Pola Pemukiman Suku Levo Lamalera di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - NTT - Tradisi Perburuan Paus Membentuk Pola Pemukiman Pesisir Unik di Kampung Levo Lamalera Nusa Tenggara Timur. Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Wiras Hardy bersama Aplimon Jerobisonif, Debri Andries Amabi, Thomas Kurniawan Dima, dan Theodora Murni Cintya Tualaka dari Universitas Nusa Cendana, dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa tatanan fisik Kampung Levo Lamalera bukanlah susunan rumah yang kebetulan, melainkan sistem tata ruang vernacular terstruktur yang memadukan hirarki sosial, jalur ritual adat, dan ruang aktivitas bahari di sekitar pohon beringin pusat yang disebut Pohon Gudi.

Latar Belakang dan Konteks Wilayah
Di tengah laju modernisasi dan pembangunan pesisir di Indonesia, pemukiman tradisional sering kali menghadapi tantangan pelestarian identitas budaya. Arsitektur vernakular yaitu praktik membangun berbasis pengetahuan lokal, tradisi, dan bahan alam tanpa keterlibatan arsitek formal menjadi benteng utama dalam mempertahankan karakter lanskap budayaKampung Levo Lamalera, yang secara administratif terdaftar sebagai Desa Lamalera B di Kecamatan Wulandoni, terletak di antara dua tanjung utama, yaitu Tanjung Vovolatu dan Tanjung Nubivutun. Studi terdahulu mengenai Lamalera sebagian besar menyoroti aspek sosial-budaya dan aktivitas perburuan paus. Namun, keterkaitannya dengan struktur ruang tata bangunan belum terpetakan secara terperinci dari kacamata arsitektur vernakular. Pemahaman terhadap morfologi pemukiman pesisir ini krusial sebagai pijakan konservasi warisan budaya dan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang ramah kearifan lokal.

Metodologi Penelitian Sederhana
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk memahami secara mendalam struktur ruang dan makna tradisi masyarakat setempat. Pengumpulan data lapangan dilaksanakan melalui beberapa langkah utama:
Wawancara Mendalam: Peneliti mewawancarai 10 hingga 15 informan kunci yang terdiri dari tokoh adat, tetua kampung, dan warga senior.
Observasi Lapangan dan Dokumentasi: Tim memetakan fasilitas umum, pemukiman, jalur sirkulasi, serta mengambil foto dan denah spatial.
Analisis Tematik: Data kualitatif dikodekan secara sistematis menggunakan bantuan perangkat lunak NVivo 14 dan pengorganisasian data di Microsoft Excel.
Triangulasi Data: Peneliti membandingkan hasil wawancara, pengamatan langsung, dan literatur pendukung untuk memastikan keakuratan analisis.

Temuan Utama Penelitian
Hasil studi mengidentifikasi bahwa tata ruang Kampung Levo Lamalera terbagi ke dalam empat zona utama serta diatur oleh dua poros spasial bersilangan:
  • Dua Poros Spasial dan Pusat Desa Pohon Gudi: Pemukiman diikat oleh poros desa berarah timur-barat berupa jalan utama (Laro Pelo) yang sejajar dengan garis pantai, serta poros ritual berarah utara-selatan (Mei Larang atau Jalan Darah). Poros ritual menghubungkan rumah adat pemangku tanah di perbukitan langsung ke pantai tempat upacara laut. Titik persilangan kedua poros ini ditandai oleh Pohon Gudi (Ficus benjamina), sebuah pohon beringin yang berfungsi sebagai pusat ruang publik dan simpul ritual kampung.
  • Zona Rumah Besar (Langu Bela): Terdapat 19 Rumah Besar milik klan suku di Levo Lamalera. Lahan tempat berdirinya rumah-rumah ini dulunya diserahkan oleh pemilik tanah adat, sehingga keberadaannya menjadi simbol ikatan sosial dan struktur kekerabatan.
  • Zona Rumah Peledang (Naja): Di sepanjang garis pantai, berdiri 36 bangunan penyimpanan perahu kayu tradisional perburu paus yang disebut peledang. Deretan naja ini membentuk benteng visual dan fungsional yang memisahkan area laut dari kawasan hunian warga.
  • Zona Rumah Nelayan: Rumah-rumah tinggal warga berada di belakang zona naja dan menyebar di sekitar Rumah Besar. Hunian yang berada dekat pantai memiliki teras belakang yang menghadap ke laut agar warga dapat memantau aktivitas maritim secara langsung.
  • Fasilitas Publik dan Keagamaan: Tata ruang kampung juga mencakup kapela di area pantai tempat nelayan berdoa sebelum melaut, menara pengamat di ketinggian untuk memantau kemunculan paus (baleo), dan gapura adat pantai yang terbuat dari tulang paus.
Implikasi dan Dampak Nyata

Penelitian yang dilakukan akademisi Universitas Nusa Cendana ini memberikan kontribusi nyata bagi perencanaan wilayah, konservasi cagar budaya, dan pengembangan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Informasi spasial mengenai batas zona adat, jalur ritual, dan persebaran rumah klan membantu pemerintah daerah merancang kebijakan pembangunan infrastruktur tanpa merusak situs sakral kampung. Penataan pariwisata budaya di Lamalera kini dapat diarahkan untuk menghormati norma lokal, seperti menjaga keheningan di sekitar jalur ritual Mei Larang dan melestarikan arsitektur asli rumah peledang.

Profil Penulis
I Gusti Ngurah Wiras Hardy, M.Ars. – Peneliti Utama dan Dosen Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana. Berkeahlian di bidang arsitektur vernakular, morfologi ruang, dan lanskap budaya.
Aplimon Jerobisonif, S.T., M.T. – Anggota Peneliti dan Dosen Arsitektur, Universitas Nusa Cendana. Berfokus pada perancangan pemukiman pesisir dan tata ruang.
Debri Andries Amabi, S.T., M.T. – Anggota Peneliti dan Dosen Arsitektur, Universitas Nusa Cendana. Berkeahlian dalam struktur dan warisan arsitektur.
Thomas Kurniawan Dima, S.T., M.T. – Anggota Peneliti dan Peneliti Akademik, Universitas Nusa Cendana. Berfokus pada arsitektur lingkungan dan pemukiman tradisional.
Theodora Murni Cintya Tualaka, S.T., M.T. – Anggota Peneliti dan Peneliti Arsitektur, Universitas Nusa Cendana. Berkeahlian dalam pemetaan pemukiman dan arsitektur sosial.

Sumber Penelitian
I Gusti Ngurah Wiras Hardy, Aplimon Jerobisonif, Debri Andries Amabi, Thomas Kurniawan Dima, Theodora Murni Cintya Tualaka. Settlement Pattern of Levo Lamalera in Lembata Regency, East Nusa Tenggara. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 7 2026, Halaman 1585–1604
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i7.86
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar