Perubahan Iklim Menekan Sumber Air Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir Flores Selatan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan ketersediaan air. Wilayah ini bergantung pada curah hujan musiman dan air tanah dangkal, sementara sumber air permukaan relatif terbatas dan berubah sepanjang tahun.
Perubahan pola hujan dan meningkatnya periode kering dapat mengurangi pengisian kembali air tanah. Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks di wilayah pesisir karena penurunan muka air tanah dapat memperbesar risiko intrusi air laut, yaitu masuknya air asin ke dalam akuifer air tawar.
Akibatnya, persoalan air tidak hanya berkaitan dengan jumlah air yang tersedia, tetapi juga kualitas air. Sumber air yang masih tersedia pada musim kemarau dapat mengalami peningkatan kadar garam sehingga semakin sulit digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Valentinus Tan dari Universitas Flores menempatkan persoalan tersebut sebagai persoalan yang mencakup tiga aspek sekaligus, yaitu kuantitas air, kualitas air, dan tata kelola masyarakat. Karena itu, pembangunan infrastruktur saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan pola ketersediaan air akibat perubahan iklim.
Penelitian Melibatkan 120 Rumah Tangga
Penelitian Valentinus Tan menggunakan pendekatan gabungan yang mengombinasikan pengukuran kondisi air dengan informasi mengenai cara masyarakat beradaptasi.
Penelitian dilakukan di empat desa pesisir di Flores Selatan dengan melibatkan 120 rumah tangga. Desa-desa tersebut dipilih karena memiliki ketergantungan terhadap air tanah dangkal, keterbatasan sumber air permukaan, dan risiko intrusi air laut.
Data yang dianalisis mencakup curah hujan harian selama 2013–2023, perubahan muka air tanah, tingkat salinitas sumur dangkal dengan kedalaman 5–15 meter, serta distribusi air baku kepada rumah tangga selama musim kemarau.
Tan juga melakukan survei dan wawancara dengan kepala keluarga, pengelola air desa, serta tokoh masyarakat. Informasi tersebut digunakan untuk mengetahui strategi yang digunakan masyarakat ketika menghadapi kekurangan air dan faktor sosial yang menentukan keberhasilan strategi tersebut.
Ketersediaan Air Musim Kemarau Turun 28,9 Persen
Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan nyata pada pola ketersediaan air di pesisir Flores Selatan selama periode pengamatan.
Ketersediaan air baku rata-rata pada musim kemarau turun dari sekitar 2.000 meter kubik per bulan menjadi 1.422 meter kubik per bulan.
Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar 578 meter kubik per bulan atau 28,9 persen dibandingkan kondisi dasar. Penurunan tersebut terutama terlihat pada periode yang berkaitan dengan kejadian El Niño sedang hingga kuat.
Perubahan tersebut berdampak langsung terhadap distribusi air rumah tangga. Ketersediaan air yang sebelumnya dapat memenuhi kebutuhan sepanjang tahun menjadi lebih tidak stabil dan terputus pada bulan-bulan kering.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat yang bergantung pada hujan musiman dan air tanah dangkal menjadi semakin rentan ketika periode kemarau berlangsung lebih panjang atau ketika terjadi anomali iklim.
Salinitas Air Tanah Mencapai 1.430 mg/L
Penurunan jumlah air bukan satu-satunya persoalan. Penelitian juga menemukan adanya penurunan kualitas air tanah di kawasan pesisir.
Pada sumur yang berada kurang dari 500 meter dari garis pantai, salinitas air tanah meningkat dari kisaran 700–900 mg/L menjadi 1.200–1.430 mg/L pada puncak musim kemarau.
Rata-rata salinitas tercatat mencapai 1.430 mg/L, dibandingkan sekitar 820 mg/L pada kondisi normal. Artinya, terjadi peningkatan sekitar 610 mg/L. Dalam penelitian tersebut, kadar salinitas di atas 1.000 mg/L menjadi indikator kuat adanya intrusi air laut dan menurunnya kelayakan air untuk kebutuhan domestik.
Sumur rumah tangga dengan kedalaman kurang dari 10 meter menjadi sumber yang paling rentan terhadap penurunan kualitas air.
Penurunan muka air tanah selama musim kemarau yang panjang dapat mengurangi tekanan air tawar yang biasanya menahan masuknya air laut ke dalam akuifer. Kondisi tersebut meningkatkan risiko salinisasi sumber air masyarakat pesisir.
Kombinasi Strategi Adaptasi Kurangi Kekurangan Air
Tidak semua rumah tangga mengalami dampak perubahan iklim dengan tingkat yang sama.
Rumah tangga yang hanya mengandalkan satu sumber air, terutama sumur individu, mengalami sekitar 18–25 hari kekurangan air setiap bulan pada puncak musim kemarau.
Sebaliknya, rumah tangga yang memiliki lebih dari satu sumber air, misalnya mengombinasikan sumur bersama dengan pemanenan air hujan, memiliki tingkat kerentanan yang lebih rendah.
Perbandingan dua kelompok rumah tangga menunjukkan:
- Tidak memiliki adaptasi terpadu atau hanya menggunakan 0–1 strategi: 60 rumah tangga dengan rata-rata 20,3 hari kekurangan air per bulan.
- Menggunakan adaptasi terpadu dengan minimal dua strategi: 60 rumah tangga dengan rata-rata 15,3 hari kekurangan air per bulan.
- Adaptasi terpadu menurunkan hari kekurangan air sebesar 24,6 persen, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0,05).
Strategi yang paling banyak digunakan masyarakat adalah pengaturan distribusi air secara bergiliran, pemanenan air hujan, penggunaan sumur bersama, dan penyediaan reservoir air komunal.
Sebanyak 60 persen rumah tangga menggunakan pemanenan air hujan, sementara 65 persen mengikuti sistem distribusi air secara bergiliran. Penggunaan sumur bersama mencapai 45 persen, sedangkan 40 persen menggunakan reservoir air komunal. Sebanyak 50 persen rumah tangga menerapkan sedikitnya dua strategi adaptasi sekaligus.
Kekuatan Masyarakat Menentukan Keberhasilan Adaptasi
Temuan Valentinus Tan dari Universitas Flores menunjukkan bahwa keberhasilan adaptasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sarana fisik.
Desa yang memiliki kepemimpinan lokal aktif, aturan distribusi air yang jelas, dan tingkat kepercayaan sosial yang kuat lebih mampu mengurangi konflik serta menjaga sistem pembagian air secara bergiliran.
Sebaliknya, koordinasi kelembagaan yang lemah membuat infrastruktur lebih sulit dipelihara dan dapat memicu ketegangan ketika persediaan air semakin terbatas.
Wawancara juga menunjukkan adanya dampak sosial yang perlu diperhatikan. Salah satu tokoh masyarakat di Desa D menyampaikan bahwa perempuan sering menanggung beban tambahan dalam mencari air, sementara sistem distribusi yang ada belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan rumah tangga. Penelitian juga menemukan bahwa keterlibatan generasi muda dalam pengawasan distribusi air dapat meningkatkan partisipasi mereka.
Implikasi bagi Kebijakan Pengelolaan Air
Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dalam pengelolaan air di wilayah pesisir.
Pemerintah daerah dan pengelola sumber daya air dapat menggabungkan pemanenan air hujan, diversifikasi sumber air, pemantauan muka air tanah dan salinitas, pengendalian intrusi air laut, serta sistem distribusi berbasis masyarakat.
Menurut Valentinus Tan dari Universitas Flores, ketahanan distribusi air baku tidak hanya ditentukan oleh kondisi hidrologis, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat beradaptasi dan kekuatan tata kelola lokal. Karena itu, kebijakan pengelolaan air perlu mengintegrasikan pemantauan kondisi lingkungan dengan penguatan kelembagaan masyarakat.
Pendekatan tersebut berpotensi diterapkan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil lain yang menghadapi persoalan serupa. Namun, Tan merekomendasikan penelitian lanjutan dengan pengamatan jangka panjang, pemodelan hidrogeologi, proyeksi iklim, serta perbandingan dengan wilayah pesisir lain di Indonesia Timur untuk menguji keberlakuan temuan secara lebih luas.
Profil Penulis
Valentinus Tan merupakan peneliti dari Fakultas Teknik, Universitas Flores, Indonesia. Bidang yang dikaji dalam artikel ini meliputi adaptasi perubahan iklim, sumber daya air baku, pengelolaan air pesisir, intrusi air laut, dan adaptasi berbasis masyarakat. Valentinus Tan juga tercatat sebagai penulis korespondensi artikel.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik Valentinus Tan, sehingga informasi gelar tidak ditambahkan untuk menjaga ketepatan fakta.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Community Adaptation Models to Changes in Raw Water Distribution Patterns due to Climate Change in Coastal Areas of South Flores
Penulis: Valentinus Tan
Afiliasi: Fakultas Teknik, Universitas Flores, Indonesia
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Tahun: 2026
Volume: 4, Nomor 2, halaman 105–118
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i2.12
URL: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo
0 Komentar