetap menyala ketika ruangan sudah ditinggalkan. Selain membuang energi listrik, kondisi tersebut membuat pengguna harus kembali ke lokasi hanya untuk mematikan lampu.
IoT menawarkan cara yang lebih praktis. Perangkat seperti ESP32 dapat terhubung ke internet sehingga perintah untuk menghidupkan atau mematikan lampu dapat dikirim dari smartphone. Dalam sistem yang dikembangkan tim Politeknik Aceh, perintah tersebut disampaikan melalui Telegram Bot, sementara relay menjalankan fungsi yang menyerupai sakelar.
Dari Dua Titik Menjadi Tiga Titik Kendali
Pengembangan utama sistem ini terletak pada jumlah titik pengoperasian. Sistem kendali lampu sebelumnya umumnya memungkinkan pengoperasian dari dua titik di dalam bangunan atau menggabungkan kendali lokal dengan kendali jarak jauh dalam konfigurasi yang lebih terbatas.
Zakwansyah dan rekan-rekannya mengembangkan konfigurasi tiga titik. Dua titik tetap menggunakan sakelar untuk pengoperasian manual di dalam bangunan, sedangkan titik ketiga menggunakan relay yang dikendalikan melalui ESP32 dan internet. Konfigurasi tersebut dirancang untuk kebutuhan seperti koridor dan tangga, yang sering membutuhkan sakelar di dua ujung area.
Dengan konfigurasi tersebut, seseorang dapat menyalakan lampu ketika memasuki koridor atau menaiki tangga, kemudian mematikannya dari titik lain setelah selesai menggunakan area tersebut. Jika pengguna sudah berada di luar gedung dan lupa mematikan lampu, perangkat tetap dapat dikendalikan melalui smartphone.
ESP32 Menjadi Penghubung antara Lampu dan Smartphone
Komponen utama sistem adalah ESP32, mikrokontroler yang memiliki konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth. Perangkat ini berfungsi sebagai penghubung antara sistem kelistrikan lampu dengan perintah yang dikirim melalui internet.
Dalam prototipe, salah satu sakelar pada rangkaian digantikan dengan relay. Relay tersebut dikendalikan oleh ESP32 sehingga perintah yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat dilakukan dari jarak jauh.
Para peneliti terlebih dahulu membuat instalasi dasar dengan tiga titik operasi. Rangkaian menggunakan satu cross switch dan dua toggle switch. Setelah itu, salah satu toggle switch diganti dengan relay yang memiliki kontak dengan fungsi serupa. Sistem kemudian diprogram agar dapat menerima perintah dari smartphone.
Telegram Bot Bisa Menampilkan Status Lampu
Salah satu fitur penting sistem bukan hanya menghidupkan dan mematikan lampu, tetapi juga mengetahui kondisinya dari jarak jauh.
Melalui Telegram Bot, pengguna dapat mengirim perintah “status” untuk mengetahui apakah lampu sedang menyala atau mati. Pengguna juga dapat menggunakan perintah “press” untuk mengaktifkan relay sehingga kondisi lampu berubah mengikuti fungsi sakelar.
Fitur tersebut memberikan fungsi pemantauan yang berguna ketika pengguna tidak berada di dalam gedung. Misalnya, setelah meninggalkan kantor atau rumah, pengguna dapat memeriksa kondisi lampu melalui smartphone dan mematikannya jika masih menyala.
Pengujian Menunjukkan Sistem Berfungsi Sesuai Rancangan
Hasil perancangan dan pengujian menunjukkan bahwa sistem berhasil menyediakan tiga titik kendali. Dua titik digunakan untuk pengoperasian manual menggunakan kombinasi toggle switch dan cross switch, sedangkan titik ketiga menggunakan relay yang dikendalikan ESP32 dan Telegram Bot.
Sistem memungkinkan lampu dikendalikan secara manual maupun dari jarak jauh menggunakan smartphone. Status lampu juga dapat dipantau secara real-time melalui Telegram Bot.
Menurut Zakwansyah, Fakhruddin, Mizanul Ahkam, dan Abu Bakar dari Politeknik Aceh, kombinasi tersebut membuat sistem pencahayaan lebih fleksibel karena pengoperasian lokal tetap dipertahankan tanpa menghilangkan kemampuan kendali jarak jauh.
Keunggulan lain yang dicatat para peneliti adalah potensi penghematan energi. Ketika pengguna mengetahui bahwa lampu masih menyala setelah meninggalkan bangunan, lampu dapat segera dimatikan melalui smartphone tanpa harus kembali ke lokasi.
Berpotensi Dikembangkan Menjadi Sistem Lampu Otomatis
Para peneliti menyarankan beberapa pengembangan lanjutan. Salah satunya adalah menambahkan fitur penjadwalan sehingga lampu dapat menyala dan mati secara otomatis pada waktu tertentu.
Sistem juga dapat dilengkapi sensor PIR untuk mendeteksi keberadaan manusia atau sensor LDR untuk mendeteksi intensitas cahaya. Dengan tambahan tersebut, lampu berpotensi menyala ketika terdapat orang dan mati ketika area tidak digunakan atau kondisi pencahayaan sudah mencukupi.
Pengembangan lain yang disarankan adalah aplikasi smartphone khusus. Saat ini Telegram Bot digunakan sebagai antarmuka kendali. Aplikasi khusus dapat dirancang agar fungsi pemantauan dan pengoperasian lebih mudah digunakan oleh pengguna umum.
Profil Penulis
Zakwansyah merupakan penulis korespondensi dari Program Studi Teknologi Elektronika Industri, Politeknik Aceh. Ia menulis artikel bersama Fakhruddin, dari Program Studi Teknologi Elektronika Industri, serta Mizanul Ahkam dan Abu Bakar dari Program Studi Teknologi Informasi, Politeknik Aceh.
Dokumen yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun rincian bidang keahlian masing-masing penulis. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap sesuai dengan sumber penelitian.
Sumber Penelitian
Artikel berjudul “Monitoring Long-Distance Light Control Combination of Switch and Cross Based on IoT” diterbitkan dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Volume 4, Nomor 8, tahun 2026, halaman 859–864. DOI artikel adalah 10.59890/ijsas.v4i8.42.
Sumber: Zakwansyah, Fakhruddin, Mizanul Ahkam, dan Abu Bakar. Monitoring Long-Distance Light Control Combination of Switch and Cross Based on IoT. International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4 No. 8, 2026, hlm. 859–864.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i8.42
URL: https://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar