Riset Universitas Papua: Tol Laut Tingkatkan Produksi dan Pendapatan Petani Labu Siam di Fakfak

Illustration by Ai

Pemanfaatan program Tol Laut berkaitan dengan produksi dan pendapatan yang lebih tinggi bagi petani labu siam di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Temuan ini berasal dari penelitian Waode Maya E, Agus I. Sumule, dan Agatha W. Widati dari Universitas Papua yang diterbitkan pada 2026. Penelitian tersebut membandingkan kondisi rumah tangga petani yang menggunakan Tol Laut untuk distribusi hasil panen dengan petani yang tidak menggunakannya. Hasilnya menunjukkan bahwa akses distribusi antardaerah dapat membuka pasar yang lebih luas dan berkaitan dengan peningkatan volume produksi serta penerimaan petani.

Tol Laut membuka akses pasar di luar Fakfak

Labu siam atau Sechium edule merupakan salah satu komoditas hortikultura yang berkembang di Kabupaten Fakfak. Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan, sesuai dengan kondisi agroklimat setempat, serta dapat dipanen berulang kali dalam satu musim tanam. Karena itu, labu siam berpotensi menjadi sumber pendapatan penting bagi rumah tangga petani.

Fakfak bahkan menjadi daerah dengan produksi labu siam terbesar di Papua Barat. Data yang dikutip dalam artikel menunjukkan produksi labu siam Fakfak mencapai 1.125 kuintal pada 2025, atau sekitar 39,19 persen dari total produksi labu siam di Papua Barat. Komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan di Fakfak, tetapi juga dikirim ke wilayah lain seperti Sorong dan Timika.

Persoalannya, distribusi hasil pertanian dari wilayah timur Indonesia menghadapi tantangan biaya transportasi dan keterbatasan akses pasar. Petani yang hanya mengandalkan pasar lokal juga menghadapi risiko penyerapan produk yang terbatas dan perubahan harga.

Dalam konteks inilah Tol Laut menjadi penting. Program tersebut dirancang untuk memperkuat konektivitas antarpulau dan menekan biaya logistik, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Namun, manfaat program tidak otomatis dirasakan seluruh petani karena sebagian masih memiliki keterbatasan informasi, akses, dan jaringan pemasaran.

Penelitian melibatkan 30 rumah tangga petani

Penelitian dilakukan selama satu bulan di Distrik Kayuni dan Kramamongga, dua wilayah di Fakfak yang memiliki banyak petani labu siam. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Data sekunder berasal dari sejumlah instansi terkait, termasuk Badan Pusat Statistik, Dinas Perdagangan, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Fakfak.

Sebanyak 30 rumah tangga petani menjadi responden. Peneliti kemudian membandingkan produksi dan penerimaan petani yang menggunakan Tol Laut dengan petani yang tidak memanfaatkannya. Penerimaan dihitung berdasarkan jumlah produksi dikalikan harga jual.

Mayoritas responden berada pada usia produktif. Sebanyak 21 petani atau 70 persen berusia 34–55 tahun. Dari sisi pengalaman, 80 persen responden telah bertani lebih dari 15 tahun. Namun, skala usaha mereka relatif kecil: 53 persen mengolah lahan kurang dari 0,5 hektare.

Produksi petani pengguna Tol Laut lebih tinggi

Perbedaan paling mencolok terlihat pada volume produksi bulanan. Petani yang menggunakan Tol Laut menghasilkan rata-rata 2.260,95 kilogram labu siam per bulan. Sementara itu, rata-rata produksi petani yang tidak menggunakan Tol Laut hanya 1.404,44 kilogram per bulan.

Pada kelompok pengguna Tol Laut, produksi minimum tercatat 2.040 kilogram dan maksimum 2.400 kilogram per bulan. Pada kelompok nonpengguna, produksi minimum 480 kilogram dan maksimum 2.240 kilogram per bulan.

Menurut Waode Maya E, Agus I. Sumule, dan Agatha W. Widati dari Universitas Papua, akses pasar yang lebih luas memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi karena produk dapat dipasarkan ke luar daerah. Peneliti juga mencatat bahwa perbedaan produksi tidak semata-mata disebabkan distribusi. Luas lahan turut berperan. Rata-rata lahan petani pengguna Tol Laut mencapai 0,46 hektare, sedangkan kelompok nonpengguna 0,38 hektare.

Pendapatan rata-rata berbeda lebih dari Rp5 juta per bulan

Perbedaan produksi tersebut berjalan searah dengan perbedaan penerimaan rumah tangga petani.

Petani yang menggunakan Tol Laut mencatat penerimaan rata-rata Rp16.619.048 per bulan. Sementara petani yang tidak menggunakan Tol Laut memperoleh rata-rata Rp11.235.556 per bulan. Selisihnya sekitar 32,4 persen berdasarkan perhitungan yang dilaporkan dalam artikel jurnal.

Menariknya, harga jual kepada pedagang pengumpul di luar daerah justru lebih rendah, yakni sekitar Rp6.000–Rp7.000 per kilogram. Di pasar lokal, harga dapat mencapai Rp8.000 per kilogram. Meski demikian, petani tetap memilih menjual melalui jaringan yang memanfaatkan Tol Laut karena volume produk yang dapat terserap pasar lebih besar.

Temuan ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak hanya ditentukan oleh harga per kilogram. Kemampuan menjual dalam jumlah lebih besar dan menjangkau pasar yang lebih luas juga menjadi faktor penting.

Implikasi bagi petani dan kebijakan distribusi

Bagi petani kecil, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akses pasar dapat menjadi sama pentingnya dengan peningkatan produksi di lahan. Bahkan ketika sebagian besar petani mengelola lahan kurang dari 0,5 hektare, akses distribusi antardaerah tetap membuka peluang untuk meningkatkan penerimaan.

Bagi pemerintah, peneliti merekomendasikan penguatan dukungan terhadap distribusi dan akses informasi pasar. Kebijakan tersebut penting agar fasilitas Tol Laut tidak hanya tersedia sebagai infrastruktur transportasi, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh petani untuk memperluas pemasaran produk pertanian.

Namun, hasil penelitian ini perlu dibaca sesuai cakupannya. Studi dilakukan terhadap 30 rumah tangga petani di dua distrik di Fakfak dan menggunakan analisis deskriptif. Karena itu, temuan menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok pengguna dan nonpengguna Tol Laut, tetapi artikel tidak melaporkan analisis statistik yang secara khusus membuktikan bahwa Tol Laut merupakan satu-satunya penyebab perbedaan pendapatan tersebut.

Profil penulis

Waode Maya E — Universitas Papua. Penulis pertama artikel dan peneliti pada kajian ekonomi serta usaha tani dalam konteks penelitian ini.

Agus I. Sumule — Universitas Papua. Penulis kedua artikel yang mengkaji perbandingan pendapatan rumah tangga petani dalam pemanfaatan distribusi Tol Laut.

Agatha W. Widati — Universitas Papua. Penulis ketiga sekaligus corresponding author artikel.

Sumber penelitian

Judul: Household Income of Chayote Farmers in Fakfak Regency (Case: Utilizing and Not Utilizing the Sea Toll)

Penulis: Waode Maya E, Agus I. Sumule, Agatha W. Widati

Afiliasi: Universitas Papua

Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)

Volume: 4, Nomor 7

Tahun: 2026

Halaman: 497–506

DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i7.185

 


Posting Komentar

0 Komentar